Karakter suporter sepak bola Indonesia tetap jadi permasalahan serius sampai dengan saat ini. Mulai dari enggan membeli tiket namun tetap memaksa masuk stadion, menyanyikan yel-yel rasisme, hingga tindakan kekerasan yang menyebabkan kematian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena kita [di] Indonesia ini mengalami suporter yang sebagaian masih primitif. Ini harus ada struktur yang mengurusi, karena kalau tidak nanti saling tunjuk," ujar Ridwan Kamil dalam acara ILC di TVOne, Selasa (25/9) malam.
Koreografi dari Bobotoh yang dianggap memprovokasi. (AFP PHOTO / TIMUR MATAHARI) |
"Kalau sudah tahu suporternya masih primitif, kalau perlu tidak usah ada penontonnya. Jika penontonnya perilakunya belum beradab, modern, lebih baik saya juga sepakat tidak usah ada penonton sama sekali," ucap Ridwan Kamil.
Di luar menyampaikan usulan dan saran, Emil juga mengaku kecewa dengan sikap Bobotoh yang masih menyanyikan lagu rasisme. Hal itu disaksikan langsung mantan Walikota Bandung ini saat laga Persib vs Persija.
"Saya menyaksikan sendiri lagu-lagu rasisme itu masih ada, dan saya tidak menafikan, saya kecewa mendengar satu stadion kemarin itu mengejek Persija. Saya sangat sedih," kata Emil.
Koreografi dari Bobotoh yang dianggap memprovokasi. (AFP PHOTO / TIMUR MATAHARI)