Arby Rahmat
Berbekal Ilmu Hubungan Internasional dari Universitas Katolik Parahyangan Bandung, laki-laki bertinggi badan 192 sentimeter ini mulai terjun ke dunia jurnalis bersama CNNIndonesia.com sejak 2014.

MU dan Kata-kata Sakti Bill Shankly

Arby Rahmat, CNN Indonesia | Kamis, 08/02/2018 20:30 WIB
MU dan Kata-kata Sakti Bill Shankly Manchester United tertinggal 13 poin dari Manchester City di puncak klasemen Liga Primer Inggris. (Action Images via Reuters/Carl Recine)
Jakarta, CNN Indonesia -- Miris melihat Manchester United dalam peringkat klasemen sementara Liga Premier Inggris saat ini. Si Setan Merah berada di peringkat kedua dengan perolehan 56 poin.

Awalnya, saya berpikir itu bukan peringkat yang buruk. Menjadi nomor dua setelah Manchester City yang berada di puncak dengan perolehan 69 poin. Tapi, tidak bagi penggemar MU. Hal itu kemudian mengubah persepsi saya tentang klub yang bermarkas di Old Trafford tersebut.

Salah satu sahabat saya yang fanatik dengan MU berpendapat peringkat The Red Devils di posisi kedua adalah salah besar. Dia mengatakan paradigma peringkat kedua merupakan peringkat yang tidak begitu buruk, dan lebih pantas disematkan untuk pendukung Arsenal dan Liverpool.


Pendapatnya cukup beralasan. "Ini MU, the biggest brand in football worldwide. Coba, klub yang bisa dijadikan skripsi apa saja? MU dan Real Madrid, sudah. Global brand, gila enggak?" kata teman saya.
Bill Shankly mengeluarkan pernyataan yang menganggap finis posisi kedua tidak ada artinya.Bill Shankly mengeluarkan pernyataan yang menganggap finis posisi kedua tidak ada artinya. (AFP PHOTO/PAUL ELLIS)
Dan saya setuju. Saya jadi teringat kutipan manajer legendaris Liverpool, Bill Shankly. Dalam sebuah kesempatan, Shankly pernah mengatakan, "If you are first, you are first. If you are second, you are nothing."

Dengan kondisi MU yang seperti ini, saya yakin kutipan tersebut akan menjadi sebuah suntikan motivasi bagi pemain, ofisial, atau suporter, yang mengingatnya. Rasanya tentu seperti dipanah tepat ke arah jantung. Menyakitkan.

Semua penggemar tidak memungkiri MU adalah tim besar. Terutama pasca 1990-an atau setelah Sir Alex Ferguson mempersembahkan 13 trofi Liga Primer Inggris dan dua gelar trofi Liga Champions.

Sekarang, performa MU tak lepas dari peran sang manajer Jose Mourinho. Meski MU sudah dipenuhi sejumlah pemain bintang seperti David de Gea, Romelu Lukaku, Paul Pogba dan Alexis Sanchez, tampaknya belum cukup mendongkrak performa tim.
Jose Mourinho sudah habiskan triliunan rupiah untuk membeli pemain di MU.Jose Mourinho sudah habiskan triliunan rupiah untuk membeli pemain di MU. (REUTERS/Eddie Keogh)
Sesungguhnya MU tim yang kuat di semua lini, dengan manajer terbaik di dunia jika dilihat berdasarkan rekapitulasi gelar. Semua tim yang memilih Mourinho sebagai manajer, adalah tim yang ingin juara secara instan.

Sejak melatih FC Porto, Mourinho butuh setidaknya dua musim untuk mempersembahkan gelar liga. Hal itu yang dilakukannya bersama Porto, Chelsea dua kali, Inter Milan dan Real Madrid. Cukup fantastis bukan?

Mungkin para fan MU kecewa dengan timnya yang saat ini tidak seperti era Ferguson dahulu. Namun, hal ini seharusnya tidak boleh menjadi alasan lantaran setiap manajer setelah Ferguson, memiliki karakteristik kepelatihan yang berbeda. Kecuali, gaya main sepak bola Ferguson dijadikan pedoman untuk MU.

Dulu MU mengandalkan permainan yang cepat serta ofensif/direct. Ferguson itu ya demikian. Dia tidak suka permainan yang banyak mengoper melainkan terus menyerang. Maka dari itu, salah satu nyanyian yang dilantunkan pendukung MU ketika ketinggalan itu hanya satu kata diulang tiga kali: attack, attack, attack! Bisa Anda bayangkan kata tersebut diteriaki puluhan ribu suporter di Old Trafford.
Jose Mourinho merupakan jaminan sukses instan bagi sebuah klub.Jose Mourinho merupakan jaminan sukses instan bagi sebuah klub. (REUTERS/Phil Noble)
Dengan jarak 13 poin dalam klasemen sementara, sulit bagi MU untuk mengejar Manchester City. The Citizens kalah empat kali pun MU masih belum bisa memuncaki klasemen. Ini menyedihkan bagi fan MU. Kenapa bisa begini?

Salah satu alasannya mungkin Mourinho ketika berhadapan dengan tim enam besar dalam klasemen saat ini seperti Manchester City, Liverpool, Chelsea, Tottenham Hotspur, dan Arsenal, cenderung bermain aman. Pokoknya asalkan tidak kalah. Kalau menang bagus, seri tidak apa-apa. Yang penting tidak kalah.

Akan tetapi, konsekuensi dari preferensi manajerial seperti itu, adalah Anda harusnya menang di pertandingan melawan tim yang di atas kertas harusnya bisa diatasi. Kenyataannya, kehilangan enam poin setelah ditahan imbang Leicester City, Burnley, dan Southampton secara beruntun.

Lantas, apakah Mou dapat merespons kutipan Bill Shankly dan membawa MU juara di musim keduanya menjadi manajer? Kita doakan saja. (har)
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS