Sejak kecil, teknik sepak bola Sani memang terlihat menonjol di antara teman sebayanya. Guru sekolah dasar Sani bahkan sudah membayangkan anak didiknya jadi sorotan di televisi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi dulu guru olahraganya Sani, Bu Ita, pernah bilang ingin menyaksikan Sani masuk televisi," buka Edi Riadi saat ditemui di Mako Brimob Kwitang, Jumat (1/3).
Sani Rizki Fauzi. (ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana) |
Garuda Muda berhak membawa pulang trofi Piala AFF 2019 usai mengalahkan Thailand 2-1 di Stadion Olimpiade (26/1). Gol kemenangan Tim Merah Putih dicetak Osvaldo Haay.
Dua Tahun
Edi menceritakan tanda-tanda Sani punya bakat sepak bola sudah mulai terlihat sejak usia dua tahun.
"Jadi begini, sejak usia dua tahun sudah ketahuan ada ciri khasnya. Waktu itu saya punya uang Rp30 ribu, saya belikan mainan robot-robotan dan tidak dimainkan. Tapi kalau dikasih bola, dia mau," ucap Edi.
Sani Rizki Fauzi. (CNN Indonesia/Arby Rahmat Putratama) |
Ibu Sani, lanjut Edi, juga merupakan pemain bola. Edi mengatakan darah bola Sani diwarisi ibunda.
"Intinya jadi tentara tidak kesampaian, cita-cita jadi petinju. Sampai saya mengumpulkan pasir untuk dibikin kantung, ini urat tangan saya sampai patah saking saya senangnya waktu itu," tuturnya. (map/jun/jun)
Sani Rizki Fauzi. (ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana)
Sani Rizki Fauzi. (CNN Indonesia/Arby Rahmat Putratama)