Komentar miring warganet mengenai penampilan Garuda Asia bertaburan di dunia maya khususnya setelah beberapa pemain gagal menampilkan permainan terbaik atau ketika tak mampu mencetak gol.
Setelah pertandingan melawan Iran, statistik akurasi tembakan Timnas Indonesia U-16 mengalami penurunan. Upaya lewat tusukan individu beberapa pemain juga gagal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fakhri yang tidak hanya memimpin latihan di lapangan mengetahui masalah non-teknis tersebut dan menenangkan anak asuhnya, seperti Amiruddin Bagus Kahfi Alfikri yang kerap dituduh egois dari netizen.
Para pemain Timnas Indonesia U-16 saat mengisi waktu lowong di Piala Asia U-16. (Foto: CNN Indonesia/Nova Arifianto) |
"'Jadi apa yang perlu kamu risaukan, enggak perlu kamu tanggapi kritikan di medsos', enggak perlu membuang energi hanya untuk merespons netizen."
"Pekerjaan saya sekarang bagaimana mereka menghadapi netizen, karena tidak selamanya mereka dipuji. Hujatan itu luar biasa, saya enggak menyangka, kalau saya baca kemarin ada postingan Bagus, ada komentar tidak mengenakkan," terang Asti.
"Netizen biarkan saja enggak usah dibales, capek kalo dibales satu per satu. Meski mereka geregetan juga," sambungnya.
Mengenai performa Bagus yang dianggap egois oleh sebagian warganet, Fakhri menekankan sisi keegoisan pemain asal Jawa Tengah memang dibutuhkan karena diakuinya ada beberapa kemenangan Timnas Indonesia U-16 yang dihasilkan oleh upaya individu Bagus.
"Sayang saya enggak bisa bicara satu per satu dengan [orang-orang yang berkomentar di] medsos itu, kalau bisa saya akan bilang 'kamu boleh kritik pemain saya, tapi pernah tendang bola enggak?'. Kalau enggak pernah tendang bola, nonton bola pun baru tahu, ya enggak perlu komentar soal sepak bola," tukas Fakhri sambil diiringi senyum. (nva/bac)
Para pemain Timnas Indonesia U-16 saat mengisi waktu lowong di Piala Asia U-16. (Foto: CNN Indonesia/Nova Arifianto)