"Pastinya saya bangga dengan dukungan yang kami terima. Para pendukung kami sudah lama menderita dalam konteks sepak bola," ujarnya, dalam konferensi pers sebelum pertandingan, dikutip dari AS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pelatih timnas Inggris Gareth Southgate merayakan kemenangan atas Swedia. (REUTERS/Dylan Martinez) |
Demam lagu yang sama pun merambah media sosial melalui tagar #itscominghome, baik itu dari warga negara Inggris ataupun mereka yang mendukung timnas Inggris dari berbagai negara.
Para suporter larut dalam euforia kemenangan Inggris atas Swedia, di Flat Iron Square, London, 7 Juli. (REUTERS/Henry Nicholls) |
"Thirty years of hurt, never stopped me dreaming. So many jokes, so many sneers, but all those oh so nears," demikian penggalan lirik lagunya.
[Gambas:Twitter]
"Lagu itu tak bisa saya dengar selama 20 tahun. Ada perasaan yang sedikit berbeda kali ini, dan saya senang melihat orang-orang menikmatinya sedikit berbeda," aku Southgate.
Maklum, dia menjadi satu-satunya penendang yang gagal dalam adu penalti melawan Jerman di babak semifinal Piala Eropa 1996. Inggris pun gagal ke final. Padahal, saat itu demam "football is coming home" tengah melanda. Dia pun mengaku sempat trauma.
[Gambas:Twitter]
"Terkadang Anda harus melalui masa-masa sulit dan kegagalan untuk bisa belajar dan mengembangkan diri," ucapnya.
Sepak bola sendiri merupakan olahraga yang disebut berasal dari Inggris. Namun, Negeri Ratu Elizabeth itu baru sekali mencicipi gela rjuara Piala Dunia, yakni di edisi 1966.
Lihat juga:Inggris Melawan Sayap-sayap Lelah Kroasia |
(sry)
Pelatih timnas Inggris Gareth Southgate merayakan kemenangan atas Swedia. (REUTERS/Dylan Martinez)
Para suporter larut dalam euforia kemenangan Inggris atas Swedia, di Flat Iron Square, London, 7 Juli. (