Analisis

Jogo Bonito Brasil yang Kembali Mematikan

Ahmad Bachrain, CNN Indonesia | Selasa, 03/07/2018 00:25 WIB
Jogo Bonito Brasil yang Kembali Mematikan Jogo Bonito Brasil yang kembali kian mematikan. (REUTERS/David Gray)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tak perlu banyak gol, timnas Brasil cukup menang 2-0 atas Meksiko untuk memuluskan langkah mereka ke perempat final Piala Dunia 2018.

Adalah gol Neymar dan Roberto Firmino yang memenangkan Selecao dua gol tanpa balas pada laga babak 16 besar di Stadion Samara, Selasa (2/7).

Bukan sekadar kemenangan, permainan Brasil pun cukup menghibur dengan khas mereka ala Jogo Bonito atau permainan indah di lapangan. Bukan pula hanya menampilkan permainan ciamik, sepak bola Jogo Bonito mereka juga kembali menjadi kian mematikan.


Pasalnya, Brasil juga bermain cukup efektif memutus upaya serangan Meksiko yang pada laga-laga sebelumnya sangat spesial dalam transisi permainan menyerang. El Tri memang sempat merepotkan para pemain Brasil di babak pertama.

Jogo Bonito Brasil yang Kembali Mematikan
Meksiko memiliki serangan balik yang cukup berbahaya bagi Brasil, terutama dari kedua sisi sayap. Mereka memiliki para winger termasuk bek sayap yang sangat cepat.

El Tri pun tak lantas bermain tertutup lawan Brasil. Mereka juga bisa meladeni permainan-permainan Selecao secara terbuka serangan-serangan yang cukup sporadis.

Sejak awal, Meksiko memang mencoba menerapkan strategi menyerang dengan skema 4-3-3 menghadapi Brasil yang menggunakan pola 4-2-3-1. Permainan Meksiko pada babak pertama pun lebih mengalir.

Javier 'Chicharito' Hernandez dan kawan-kawan pun banyak memenangkan pertarungan di lini tengah dibandingkan tim arahan Tite pada babak pertama. Kendati demikian, penyelesaian akhir Meksiko masih terbilang lemah.

El Tri tampaknya tidak semewah Brasil yang memiliki banyak para 'penembak jitu' di depan gawang lawan. Terbukti dari tiga kali tembakan pemain Brasil tepat sasaran di babak pertama, namun bisa ditepis Guillermo Ochoa.

Timnas Brasil kembali tampil dengan permainan Jogo Bonito yang mulai mematikan. (Timnas Brasil kembali tampil dengan permainan Jogo Bonito yang mulai mematikan. (REUTERS/Dylan Martinez)
Tembakan Neymar pada menit kelima dan ke-25 masih mampu dimentahkan Ochoa. Begitu pula tendangan Gabriel Jesus, sukses ditepis kiper berambut kribo tersebut.

Penampilan Ochoa juga patut diacungi jempol. Ia melakukan sejumlah penyelamatan luar biasa. Termasuk pada awal-awal babak kedua ketika menepis tendangan keras Philippe Coutinho pada menit ke-48.

Brasil pun menunjukkan kelasnya sebagai tim favorit juara dengan menbobol gawang Ochoa pada menit ke-51. Mereka tak putus asa menembus pertahanan rapat Meksiko dengan kreativitas serangan yang mulai membuat pertahanan tim lawan kerepotan.

Proses gol pertama Brasil ke gawang Meksiko yang dicetak Neymar. (Proses gol pertama Brasil ke gawang Meksiko yang dicetak Neymar. (REUTERS/David Gray)
Kerja sama cantik antara Neymar dan Willian menjadi atraksi tersendiri kembalinya permainan 'Jogo Bonito' yang tak hanya indah, tapi juga mematikan.

Penyerang Paris Saint-Germain itu langsung merangsek ke depan gawang Ochoa usai memberikan umpan kepada Willian menggunakan tumitnya. Winger asal Chelsea tersebut langsung bergerak menusuk dari sisi kiri dan segera melepas umpan silang mendatar ke depan gawang lawan.

Gabriel Jesus gagal menyambut umpan Willian, namun masih ada Neymar di belakangnya dan segera menyambar bola diteruskan ke gawang Ochoa. Proses gol indah ketika Jogo Bonito Brasil kembali mematikan.

Tengok pula gol kedua Brasil yang dicetak Roberto Firmino pada menit ke-88, tercipta berkat serangan balik yang sangat apik.

Neymar mendapat umpan terobosan dari Fernandinho langsung melepas tembakan yang sempat diblok Ochoa menggunakan kakinya. Penyerang Liverpool yang berada di depan gawang pun menyodok bola pantulan tersebut bersarang ke gawang Meksiko.

Brasil sebenarnya bisa saja menang lebih dari dua gol atas Meksiko. Namun, ketangguhan Ochoa mampu meredam banyak tembakan Brasil sehingga setidaknya El Tri tak banyak kebobolan.

Penyelamatan terbaik Ochoa juga dilakukannya pada menit ke-63 dengan menepis tendangan kencang Willian pada menit ke-61.

Brasil benar-benar tampil solid di setiap lini mereka. Di sektor depan, para penyerang Negeri Samba itu mampu menghadirkan teror dengan 'tarian' Jogo Bonito mereka.

Di tengah, duet gelandang seperti Paulinho dan Casemiro, mampu meredam aliran-aliran bola para pemain lawan. Dua pemain itu juga yang membuat aliran-aliran umpan Meksiko mulai macet di babak kedua.

Lini pertahanan Brasil pun termasuk yang paling solid di antara para kontestan Piala Dunia 2018. Selecao baru sekali kebobolan sejak fase grup hingga 16 besar ini. Catatan itu hanya disamai Uruguay.

Selecao juga seolah tak mau terlalu ngotot untuk mementingkan penguasaan bola di lapangan. Mereka mulai berpikir lebih pragmatis dengan memanfaatkan semua situasi, termasuk dari serangan balik.

Contohnya lagi ketika Meksiko lebih mendominasi permainan sejak babak pertama. Brasil lebih ingin menjaga kesolidan dalam bertahan ketika El Tri mencoba merebut penguasaan bola.

Roberto Firmino mencetak gol kedua Brasil ke gawang Meksiko. (Roberto Firmino mencetak gol kedua Brasil ke gawang Meksiko. (Foto: REUTERS/Michael Dalder)
Jogo Bonito memang sudah mendarah daging bagi Brasileiro, namun mereka juga sadar tetap butuh cara apapun untuk meraih kemenangan. Salah satu caranya tentu dengan permainan efektif.

Efektivitas mereka pun terlihat dari 10 tembakan on-target dan dua di antaranya menjadi gol serta delapan lagi mampu diamankan Ochoa. Bandingkan dengam Meksiko yang hanya memiliki satu saja tendangan yang tepat ke gawang Allison Becker.

Padahal, Meksiko lebih unggul penguasaan bola yakni 54 persen berbanding 46 persen atas Brasil.

Yang sedikit melegakan, Neymar tak lagi terlalu ngotot untuk pamer individu di lapangan. Seambisius mantan penyerang Barcelona itu untuk mencetak gol, ia sadar betul bola tetap harus dioper terlebih dahulu ke rekan-rekannya sebelum kembali kepadanya.

Gol pertama Brasil yang dicetak Neymar menjadi bukti sahih kebutuhan pemain itu untuk bermain lebih kolektif ketimbang menampilkan kemampuan-kemampuan individunya. (bac/har)