Chelsea Tawarkan Suporter Jalani Tur ke Kamp Nazi

Tim, CNN Indonesia | Jumat, 12/10/2018 06:56 WIB
Chelsea Tawarkan Suporter Jalani Tur ke Kamp Nazi Chelsea tawarkan fan tur perjalanan ke kamp konsentrasi Nazi. (REUTERS/Andrew Yates)
Jakarta, CNN Indonesia -- Raksasa klub Liga Primer Inggris, Chelsea FC, punya cara tersendiri untuk menangani suporter rasial. Pihak klub menawarkan fan yang masih terjebak rasialisme untuk menjalani tur ke bekas kamp konsentrasi tentara Nazi di Auschwitz.

Chelsea memberikan opsi hukuman larangan menonton atau pendidikan kursus kepada pendukungnya yang terbukti menyanyikan lagu penghinaan kepada etnis Yahudi.

Segelintir fan Chelsea terbukti menyanyikan anti-semitic atau sebuah lagu yang berbau ujaran kebencian kepada Yahudi di laga kontra Tottenham pada September 2017.
Setelah itu, perwakilan The Blues bersama 150 pendukungnya akan melakukan perjalanan ke Auschwitz, Polandia, dalam rangka perjalanan edukasi kepada para fan.


Pemilik klub asal Inggris, Roman Abramovich, berinisiatif untuk mengurangi prasangka rasial yang masih hinggap di antara suporter yang masih menyerukan kebencian terhadap Yahudi.

Perjalanan ini diharapkan dapat mengedukasi pendukungnya yang terlibat perlakuan rasial dibanding harus melakukan larangan datang ke pertandingan Liga Primer.

Potret korban kamp konsentrasi Nazi di Potret korban kamp konsentrasi Nazi di Auschwitz. (REUTERS/Kacper Pempel)
"Jika Anda hanya melarang orang-orang datang ke pertandingan, itu tidak akan pernah mengubah perilaku mereka," ujar Chairman Chelsea, Bruce Buck dilansir Dailymail.

"Kebijakan ini memberikan mereka kesempatan untuk sadar apa yang telah mereka lakukan dan membuat mereka mau mengubah perilaku mereka," sambungnya.

Buck juga menambahkan sulit jika menarik 50 hingga 100 orang yang meneriakan (anti-Yahudi). Tapi akan lebih mudah jika dapat mengidentifikasi satu individu, dan menindaknya.

"Di masa lalu, kita tentu akan menarik mereka dari kursi penonton dan melarang mereka menonton langsung ke stadion bisa sampai tiga tahun.

"Sekarang kita tawarkan Anda melakukan sesuatu yang salah. Anda memiliki pilihan. Kami dapat melarang Anda atau menghabiskan beberapa waktu dengan petugas kami, memahami kesalahan apa yang telah anda lakukan." ujarnya.

Pameran seni gambaran rezim Nazi di Jerman.Pameran seni gambaran rezim Nazi di Jerman. (REUTERS/Fabrizio Bensch)
Butuh lima tahun bagi Chelsea untuk menemukan cara mengatasi rasialisme ini. Tahun lalu, Roman duduk dengan para senior di klub dan membicarakannya.

Inisiatif mengedukasi holocaust (pembantaian jutaan orang Yahudi oleh Nazi) ini mendapat dukungan dari World Jewish Congress, Holocaust Education Trust dan ilmuan Yahudi terkemuka, Rabbi Barry Marcus. Para tokoh ini menilai hukuman larangan tidak akan berpengaruh.

Auschwitz merupakan sebuah kamp milik tentara Jerman Nazi pada Perang Dunia ke-2. Kamp yang terletak di Polandia ini diketahui menjadi ladang pembantaian kaum Yahudi.

Kamp konsentrasi ke-2 yang bernama Birkenau ini memiliki enam ruang gas dan empat ruang krematorium. Menggunakan gas beracun genosida, diketahui sekitar 900 ribu tahanan Yahudi diracuni dalam kamar gas tersebut sebelum akhirnya dikremasi. Sementara sekitar 200 ribu jiwa lainnya meninggal akibat kerja paksa, kelaparan, penyiksaan, dan terjangkit penyakit.

Sejak 1947, Kamp Auschwitz-Birkenau kini dijadikan sebuah museum dan pada 1979 dinamakan sebagai salah satu situs bersejarah dunia oleh lembaga UNESCO. (dre/jun)