Saat ini Kean tengah berjuang melawan pelecehan warna kulit di pentas sepak bola Italia. Penyerang 19 tahun itu bahkan mendapat kecaman ketika terang-terangan melawan tindakan rasial dari suporter lawan.
Lihat juga:Beda Sikap Ronaldo dan Neymar Soal Israel |
Kean yang bersinar bersama Juve musim ini mendapat kesempatan menjalani debut di timnas senior Italia pada era kepemimpinan Roberto Mancini. Debutnya terjadi pada 20 November 2018.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Moise Kean mulai mendapat tempat di timnas Italia. (REUTERS/Jennifer Lorenzini) |
Sebanyak lima gol berhasil dilesakkan Kean bersama Juve di mana empat di antaranya dicetak di Serie A Liga Italia. Namanya pun mulai jadi perbincangan di pentas sepak bola Italia.
Moise Kean jadi korban rasialisme di Italia. (REUTERS/Massimo Pinca)Moise Kean |
Teranyar, Kean jadi korban tindakan pelecehan rasial ketika Juventus sukses mengalahkan Cagliari 2-0 pada laga lanjutan Serie A, Selasa (2/4) waktu setempat.
Kean yang dilecehkan suporter Cagliari nyaris di sepanjang laga, meluapkan kegembiraannya setelah berhasil mencetak gol kedua Juve di menit ke-85.
Yang jadi soal, Kean melakukan selebrasi dengan berdiri tepat di depan suporter lawan. Sambil membentangkan kedua tangannya, Kane seolah-olah membalas pelecehan yang dilakukan fan Cagliari.
Kapten Juventus Leonardo Bonucci menyadari rekan setimnya jadi korban pelecehan. Namun, ia mengkritik selebrasi Kean yang justru memicu kemarahan suporter lawan.
"Moise seharusnya tidak melakukan hal tersebut dan Curva (suporter) mestinya tidak bersikap demikian," kata Bonucci dikutip Sky Sports Italia.
"Kean tahu bahwa ketika dia mencetak gol, dia harus fokus melakukan selebrasi dengan rekan setimnya. Dia juga tahu bisa melakukan sesuatu yang berbeda," sambungnya.
Mario Balotelli dukung perlawanan Moise Kean. (REUTERS/Ivan Alvarado) |
Balotelli yang kini merumput di Liga 1 Prancis bersama Marseille pernah mencicipi kompetisi Liga Primer Inggris bersama Manchester City dan Liverpool. Ia menilai aksi rasial di Inggris tidak seburuk di Italia.
"Di Inggris saya tak pernah menyaksikan yang seperti ini (aksi rasial) sementara di Prancis juga tidak banyak terjadi. Sementara di Italia, hal tersebut benar-benar ekstrem," ujarnya.
Pelatih Juventus Massimiliano Allegri mengatakan tidak terlalu memperhatikan insiden pelecehan rasial. Tapi, ia berharap para pelaku bisa diganjar sanksi tegas.
"Seperti biasa, di stadion ada orang idiot tetapi juga orang normal. Yang tidak beradab harus diidentifikasi dengan kamera dan tidak lagi diizinkan masuk," kata Allegri.
Moise Kean menjalani babak baru bersama Juventus. (REUTERS/Alberto Lingria) |
Sterling pun memberikan perlawanan dengan memegang dua telinganya menirukan kuping kera. Sebab, fan Montenegro menirukan suara-suara tersebut di sepanjang laga untuk mengintimidasi pemain Inggris yang berkulit hitam.
Meski demikian, karier Sterling di timnas Inggris terus berlanjut seiring penampilan mengkilapnya bersama Manchester City. Sementara Kean tengah berjuang mempertahankan keberadaannya di skuat Azzurri, sesuatu yang sulit ditembus kembali oleh Balotelli. (jun/har)
Moise Kean mulai mendapat tempat di timnas Italia. (REUTERS/Jennifer Lorenzini)
Moise Kean jadi korban rasialisme di Italia. (REUTERS/Massimo Pinca)
Mario Balotelli dukung perlawanan Moise Kean. (REUTERS/Ivan Alvarado)
Moise Kean menjalani babak baru bersama Juventus. (REUTERS/Alberto Lingria)