Leicester adalah salah satu tim medioker di Inggris. Lebih sering berada di papan tengah atau bersaing menghindari jurang degradasi level tertinggi sepak bola di Inggris dan juga pernah terjerembab ke divisi tiga kompetisi sepak bola di Inggris.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setahun berselang, perbaikan peringkat dialami Leicester. Tim yang diarsiteki Sven-Goran Eriksson dan kemudian ditangani Nigel Pearson itu berhasil naik satu peringkat di klasemen, menempati peringkat kesembilan.
Leicester City untuk kali pertama dalam sejarah menjuara liga Inggris pada musim 2015/2016 (Reuters / Darren Staples) |
Ambisi menembus Liga Primer terwujud pada akhir musim 2013/2014 ketika berhasil tampil sebagai juara Championship. Leicester pun kembali bersaing dengan klub-klub top asal Inggris.
Musim pertama di Liga Primer berakhir dengan finis di peringkat ke-14. Cerita indah Leicester terjadi semusim setelahnya. Pada musim 2015/2016, klub yang didirikan pada 1884 itu menjadi juara liga tertinggi di Inggris.
Pada musim pertama di bawah arahan Claudio Ranieri, Leicester meraih 81 poin, unggul 10 poin dari Arsenal yang menghuni peringkat kedua. Riyad Mahrez dan kawan-kawan ketika itu membukukan 23 kemenangan dan 12 hasil imbang serta hanya tiga kali kalah.
Pesta Leicester hanya berlangsung satu musim. The Foxes goyah dan Ranieri digantikan Craig Shakespeare di tengah musim. Peringkat 12 menjadi tempat Leicester di usim 2016/2017. Musim lalu Leicester juga kembali mengisi papan tengah dengan menyudahi kompetisi di liga Inggris dengan menempati peringkat kesembilan. (nva)
Leicester City untuk kali pertama dalam sejarah menjuara liga Inggris pada musim 2015/2016 (Reuters / Darren Staples)