Ketua LADI Zaini Kadhafi Saragih mengatakan tes doping secara acak yang dilakukan pihaknya merupakan bagian dari pengawasan yang dilakukan supaya tidak ada atlet Indonesia yang positif doping di Asian Games 2018 mendatang. Sebab, menurut kode etik yang dikeluarkan Lembaga Anti Doping Dunia (WADA), LADI tidak diperbolehkan menyebut obat-obatan apa saja yang mengandung doping.
"Kami akan menggelar tes doping kepada atlet saat latihan. Nanti kami akan kelilig ke beberapa cabor, tapi itu sifatnya dadakan. Ya, kami tidak bisa kasih tahu cabor mana saja yang akan kami tes."
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sosialisasi juga dibutuhkan karena berdasarkan pengalaman di Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016 lalu, jumlah atlet yang positif doping lebih banyak dari sebelumnya. Karena itu, LADI berharap lewat sosialisasi yang diikuti 40 cabor peserta Asian Games 2018, atlet yang terkena doping nantinya bisa dihindari.
LADI menggelar sosialisasi dan pengawasan doping untuk Asian Games 2018. (CNN Indonesia/Titi Fajriyah) |
"Yang dimaksud diakui itu adalah sistemnya, orang-orangnya. Bukan untuk pengecekan laboratoriumnya. Jadi, untuk pengecekannya tetap harus dilakukan di laboratorium yang diakreditasi WADA, ada di Thailand, India, Qatar, China, Jepang," jelas Zaini.
"Penentuan laboratorium yang akan digunakan nanti menunggu arahan INASGOC dan OCA (Dewan Olimpiade Asia). Kami hanya menyarankan laboratorium yang terakreditasi WADA," ujarnya. (bac/bac)

LADI menggelar sosialisasi dan pengawasan doping untuk Asian Games 2018. (CNN Indonesia/Titi Fajriyah)