Salah satunya adalah keberhasilan klub papan bawah musim lalu, Watford, yang tampil impresif musim ini. Tim berjulukan The Hornets itu mampu merangsek ke papan atas dengan rekor selalu menang dalam empat laga musim ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
The Hornets bahkan mampu mengalahkan salah satu tim kuat, Tottenham Hotspur, dengan skor 2-1 pada laga pekan keempat di Stadion Vicarage Road, 2 September lalu.
Watford menyapu bersih empat kemenangan di awal Liga Primer Inggris musim ini. (REUTERS/David Klein) |
Berdasarkan statistik Opta sejak Gracia menjadi manajer Watford, tim yang bermarkas di Vicarage Road itu merupakan tim Liga Inggris yang paling banyak meraih kemenangan (10 kali) di kandang.
Gracia mampu mengubah total gaya permainan Watford musim ini. Meski berasal dari Spanyol yang notabene identik dengan sepak bola dinamis dan menyerang, Gracia dikenal sebagai pelatih yang mengusung filosofi pragmatis.
Berkat pendekatannya, Gracia mampu membawa Malaga mengalahkan Barcelona 1-0 pada musim 2014/2015. Setahun kemudian Malaga mampu menahan tim kuat Real Madrid 1-1.
Yang mencengangkan Gracia sukses mendongkrak posisi Malaga di peringkat kedelapan dengan hanya kebobolan 35 gol di La Liga Spanyol musim 2015/2016. Jumlah itu hanya selisih satu gol lebih sedikit dari peringkat kedua, Los Blancos.
Pelatih 48 tahun itu sempat mencoba peruntungan menangani klub Rusia, Rubin Kazan, namun hanya bertahan satu musim karena gagal membawa klub itu ke papan atas. Sempat diisukan bakal kembali Athletic Bilbao, Sevilla, atau kembali ke Malaga, Gracis memilih petualangan bari di Inggris.
Pelatih 48 tahun itu sempat mencoba peruntungan menangani klub Rusia, Rubin Kazan, namun hanya bertahan satu musim karena gagal membawa klub itu ke papan atas. Sempat diisukan bakal kembali Athletic Bilbao, Sevilla, atau kembali ke Malaga, Gracis memilih petualangan bari di Inggris.
Javi Gracia menjadikan Watford tim papan atas Liga Inggris di awal musim ini. (REUTERS/Andrew Yates) |
Meski fokus pada penguatan lini pertahanan, Gracia tak lantas membuat timnya benar-benar bertahan total menghadapi tim lawan. Namun, ia juga bukan tipe juru taktik yang fanatik dengan gaya permainan menyerang.
Melalui gaya pragmatis, Gracia mengandalkan efektivitas serangan yang diterapkan di Watford, sembari memperkuat tembok pertahanan. Dengan permainan itu The Hornets masih sulit ditembus. Bahkan, Tottenham dikenal yang memiliki serangan sporadis hanya mampu menciptakan satu gol.
"Saya bukan tipe pelatih yang masuk ke tim kemudian berkata:'Tidak, saya mau bermain begini dan begitu, bermain dengan4-3-3 dan selalu bermain 4-3-3.' Itu bukan seorang manajer yang baik," ujar Gracia seperti dikutip dari Sky Sports.
Berkat kemampuannya yang sangat adaptif dalam meracik tim, Garcia pun tak kesulitan membawa kestabilan dalam tim termasuk Watford. Para pemain anyar yang diboyong Gracia ke Watford musim ini pun bisa dibilang tak terlalu spesial.
Watford terakhir mengalahkan Tottenham Hotspur. (REUTERS/David Klein) |
Gracia bahkan mampu menghidupkan potensi para pemain lama di tim itu. Termasuk mampu mengasah ketajaman dua ujung tombak Watford, Troy Deeney dan Andre Gray. Di lini tengah Roberto Pereyra dan Will Hughes bermain brilian musim ini. Pereyra sejauh ini sudah mengemas tiga gol dalam empat laga.
Perubahan yang juga paling terasa ada di sektor belakang Watford yang dikomandoi Christian Kabasele. Pertahanan The Hornets menjadi kian kuat musim ini.
Watford juga sempat nyaris terdegradasi musim lalu dan selamat setelah berhasil finis di peringkat ke-14. Musim ini, mereka langsung tancap gas dengan menyapu bersih kemenangan dalam empat laga. (har)
Watford menyapu bersih empat kemenangan di awal Liga Primer Inggris musim ini. (REUTERS/David Klein)
Javi Gracia menjadikan Watford tim papan atas Liga Inggris di awal musim ini. (REUTERS/Andrew Yates)
Watford terakhir mengalahkan Tottenham Hotspur. (REUTERS/David Klein)