Jainal menceritakan kisah yang mengubah hidupnya. Pada usia 18 tahun Jainal melaju motornya dengan cukup cepat. Maksud hati mau menyalip truk besar yang melintas tapi nasib berkata lain. Ia jatuh tersenggol bus yang membuat kedua kakinya terlindas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya di situ berpikir saya bakalan hidup tanpa kaki. Tapi alhamdulillah enggak ada pikiran kalau saya bakal mati. Alhamdulillah, saya masih bersyukur yang terlindas cuma kaki bukan kepala. Di benak saya cuma satu, saya hidup enggak bakal punya kaki. Itu saja," kata Jainal saat berbincang bersama CNNIndonesia.com di Solo.
Ilustrasi balap kursi roda. (CNNIndonesia/Adhi Wicaksono) |
Maklum, sebagai anak pertama dari tiga bersaudara, Jainal adalah tulang punggung keluarga.
"Saat saya mau operasi amputasi, yang tanda tangan (surat persetujuan operasi) bukan orang tua, tapi paman saya. Bahkan ibu saya enggak tau kalau saya diamputasi. Dulu kondisi ibu saya drop enggak terima anaknya kondisinya seperti itu."
"Ibu tahunya saya kecelakaan jatuh saja. Tetangga dan keluarga menutupi kondisi saya. Ibu saya baru tahu kondisi saya seminggu setelah saya diamputasi," ungkap Jainal.
Lihat juga:Juventus Pertimbangkan Rekrut Marcelo |
Semua orang terdekat hanya memintanya untuk tabah dan bersabar menerima ujian dari Tuhan. Jainal juga yakin, pasti ada hikmah di balik kejadian yang menimpanya.
Buat Jainal, hal tersulit yang harus dihadapinya setelah menjadi tuna daksa yakni mengembalikan rasa percaya dirinya. Sampai akhirnya ia bertemu dengan seorang teman yang memperkenalkannya kepada dunia olahraga disabilitas.
Ia dibawa ke National Paralympic Committee (NPC) daerah di Bandung, Jawa Barat. Kemudian, ia diarahkan untuk mengikuti balap kursi roda sampai ia bisa berprestasi seperti saat ini.
Jainal pertama kali tampil di Pekan Paralimpik Daerah (Peparda) di Bekasi dan langsung mendapatkan tiga medali emas yang membuatnya dipromosikan masuk pelatnas.
Ilusttrasi balap kursi roda. (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja) |
"Pertamanya saya enggak percaya saya jadi atlet. Tapi ibu saya yang paling pertama mendukung saya di awal karier. Saya paling bahagia saat dengar dia merasa bangga sama saya. Itu yang bikin saya bahagia dan itu yang memacu saya semangat berolahraga," sebut Jainal.
Meski kehilangan dua kakinya, Jainal merasa bersyukur atas kehidupan yang dimiliki saat ini. Selain karier yang bagus, ia juga sudah berkeluarga dan memiliki seorang putra.
Jainal kini tengah menjalani pemusatan latihan di Solo jelang Asian Para Games 2018 yang digelar di Jakarta 6-13 Oktober mendatang. Tampil di hadapan publik Indonesia, Jainal berharap bisa mempersembahkan prestasi terbaik. (jun/nva)
Ilustrasi balap kursi roda. (CNNIndonesia/Adhi Wicaksono)
Ilusttrasi balap kursi roda. (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)