Budhi Sarwono yang menjabat sebagai Bupati Banjarnegara mengutus puterinya, Lasmi, yang bertindak sebagai manajer Persibara Banjarnegara, untuk memuluskan praktik pengaturan skor di kompetisi kasta ketiga Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
CNNIndonesia.com sudah mencoba meminta konfirmasi dari Johar Lin Eng via pesan Whatsapp terkait pengakuan Budhi Sarwono tersebut, namun hingga berita ini diturunkan yang bersangkutan belum merespons.
"Mr P menawarkan kita menjadi juara ketiga Piala Soeratin dengan biaya Rp150 juta. Bahkan saat itu saya dan ayah saya mengeluarkan biaya hingga Rp400 juta untuk menjadi manajer Timnas U-16," ujar Lasmi.
Lasmi menjelaskan alasannya untuk ikut praktik pengaturan skor karena dianggap sudah menjadi aturan main di sepak bola Indonesia. Bahkan, Komdis PSSI Dwi Irianto juga terlibat dalam konspirasi jahat ini.
"Persepakbolaan Indonesia tidak akan pernah maju jika masih ada mafia bola seperti ini."
"Saya mohon Pak Kapolri [Tito Karnavian] dan Menpora [Imam Nahrawi] yang hadir untuk menindak. Karena butuh keberanian sangat luar biasa untuk kami datang ke sini. Saya mohon untuk Kapolri dan Menpora agar tindakan ini diberantas," ujarnya.
Pernyataan klub Banjarnegara menambah terang praktik pengaturan skor di sepak bola Indonesia. Sebelumnya, Manajer Madura FC Januar Herwanto juga mengungkapkan pernah dicoba disuap anggota Exco PSSI Hidayat.
"Anggota Exco yang melakukan pengaturan skor namanya Hidayat. Saya tidak suka, sebagai petinggi PSSI [dia] melakukan itu. Dia mengancam, saya lawan," kata Januar. (ttf/jun/sry)