Atlet Mungil yang Tak Berkecil Hati di Asian Para Games 2018

Tim, CNN Indonesia | Rabu, 10/10/2018 18:49 WIB
Atlet Mungil yang Tak Berkecil Hati di Asian Para Games 2018 Atlet-atlet bulutangkis kategori SS6 seperti Mark Joseph Dharmai berlaga di Asian Para Games 2018. (CNN Indonesia/Putra Permata Tegar Idaman)
Jakarta, CNN Indonesia -- Atlet-atlet bulutangkis Indonesia yang berlaga di Asian Para Games 2018 nomor SS6 menampilkan semangat membara untuk meraih kebanggaan sebagai juara level Asia.

Pukulan-pukulan lob, dropshot, hingga netting dan smes terjadi. Keringat bercucuran. Teriakan kegembiraan dan kekecewaan bergantian terdengar. Dari tubuh-tubuh mungil tersebut, tersimpan semangat besar yang membara.

Mark Joseph Dharmai berlari-lari mengejar shuttlecock yang terus mengarah ke lapangannya. Dengan jangkauan tangan dan kaki yang dimilikinya, lapangan bulutangkis terasa lebih luas.


Semangat bukan hanya milik Mark Joseph semata. Semangat itu juga dimiliki Chu Man Kai yang jadi lawan, begitu pula dengan Wong Chun Yim dan Didin Taresoh yang sama-sama bermain di babak perempat final bulutangkis kategori SS6.

Dalam cabang olahraga bulutangkis di Asian Para Games, SS6 merupakan salah satu nomor yang dipertandingkan. SS merupakan singkatan dari short stature atau dwarfism.

Semangat dan gairah menjadi juara jelas terlihat dalam pertandingan para bulutangkis SS6.Semangat dan gairah menjadi juara jelas terlihat dalam pertandingan para bulutangkis SS6. (CNN Indonesia/Putra Permata Tegar Idaman)
Dharmai kalah 11-21 dan 9-21 di laga tersebut, namun masih ada senyum tersisa darinya ketika ia keluar dari lapangan menuju ruang ganti.

"Saya kalah. Namun saya senang bisa tampil di ajang Asian Para Games 2018. Orang-orang di sini sangat ramah. Mereka membantu saya dan apapun yang diminta oleh para atlet," kata Dharmai kepada CNNIndonesia.com.

Berbicara dengan Dharmai, bisa disimpulkan bahwa dirinya merupakan sosok yang percaya diri. Ia berharap hal itu juga bisa dimiliki oleh teman-teman dengan kondisi dwarfism.

"Saya berharap orang-orang dengan kondisi short stature berani muncul keluar dan menunjukkan apa yang mereka mampu. Entah di bidang apapun, mereka harus berani bersuara dan menunjukkan apa yang dia bisa," tutur Dharmai.

"Khusus untuk bulutangkis, saya berharap akan lebih banyak ajang untuk kategori short stature, bukan hanya tunggal putra saja. Melainkan juga tunggal putri, ganda putra, ganda putri, dan ganda campuran," ucapnya melanjutkan.

Dengan adanya kompetisi yang rutin, maka akan lebih banyak atlet-atlet yang bermunculan. India sendiri memiliki tiga wakil di babak perempat final.

"Di India, ada 10-15 atlet dengan kategori short stature," kata Dharmai.

Kerja Keras Mengejar Shuttlecock

Dengan jangkauan dan langkah yang lebih pendek, maka atlet-atlet yang tampil di kategori SS6 harus punya gerakan yang lebih cepat. Bila atlet biasa mungkin hanya butuh 1-2 langkah untuk menggapai shuttlecock di arah depan atau belakang, maka atlet-atlet yang bertarung di SS6 butuh 2-3 langkah sebelum memukul kok.

Wong Chun Yim rutin mengikuti kejuaraan para bulutangkis.Wong Chun Yim rutin mengikuti kejuaraan para bulutangkis. (CNN Indonesia/Putra Permata Tegar Idaman)
Dengan demikian, dibutuhkan latihan fisik yang mumpuni agar bisa tampil enerjik mengejar kok selama pertandingan berlangsung.

"Kami harus melatih otot kaki dan tangan kami karena kondisi tangan kami kecil. Karena itu ayunan tangan dan ayunan kaki harus lebih kuat," tutur Wong Chun Yim.

Wong Chun Yim adalah pebulutangkis peringkat tiga dunia untuk kategori SS6. Ia juga pernah meraih medali perunggu pada Kejuaraan Dunia Para Badminton 2017.

"Dalam setahun saya mengikuti 5-6 turnamen. Tahun depan mungkin akan lebih banyak lagi karena persiapan menuju Paralimpiade," ujar Wong Chun Yim.

Sebagai orang dengan kondisi short stature, salah satu halangan yang dialami untuk menekuni dunia olahraga adalah kepercayaan, baik dari dalam diri sendiri maupun lingkungan sekitar. Hal itu dialami oleh Didin Taresoh, atlet asal Malaysia.

Didin Taresoh yang berusia 43 tahun masih berlaga di ajang para bulutangkis.Sempat tidak mendapat restu dari keluarga, Didin Taresoh yang berusia 43 tahun masih berlaga di ajang para bulutangkis. (CNN Indonesia/Putra Permata Tegar Idaman)
"Saya sudah mulai main bulutangkis sejak usia 12 tahun pada 1986. Di awal saya main bulutangkis, saya juga mendapat pertentangan dari kerabat dekat. Saya dianggap tidak mampu dan tidak usah menekuni bulutangkis. Saya sendiri tidak pernah merasa malu saat bermain dengan teman-teman saya."

"Barulah ketika saya sudah di universitas, anggapan-anggapan itu hilang. Saya dilihat sebagai orang normal selama mengikuti turnamen dengan orang biasa," ucap Didin.

Didin merupakan sosok yang aktif untuk mengikuti berbagai turnamen olahraga, mulai dari bulutangkis, tenis meja, hingga lari jarak jauh. Dengan latar belakang olahraga yang kuat, Didin justru baru bergabung dengan tim para bulutangkis Malaysia pada 2014.

"Saya berasal dari kampung jadi jauh dari pusat. Itu yang membuat saya baru bergabung dengan tim nasional," tutur Didin.

Meski baru bergabung, Didin mampu tampil melejit. Ia sukses jadi juara dunia pada tahun 2015 dan meraih medali perunggu pada edisi berikutnya.

"Walaupun usia saya sudah 43 tahun, saya masih optimistis bisa terus bertanding selama menjaga latihan dengan baik. Saya rasa penurunan kondisi fisik baru mulai akan terjadi pada usia 48 tahun," kata Didin penuh keyakinan.

Didin berharap di masa depan, atlet-atlet short stature di Malaysia punya peningkatan kualitas.

"Saat ini sudah ada sejumlah atlet lain untuk kategori short stature, namun hanya saya yang dikirim. Yang lain masih belum mencapai level persaingan di dunia," tutur Didin. (ptr/nva)