Kejam dan tanpa ampun. Liverpool mengalahkan FC Porto 2-0 pada leg pertama perempat final Liga Champions di Stadion Anfield, Rabu (10/4) dini hari WIB, lewat salah satu permainan tersolid mereka musim ini.
Gegenpressing. Ya, strategi sepak bola yang melekat dengan Juergen Klopp itu menjadi kunci kemenangan Liverpool atas Porto. Keputusan Klopp memainkan Jordan Henderson, Naby Keita, dan Fabinho berbuah manis.
Meski Porto memiliki dua shot on target di babak kedua, tapi tidak ada sedetik pun di mana tim tamu tidak merasakan tekanan saat melakukan penguasaan bola. Bahkan Liverpool bermain cukup tinggi hingga ke lini pertahanan Porto untuk melakukan tekanan saat tidak menguasai bola.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Juergen Klopp menampilkan permainan khas yang kerap dipertontonkan klub yang diasuhnya ketika Liverpool menghadapi Porto. (Action Images via Reuters/Carl Recine) |
Roberto Firmino kemudian menggandakan keunggulan Liverpool pada menit ke-26 dan membuat tuan rumah unggul 2-0 di babak pertama. Liverpool seharusnya bisa mencetak lebih dari dua gol, tapi sejumlah peluang emas, termasuk peluang Salah, gagal membuahkan gol.
Di babak kedua tekanan Liverpool terlihat berkurang hingga akhirnya gagal mencetak gol tambahan. Henderson beberapa kali terlihat membuat gestur pemberi semangat agar tekanan para pemain Liverpool tidak mengendur. Henderson juga beberapa kali menegur lini depan The Reds untuk bermain lebih efisien ketika mendapatkan peluang.
Liverpool tampil kurang maksimal pada babak kedua. (REUTERS/Phil Noble) |
Ketika Porto mendapat peluang lewat serangan balik, Van Dijk dan Lovren bermain tenang dan tidak mengambil risiko. Alhasil Moussa Marega, Alex Telles, dan Francisco Soares kesulitan membongkar pertahanan Liverpool. Finalis Liga Champions musim lalu tidak pernah panik ketika mendapatkan tekanan.
Pun jika Porto mendapatkan peluang emas, kiper Alisson Becker membuat suporter tenang lewat permainan menawan. Paket penampilan tersebut membuat Liverpool terlihat solid di leg pertama ini.
Penampilan Liverpool di babak kedua jelas sebuah anti-klimaks. Tidak tampak koneksi permainan yang apik di lini depan. Salah dan Mane terlihat bermain sedikit egois demi mencatatkan nama di papan skor.
Namun, Klopp tentunya akan menerima keunggulan 2-0 atas Porto dengan tangan terbuka. Klopp tinggal harus memastikan kesalahan-kesalahan di leg pertama ini tidak terulang di markas Porto pada leg kedua pekan depan.
Keunggulan 2-0 di leg pertama jelas menjadi modal cukup berharga bagi Liverpool. Namun, yang perlu diingat Liverpool adalah Porto mampu bangkit di babak 16 besar setelah kalah dari AS Roma di leg pertama.
(har/nva)
Keunggulan 2-0 di leg pertama jelas menjadi modal cukup berharga bagi Liverpool. Namun, yang perlu diingat Liverpool adalah Porto mampu bangkit di babak 16 besar setelah kalah dari AS Roma di leg pertama.
Juergen Klopp menampilkan permainan khas yang kerap dipertontonkan klub yang diasuhnya ketika Liverpool menghadapi Porto. (Action Images via Reuters/Carl Recine)
Liverpool tampil kurang maksimal pada babak kedua. (REUTERS/Phil Noble)