Kejuaraan bulutangkis tertua di dunia, All England, menjadi pembuktian terkini Marcus dan Kevin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sebelum pertandingan, kami WA dulu kasih semangat. Saya dulu pernah main All England tiga kali tapi kalah melulu. Sekarang dia lebih hebat dari saya," lanjut mantan pebulutangkis peringkat tujuh dunia pada 1981 tersebut.
Kurniahu Gideon bangga dengan capaian sang anak yang berhasil menjuarai dua edisi All England. (CNN Indonesia/M. Arby Rahmat Putratama H) |
"Saya kasih tahu bahwa kalau lawan mereka [Boe/Mogensen] itu kalau angkat bola harus selalu siap. Karena mereka pasti nembak, menurunkan bola. Mesti banyak drive dan pressing, karena itu membuat mereka bingung," kata Kurniahu.
Marcus/Kevin mendapat sambutan di Bandara Soekarno Hatta, Selasa (20/3), setelah menjuarai All England 2018. (ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal) |
"Harapannya ya kejuaraan dunia, Olimpiade, masih panjang. Asian Games juga sebentar lagi. Jalan dia masih panjang, kalau bisa dia mencapai Olimpiade 2020," tambahnya.
Khusus untuk tahun 2018, Marcus dan Kevin sudah menjuarai tiga turnamen. Sebelum All England, pasangan yang berduet sejak 2015 itu sudah menjadi kampiun di Indonesia Masters dan India Terbuka pada Januari. (nva/bac)
Kurniahu Gideon bangga dengan capaian sang anak yang berhasil menjuarai dua edisi All England. (CNN Indonesia/M. Arby Rahmat Putratama H)
Marcus/Kevin mendapat sambutan di Bandara Soekarno Hatta, Selasa (20/3), setelah menjuarai All England 2018. (ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal)