Piala Dunia 2018 merupakan ajang terbesar sepak bola pertama yang menggunakan teknologi VAR. Kontroversi seputar penggunaannya pun terjadi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wasit Bakary Gassama membuat gestur kotak dengan tangan tanda penggunaan VAR saat memimpin laga Denmark vs Peru. (REUTERS/Ricardo Moraes) |
Para pemain Les Bleus membuat gestur menyentuh tangan tanda handball. Pitana memutuskan untuk menengok VAR. Striker timnas Kroasia Mario Mandzukic tampak kecewa dengan pilihan wasit itu.
Para pemain Prancis mengangkat tangan tanda ada handball yang dilakukan Perisic. (REUTERS/Michael Dalder) |
Meski begitu, dia kembali berlari ke arah kotak penalti Kroasia dan menunjuk titik putih tanda hadiah penalti bagi Prancis. Para pemain Vatreni tak memprotes. Griezmann mengeksekusinya dengan dingin.
Seusai pertandingan, pelatih timnas Kroasia Zlatko Dalic dan kapten timnas Kroasia Luka Modric memprotes penalti tersebut.
Selain itu, ada kontroversi penalti pada pertandingan laga Grup E antara timnas Swwiss melawan Serbia, Jumat (23/6).
Serbia memprotes wasit karena tak memberikan penalti saat Aleksandar Mitrovic dijatuhkan lantaran dijepit dengan ketat ala pertandingan gulat oleh dua pemain timnas Swiss, Fabian Schaer dan Stephan Lichtsteiner di kotak penalti.
Wasit Felix Brych tak diberi kesempatan lagi memimpin laga Piala Dunia 2018 usai melakoni laga kontroversial antara Serbia vs Swiss. (REUTERS/Kai Pfaffenbach) |
Dikutip dari Daily Mail, pundit yang juga mantan pemain Manchester United Rio Ferdinand menyebut keputusan itu sebagai 'perampokan' dan Swiss beruntung tak diganjar penalti.
Kesalahan Sangat Jelas
Dewan Asosiasi Sepakbola Internasional (IFAB), yang berwenang menetapkan aturan sepak bola, menyebutkan bahwa VAR serupa dengan ofisial pertandingan lainnya.
Wasit VAR, yang berada di tempat terpisah, hanya bisa mengusulkan wasit pertandingan untuk meninjau kasus-kasus "kesalahan yang jelas dan nyata" atau "insiden serius yang terlewat" lewat VAR.
[Gambas:Video CNN]
Namun, itu hanya berlaku untuk keputusan terkait gol, penalti, kartu merah langsung, dan kesalahan identifikasi pemain.
"Hanya wasit yang bisa menginisiasi sebuah tinjauan; VAR [dan ofisial pertandingan lainnya] hanya bisa merekomendasikan tinjauan kepada wasit," demikian salah satu aturan penggunaan VAR.
Artinya, wasit seharusnya punya kewenangan penuh untuk tak memedulikan protes sedahsyat apapun dari para pemain yang memintanya untuk meninjau keputusan lewat VAR.
Ini terjadi, salah satunya, kala Gabriel Jesus dijatuhkan Vincent Kompany di laga Brasil vs Belgia di perempat final. Saat itu, Jesus menggiring bola melewati sela-sela kaki (nutmeg) Vertonghen. Kompany sigap membuang bola.
Vincent Kompany menekel Gabriel Jesus di kotak penalti Balgia. (REUTERS/John Sibley) |
Wasit memutuskan itu tendangan gawang. VAR mengindikasikan tinjauan kepada wasit. Namun, lampu hijau kemudian diberikan untuk melanjutkan pertandingan.
Badminton
Penggunaan teknologi dalam sudah lebih dulu diterapkan di cabang olahraga lainnya. Misalnya, Eagle Eye di tenis dan Instant Review di bulutangkis. Penggunaannya lebih untuk melihat masuk atau tidaknya bola atau kok.
Dalam sepak bola, ini lebih mirip dengan Goal Line Technology. Meski tak bisa memutus soal pelanggaran seperti sepak bola, penggunaan teknologi di cabang raket itu punya aturan yang memberikan keadilan sekaligus drama.
Ganda putra Indonesia Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo sempat terlibat drama soal challange di Indonesia Open 2018. (CNN Indonesia/Hesti Rika) |
Instant Review hanya bisa digunakan dua kali dalam pertandingan lewat permintaan challange dari pemain. Jika hasil tinjauan teknologi itu sesuai dengan keputusan wasit, jatah challange pemain berkurang. Sebaliknya, jatah tetap jika wasit salah memutus.
Karena sepak bola lebih kompleks, bisa saja jatah challange diberikan lebih banyak.
Ketua Komite Wasit FIFA Pierluigi Collina (tengah) (REUTERS/Darren Staples). |
Namanya juga game. Perlu ada keseruan lewat modifikasi sisi-sisi manusiawi, namun akurasi keputusannya tetap harus mendekati kesempurnaan.
Ketua Komite Wasit FIFA Pierluigi Collina menyebut penggunaan VAR memberi dampak positif kepada Piala Dunia. Yakni, meningkatkan akurasi keputusan wasit dari yang tadinya 95 persen saat tanpa VAR menjadi 99,3 persen.
"VAR tak berarti kesempurnaan. Namun, seperti yang Anda lihat, 99,3 persen ini sangat, sangat dekat [dengan kesempurnaan]," tandasnya. (sry)
Wasit Bakary Gassama membuat gestur kotak dengan tangan tanda penggunaan VAR saat memimpin laga Denmark vs Peru. (
Para pemain Prancis mengangkat tangan tanda ada handball yang dilakukan Perisic. (
Wasit Felix Brych tak diberi kesempatan lagi memimpin laga Piala Dunia 2018 usai melakoni laga kontroversial antara Serbia vs Swiss. (
Vincent Kompany menekel Gabriel Jesus di kotak penalti Balgia. (
Ganda putra Indonesia Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo sempat terlibat drama soal challange di Indonesia Open 2018. (
Ketua Komite Wasit FIFA Pierluigi Collina (tengah) (