Keberhasilan Timnas Indonesia U-16 meraih gelar juara dan terpaan media baik siaran langsung maupun beragam berita serta pengaruh media sosial juga mengerek popularitas para pemain Garuda Asia.
Jumlah pengikut para pemain Timnas Indonesia U-16 di Instagram sudah amat banyak, beberapa pemain tertentu bahkan sudah memiliki followers sebanyak ratusan ribu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pelatih yang sudah menekuni dunia lapangan hijau sejak tahun 1980-an itu bahkan sudah mencium ada pemain-pemainnya yang mulai terjangkit sindrom kebintangan lantaran merasa terkenal dan merasa hebat di lapangan.
Fakhri Husaini menganggap pemain Timnas Indonesia U-16 belum menjadi bintang. (Dok. AFC) |
Hal yang kerap dilakukan oleh Fakhri dan ofisial tim untuk menggugurkan rasa diri yang menonjol adalah mengingatkan kebersamaan dan kekompakan. Salah satu cara yang dipilih adalah pembatasan penggunaan telepon genggam dalam durasi setengah jam hingga dua jam per hari tergantung situasi dan kondisi.
Fakhri juga menyadari menjadi pelatih untuk usia belia memiliki tanggung jawab yang besar karena harus membimbing bakat-bakat muda di dalam lapangan sembari membentuk perilaku yang santun di luar lapangan.
Menurut Fakhri Husaini jadi pelatih timnas usia muda butuh tanggung jawab yang besar. (CNN Indonesia/Arby Rahmat Putratama) |
"Saya tidak melarang mereka jadi bintang, tapi mereka saat ini belum jadi bintang, tak ada satu pun yang jadi bintang di sini. Ini mereka [pemain Timnas Indonesia U-16], kalau kami salah urus di sini, ke atasnya [di tim yang senior] juga makin salah."
Fakhri Husaini menganggap pemain Timnas Indonesia U-16 belum menjadi bintang. (Dok. AFC)
Menurut Fakhri Husaini jadi pelatih timnas usia muda butuh tanggung jawab yang besar. (CNN Indonesia/Arby Rahmat Putratama)