Laga Arema vs Persebaya yang digelar di Stadion Kanjuruhan, Sabtu (6/10), kembali menyuguhkan tontonan menyesakkan dada. Ulah suporter kembali mencoreng kualitas pertandingan yang semestinya bisa dinikmati.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Suporter Arema memasuki lapangan Stadion Kanjuruhan usai pertandingan melawan Persebaya. (ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto) |
Reaktif karena Tekanan
Aksi memicu reaksi. Ulah suporter Arema menuai kecaman dari banyak kalangan. Tak hanya Bonek yang berang, cibiran juga datang hampir dari seluruh suporter klub lainnya.
Bonek tentu jadi garda terdepan melakukan tekanan pada PSSI. Pentolan mereka, Andi Peci, bahkan menyerukan ancaman via Twitter untuk kembali turun ke jalan bila PSSI tidak memberikan sanksi berat kepada Arema atas 'dosa' yang dilakukan suporternya sendiri.
Tak perlu berjanji, karena sanksi kepada pihak yang melanggar regulasi adalah mutlak. PSSI hanya butuh konsisten menerapkan regulasi kompetisi. Bukan malah jadi hakim yang berlandaskan kompromi.
Selama dua pekan kompetisi dihentikan, PSSI tidak mengajak perwakilan klub Liga 1 2018 duduk bersama untuk membuat landasan regulasi bagi kasus serupa. Artinya, harus ada landasan hukum yang sama bila kasus Haringga terjadi di kemudian hari.
PSSI hanya mengeluarkan sejumlah keputusan yang tak lepas dari kritik. Sebab, PSSI terkesan hanya menjadi hakim dan tidak berlaku sebagai "induk" yang seharusnya memunculkan ide segar untuk mencegah potensi adanya 'Haringga-Haringga' lain.
Arema berhasil mengalahkan Persebaya 1-0 di Stadion Kanjuruhan. (ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto) |
Sanksi larangan menonton seumur hidup terkesan hanya formalitas karena sistem penjualan tiket sepak bola di Indonesia belum memenuhi standar pengawasan. Berbeda dengan di liga-liga Eropa yang menggunakan identitas resmi si penonton untuk masuk stadion.
Jika tak mampu membuat regulasi paten untuk mencegah konflik antarsuporter, maka jangan salahkan prasangka negatif yang bisa datang dari klub anggota lainnya.
Sanksi Abu-Abu
Sanksi yang akan dikeluarkan PSSI terhadap Aremania nantinya juga diprediksi tak akan menimbulkan efek jera jika tak ada sanksi berat. Apalagi merujuk kasus suporter Persib yang dengan mudah mengakali sanksi karet PSSI soal larangan menonton ke stadion pada 2017.
Pada Juli tahun lalu misalnya. Komdis PSSI menjatuhkan sanksi tanpa penonton di lima pertandingan akibat tingkah laku suporter Persib yang terbukti menyalakan flare, melakukan pelemparan botol ke dalam lapangan, pemukulan terhadap ofisial tim lawan, dan pengeroyokan suporter.
PSSI dituntut konsisten dalam memberikan hukuman. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan) |
Sanksi Komdis PSSI model seperti ini banyak terjadi. Ambigu, rentan dibantah, dan cenderung abu-abu. Hasilnya, suporter tak jera meski klubnya juga disanksi denda.
Suporter Arema memasuki lapangan Stadion Kanjuruhan usai pertandingan melawan Persebaya. (ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto)
Arema berhasil mengalahkan Persebaya 1-0 di Stadion Kanjuruhan. (ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto)
PSSI dituntut konsisten dalam memberikan hukuman. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)