Situasi saling salip menyalip antara sang juara bertahan dan sang penantang di puncak klasemen menjadi bumbu yang menjadikan Liga Inggris musim 2018/2019 menarik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Manchester City bersaing ketat dengan Liverpool pada perebutan gelar juara liga Inggris 2018/2019. (REUTERS/Phil Noble) |
Sebelumnya, bersama Bayern Munchen sejak musim 2013/2014 hingga 2015/2016, Guardiola seperti meneruskan hegemoni Die Rotten yang menjadi penguasa Jerman tanpa sandungan dari lawan-lawan mana pun. Tim-tim macam Borussia Dortmund atau Bayer Leverkusen hanya menjadi pesaing pada awal musim, selanjutnya Munchen dan Guardiola melenggang tanpa tandingan.
Pep Guardiola merasakan dominasi selama tiga musim berada di Bayern Munchen. (Michaela Rehle) |
Baru pada musim 2009/2010 dan 2010/2011, Guardiola menemui rivalitas yang cukup alot ketika Barcelona bersaing ketat dengan Real Madrid. Musim 2009/2010 Barcelona hanya unggul tiga poin atas Los Blancos dan semusim berselang jarak Lionel Messi dan kawan-kawan dengan Cristiano Ronaldo cs berjarak empat poin.
Situasi berbeda dalam akhir musim yang dialami Man City menjadi ujian bagi manajer yang mengedepankan umpan-umpan kolektif dalam permainan tim.
Tekanan kuat Liverpool pada musim ini, yang hanya tertinggal satu poin hingga pekan ke-32, memaksa Guardiola dan anak asuhnya tetap konsentrasi menjalani laga sisa. Terpeleset di salah satu dari enam laga mendatang akan menimbulkan petaka kehilangan gelar.
Begitu pula pujian dari Guardiola mengenai Liverpool yang kuat dan menjadi penantang serius pun tak sekadar normatif belaka karena benar-benar ada ancaman krusial dari klub yang berhasrat meraih piala setelah puasa gelar Liga Inggris sejak 1990. (bac)
Manchester City bersaing ketat dengan Liverpool pada perebutan gelar juara liga Inggris 2018/2019. (REUTERS/Phil Noble)
Pep Guardiola merasakan dominasi selama tiga musim berada di Bayern Munchen. (Michaela Rehle)