Wajah Rivaldy ketika ditemui CNNIndonesia.com sangat semringah. Bukan lantaran habis diwawancarai televisi karena video yang viral, tapi karena baru saja mendapatkan topi dan kaos kuning bertuliskan The Doctor dan nomor 46, yang merupakan nomor balap Valentino Rossi.
Baju yang dipakai Rivaldy pun tak kalah keren. Pamannya di Kupang membuatkannya baju khusus dengan foto Rivaldy bertuliskan DR|46 untuk dipakainya di sebuah program televisi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rivaldy bersama keluarganya ketika diundang ke Jakarta. (CNN Indonesia/Titi Fajriyah) |
Andi mengatakan saat usianya enam tahun pada 2015, Rivaldy pernah berdoa untuk kemenangan Rossi menjadi juara dunia MotoGP. Tak tanggung-tanggung, Rivaldy sampai tiga kali berdoa demi sang idola bisa jadi juara.
Rivaldy selalu sedih jika Valentino Rossi gagal menang. (CNN Indonesia/Titi Fajriyah) |
"Karena Rossi kalah, dia menangis. Dia tidak pernah mau terima kalau Rossi kalah. Dia suka diolok kalau Rossi kalah," jelas Andi.
Mengidolakan Rossi membuat Rivaldy selalu fokus menyaksikan balapan MotoGP. Termasuk gaya bicara Nick Harris, pria asal Inggris yang merupakan mantan komentator yang memandu jalannya balapan MotoGP. Dengan Bahasa Inggris seadanya, Rivaldy membuat orang terkesan dengan intonasi suara dan gaya menirukan Harris sebagai komentator.
Impian Rivaldy kini adalah bertemu langsung dengan Rossi. "Kalau ketemu Rossi mau ketawa, karena senang bisa bertemu. Kalau besar mau jadi pebalap seperti Rossi, tidak mau jadi komentator. Tidak apa-apa kalau jatuh," ucapnya lagi.
Sejak mengikuti MotoGP, Rivaldy mengaku tidak punya idola selain Rossi. Rivaldy mengaku tidak suka dengan pebalap lainnya.
Ketika ditanya apakah dia mengidolakan Marc Marquez, Rivaldy menjawab singkat, "tidak, payah". Rivaldy juga tidak menyukai Dani Pedrosa dan Andrea Iannone karena sering jatuh. (har)
Rivaldy bersama keluarganya ketika diundang ke Jakarta. (CNN Indonesia/Titi Fajriyah)
Rivaldy selalu sedih jika Valentino Rossi gagal menang. (CNN Indonesia/Titi Fajriyah)