Dari Rp7,5 miliar subsidi yang dijanjikan LIB, baru Rp5 miliar yang didapat para klub. Sisanya, Rp2,5 miliar akan dicicil LIB melalui tiga termin pembayaran yang dimulai sejak akhir Desember lalu dan berakhir pada akhir Januari 2018. Namun nyatanya, hingga pertengahan Februari 2018, LIB belum juga melunasi pembayaran subsidi tahap kedua dan ketiga.
Bhayangkara FC melawan Persija Jakarta di Liga 1 2017. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono) |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mereka bilangnya, 'nanti kalau sudah [siap bayar] akan dihubungi'," kata Sekretaris klub Sriwijaya FC, Muhammad Haris kepada CNNIndonesia.com, Jumat (9/2).
Sebelumnya, di kompetisi Indonesia Soccer Championship [ISC] 2016 pun terjadi hal yang sama. Bahkan, Haris menyebut sampai saat ini operator GTS [Gelora Trisula Semesta] masih berutang Rp1 miliar kepada klub peserta.
Kehadiran Ketua Umum PSSI yang baru, Edy Rahmayadi yang diharapkan mampu membawa angin segar buat dunia persepakbolaan Indonesia pun dianggap hanya ilusi. Sampai saat ini, kesalahan serupa seperti penunggakan biaya subsidi ke klub masih terjadi.
"Kompetisi kemarin bisa jalan karena menghormati beliau [Ketum PSSI] karena beliau menengahi, bilang 'biar kompetisinya jalan dulu, yang lain nanti saya yang urus'. Mana janjinya?" tanya Haris menagih janji.
"Sekarang bagaimana, kami mau nagih tapi orang yang kami tagih tidak punya uang. Jadi percuma. Tapi kami jadi bingung juga. Paling kami cuma bisa bilang, sabar ini ujian." (bac/jun)
Bhayangkara FC melawan Persija Jakarta di Liga 1 2017. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)