Dari kecil saya memang sudah akrab dengan olahraga, termasuk sepak bola karena memang tinggal di lingkungan yang memiliki fasilitas olahraga lengkap. Tidak seperti anak-anak sekarang yang ikut Sekolah Sepak Bola (SSB), saya hanya bermain bola biasa saja.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di Warna Agung, saya bertemu seorang pelatih kawakan bernama dokter Endang Witarsa. Dokter Endang mengetahui saya dari Warta Kusuma. Waktu itu saya merasa bisa bersaing di tim karena memiliki kecepatan berlari yang kencang.
Widodo Cahyono Putro saat ini melatih Persita Tangerang. (CNN Indonesia/Artho Viando) |
Satu bulan setelah masuk Warna Agung saya masuk tim PON Bengkulu, karena semua pemain Bengkulu merupakan pemain Warna Agung yang waktu itu terdaftar sebagai klub yang berkandang di provinsi itu.
Setelah PON saya berhasil menembus Timnas Indonesia junior untuk Pra Olimpiade 1991. Pada tahun yg sama saya pun memiliki kesempatan masuk ke Timnas senior bersama pelatih Anatoly Polosin. Karier saya pun kemudian berkembang dan dikenal di lapangan hijau dengan kostum Petrokimia Putra dan Persija.
Ketenaran nama 'Widodo' pun sempat dijadikan parodi ke dunia musik ketika pada 1998 kelompok musik Project P menyelipkan lirik 'Widodo Kamu Ora Ono'. Saya tahu lagu itu dan tidak ambil pusing dengan itu. Mungkin lirik itu disesuaikan karena orang Jawa dikaitkan dengan akhiran O.
Tinta Emas di Timnas Indonesia
Momen paling indah dalam karier saya tidak lain tidak bukan tentu adalah tendangan salto di Piala Asia 1996. Tapi lima tahun sebelumnya saya juga menorehkan prestasi yang belum terulang sampai sekarang, emas SEA Games.
Widodo Cahyono Putro membawa Timnas Indonesia merebut emas SEA Games 1991. (ANTARA FOTO/Fikri Yusuf) |
Sebagai pemain muda saya merasa siap mendapat tugas menjadi algojo, tapi satu hal lain ternyata pengalaman itu memang penting. Saya belum pernah mengambil penalti di pertandingan sebesar itu dan gagal. Mungkin memang seperti itu jalannya.
Selepas menendang bola tentu ada perasaan menyesal. Tapi, setelah itu penalti Sudirman bisa masuk dan (kiper) Edy Harto bisa menahan penalti. Untung semua berakhir bagus. Kalau kalah mungkin ini akan jadi penyesalan sampai sekarang.
Widodo Cahyono Putro saat ini melatih Persita Tangerang. (CNN Indonesia/Artho Viando)
Widodo Cahyono Putro membawa Timnas Indonesia merebut emas SEA Games 1991. (ANTARA FOTO/Fikri Yusuf)
Widodo C. Putro mengaku sepatu yang digunakan saat gol salto menghilang. (CNN Indonesia/Artho Viando)
Widodo C. Putro meninggalkan Bali United di pengujung musim lalu. (ANTARA FOTO/Fikri Yusuf)