Mei 1998, kerusuhan terjadi di ibu kota Jakarta dan beberapa daerah lain. Di saat yang sama, tim bulutangkis Indonesia sedang berjuang meraih gelar ke-11 dalam Piala Thomas 1998 di Hong Kong.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di luar rusuh, kami disuruh tetap berada di asrama ketika final Piala Thomas. Kami nonton di TV, Indonesia juara, bangga rasanya. Istilahnya di luar ribut, di dalam juara. Jadi bisa mendinginkan suasana lah," lanjut mantan partner Markis Kido itu.
Hendra Setiawan masih menjadi salah satu pebulutangkis andalan Indonesia. (Dok. Humas PBSI) |
Sementara Tim Uber Indonesia saat itu gagal meraih gelar juara. Mereka kalah dari China dalam partai final dengan skor 1-4 pada 23 Mei 1998. Kemenangan satu-satunya Tim Uber Indonesia diraih pasangan ganda putri Eliza Nathanael/Deyana Lomban.
Kerusuhan Mei 1998 juga identik dengan kerusuhan rasial etnis Tionghoa. Banyak toko dan perusahaan diamuk massa, terutama milik warga Indonesia keturunan Tionghoa.
Sebagai keturunan Tionghoa, Hendra juga sempat mendapat peringatan dari orang tuanya tentang kondisi yang terjadi saat itu.
Hendra kini menjabat sebagai kapten tim Piala Thomas Indonesia 2018 yang berlaga di Bangkok, Thailand. (nva/har)
Hendra Setiawan masih menjadi salah satu pebulutangkis andalan Indonesia. (Dok. Humas PBSI)