Hening saat ditemui di arena Paralayang, Gunung Mas, Puncak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (27/8), mengaku lebih tertarik bisnis cireng daripada menjadi PNS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pria asal Semarang ini kali pertama mengenal usaha cireng saat mengikuti kejuaraan di Sumedang, Jawa Barat. Saat itu pemilik kontrakan yang ditempatinya punya usaha cireng.
Hening Paradigma tertarik kembangkan usaha makanan lokal. (AFP PHOTO/FRED DUFOUR) |
Usaha cireng milik Hening terus berkembang dengan pemasarannya kebanyakan di seputar Sumedang dan Bandung. Rencananya akan coba dipasarkan ke Bogor.
Merek dagang cireng yang diproduksi Hening dan kawannya, Margarasa, juga unik. Margarasa berlatar belakang dari nama desa tempat usaha cireng yang dikelolanya.
"Nama desa tempat usaha saya itu Margacinta jadi biar namanya tidak susah, pakai nama lokal saja, karena ini cireng rasanya enak, jadinya Margarasa," kata pemuda lajang 32 tahun ini.
Hening Paradigma tergabung dalam tim beregu putra paralayang. (ANTARA FOTO/INASGOC/Tagor Siagian) |
"Investasi paling besar itu untuk mesin, kalau bahan baku tersedia banyak di Sumedang, banyak yang produksi aci," kata pemegang peringkat sembilan dunia untuk ketepatan mendarat.
Ketertarikan mengembangkan usaha cireng, selain karena hobi makan, latar belakang pendidikan di bidang teknik industri membuat Hening tertarik memproduksi makanan lokal tersebut secara massal.
Sebelum mengembangkan bisnis cireng, Hening yang terobsesi menjadi wirausahawan ini sempat bergelut di valuta asing.
Menurut Hening walau pendapatan dari atlet lebih besar dari pada usaha cireng, ia tetap akan menekuni usaha tersebut, yang penghasilannya mencukupi ketika sedang tidak mengikuti kejuaraan. (ant/sry)
Hening Paradigma tertarik kembangkan usaha makanan lokal. (AFP PHOTO/FRED DUFOUR)
Hening Paradigma tergabung dalam tim beregu putra paralayang. (ANTARA FOTO/INASGOC/Tagor Siagian)