Eko Yuli Pasrah Jika Harus Jadi Penonton di Asian Games 2018
Titi Fajriyah | CNN Indonesia
Jumat, 23 Feb 2018 14:41 WIB
Jakarta, CNN Indonesia -- Lifter andalan Indonesia, Eko Yuli Irawan pasrah jika batal tampil di Asian Games 2018, Agustus mendatang. Itu diungkapkan Eko seiring dihapusnya kelas 62kg dari gelaran Asian Games 2018 oleh AWF (Asia Weightlifting Federation).
Eko mengatakan saat ini belum bisa berpikir panjang soal penampilannya di Asian Games nanti. Ia hanya berusaha untuk menjalani apa yang bisa dilakukannya dengan sebaik mungkin.
"Ya mudah-mudahan ada titik terang buat kelas 62kg. Kalau dicoret kelasnya, kalau bisa bersaing ya saya turun di kelas 69kg. Kalau tidak bisa bersaing, paling jadi penonton," kata Eko melalui pesan singkat kepada CNNIndonesia.com, Jumat (24/2).
Eko saat ini tengah dirawat di Rumah Sakit Hermina Galaxy, Bekasi sejak, Senin (19/2). Ia mengalami sakit typus yang membuatnya harus mendapatkan penanganan intensif dari dokter.
Sementara itu, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) terus berupaya agar keputusan AWF menghapus kelas 62kg cabang angkat besi ditangguhkan. Salah satunya dengan mengirimkan surat resmi kepada Dewan Olimpiade Asia (OCA) untuk menolak keputusan AWF yang ditujukan langsung kepada Presiden OCA, Sheikh Ahmad Al-Fahad Al-Sabah, Kamis (22/2).
Alasan Imam menolak keputusan AWF cukup meyakinkan, yakni pada saat Coordination Committee Meeting (Corcom) terakhir, 14 Januari 2018 tidak membahas hal yang berkaitan dengan penambahan atau pengurangan nomor pertandingan di Asian Games 2018.
"Kami akan sangat menghargai apabila Presiden OCA dapat mempertimbangkan untuk tetap memasukkan kelas 62kg di cabang olahraga angkat besi pada Asian Games 2018 nanti," kata Imam.
Kelas 62kg yang menjadi andalan Eko Yuli itu dihapus penyelenggaraannya oleh Komite Teknis dan Anggota Eksekutif AWF (Asia Weightlifting Federation) di Asian Games 2018. Surat penghapusan itu dikirimkan ke Director General IWF (International Weightlifting Federation), Attila Adamfi, 11 Februari.
Eko Yuli merupakan salah satu potensi penyumbang medali emas buat Indonesia di Asian Games 2018. Ia menjadi atlet yang tak pernah lepas menyumbangkan medali buat Indonesia di Olimpiade pada tiga edisi terakhir.
Lifter 28 tahun asal Lampung itu meraih perunggu di Olimpiade 2008 Beijing dan 2012 London serta medali perak di Rio de Janeiro, Brasil 2016 lalu.
Di level Asian Games, Eko pernah dua kali menyumbangkan medali perunggu; 2010 di Guangzhou, China, dan 2014 di Incheon, Korea Selatan.
Pada 2018 ini, peluang Eko untuk menyumbangkan medali emas buat Indonesia cukup besar. Pasalnya, dua negara dengan prestasi angkat besi terbaik di dunia, Kazakhstan dan China dipastikan absen karena atletnya terbukti doping. (ptr)
Eko mengatakan saat ini belum bisa berpikir panjang soal penampilannya di Asian Games nanti. Ia hanya berusaha untuk menjalani apa yang bisa dilakukannya dengan sebaik mungkin.
Lihat juga:Daftar Lengkap 24 Pebalap MotoGP 2018 |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) terus berupaya agar keputusan AWF menghapus kelas 62kg cabang angkat besi ditangguhkan. Salah satunya dengan mengirimkan surat resmi kepada Dewan Olimpiade Asia (OCA) untuk menolak keputusan AWF yang ditujukan langsung kepada Presiden OCA, Sheikh Ahmad Al-Fahad Al-Sabah, Kamis (22/2).
Eko Yuli mendapat medali perak di Olimpiade Rio De Janeiro pada 2016 lalu. (REUTERS/Yves Herman) |
Kelas 62kg yang menjadi andalan Eko Yuli itu dihapus penyelenggaraannya oleh Komite Teknis dan Anggota Eksekutif AWF (Asia Weightlifting Federation) di Asian Games 2018. Surat penghapusan itu dikirimkan ke Director General IWF (International Weightlifting Federation), Attila Adamfi, 11 Februari.
Menpora Imam Nahrawi akan meminta OCA untuk menolak keputusan AWF. (CNN Indonesia/Hesti Rika) |
Lifter 28 tahun asal Lampung itu meraih perunggu di Olimpiade 2008 Beijing dan 2012 London serta medali perak di Rio de Janeiro, Brasil 2016 lalu.
Pada 2018 ini, peluang Eko untuk menyumbangkan medali emas buat Indonesia cukup besar. Pasalnya, dua negara dengan prestasi angkat besi terbaik di dunia, Kazakhstan dan China dipastikan absen karena atletnya terbukti doping. (ptr)
Eko Yuli mendapat medali perak di Olimpiade Rio De Janeiro pada 2016 lalu. (REUTERS/Yves Herman)
Menpora Imam Nahrawi akan meminta OCA untuk menolak keputusan AWF. (CNN Indonesia/Hesti Rika)