Setidaknya beberapa catatan pada laga itu menunjukkan Los Blancos sangat familier dengan fase puncak turnamen kasta tertinggi antarklub Eropa tersebut.
Utamanya adalah peran Cristiano Ronaldo yang minim pada dua leg semifinal Liga Champions. CR7 memang kerap menjadi tumpuan El Real di laga-laga krusial. Namun, bukan berarti Madrid melulu mengandalkan pemain bintangnya itu untuk membantu mereka tampil lebih jauh hingga final.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Peran Cristiano Ronaldo seolah tak ikut hadir pada keberhasilan Real Madrid. (REUTERS/Michael Dalder) |
Pada leg kedua, Madrid juga mendapat tekanan besar dari Munchen tampil di depan pendukung mereka sendiri di Stadion Santiago Bernabeu.
Joshua Kimmich dua kali membuat Real Madrid tertekan dengan mencetak gol pembuka pada leg pertama dan kedua. (REUTERS/Michael Dalder) |
Munchen juga mampu menunjukkan dominasi permainan seperti pada leg pertama. Namun, Madrid kembali mendapat situasi yang membuat 'arah angin' berembus kepada mereka.
Blunder yang dilakukan Sven Ulrich dan Corentin Tolisson, menegaskan 'aroma keberuntungan' Madrid pada laga itu. Sang kiper gagal mengontrol sodoran back-pass rekan setimnya itu yang juga seharusnya tidak memberikan situasi sulit bagi Ulrich.
Peran Ronaldo juga kembali 'absen' pada kemenangan Madrid di leg kedua. Ia lagi-lagi tak bisa keluar dari kawalan ketat para pemain Madrid.
Sebagai gantinya, peran mencetak gol diambil Benzema yang mencetak dua gol kemenangan timnya. Padahal, performa pemain asal Perancis itu di Madrid bisa dibilang tidak cukup konsisten musim ini.
Total delapan kali penyelamatan krusial yang dilakukan penjaga gawang asal Kosta Rika itu.
Pertahanan Madrid pun sangat solid menghadapi gempuran-gempuran Munchen ketika skor sudah 2-2. Bek tengah Madrid, Sergio Ramos dan Raphael Varane juga tampil bagus menjaga pertahanan Los Blancos pada momen-momen krusial tersebut.
Madrid merupakan satu dari tiga klub elite yang mencatat rekor ke final tiga kali beruntun selain Juventus dan AC Milan sejak kompetisi itu bernama Liga Champions. Namun, Madrid lebih superior karena berhasil juara dua kali dari tiga final tersebut.
Los Merengues berpeluang kembali menorehkan sejarah dengan meraih trofi Liga Champions tiga kali beruntun setelah sebelumnya memecahkan rekor juara dua kali beruntun. (sry)
Peran Cristiano Ronaldo seolah tak ikut hadir pada keberhasilan Real Madrid. (REUTERS/Michael Dalder)
Joshua Kimmich dua kali membuat Real Madrid tertekan dengan mencetak gol pembuka pada leg pertama dan kedua. (REUTERS/Michael Dalder)