Sejak ditinggal Sir Alex Ferguson pada akhir musim 2012/2013, Man United memiliki begitu banyak persoalan dalam taktik bermain hingga tampak begitu mudah ditumbangkan.
Lihat juga:FOTO: Amir Khan Menyerah dan Kalah TKO |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Belanja pemain yang mencapai angka £64,35 juta tidak juga menunjukkan progres signifikan. Dalam sejumlah pertandingan, tim yang awalnya diasuh Jose Mourinho diklaim tampil lebih bertahan dan bermain membosankan.
Kekalahan dari Everton jadi kedua beruntun bagi Man United. (REUTERS/Andrew Yates) |
Mendatangkan Solskjaer sempat menjadi angin segar untuk Man United saat meraih delapan kemenangan beruntun di semua kompetisi dan tidak terkalahkan dalam 10 laga di semua ajang.
Permainan Man United yang awalnya disebut lebih senang bertahan mulai berani bermain menyerang seperti era Alex Ferguson.
Tetapi, ujian pertama tiba ketika Marcus Rashford kalah 0-2 dari Paris Saint-Germain di leg pertama babak 16 besar Liga Champions. Beruntung bagi Man United, magis Solskjaer terjadi ketika menang 3-1 pada leg kedua di Paris.
Solskjaer disebut jadi salah satu faktor keterpurukan Man United. (Reuters/Jason Cairnduff) |
Torehan ciamik sebagai manajer sementara membuat Solskjaer diangkat sebagai manajer tetap dengan kontrak tiga tahun pada akhir Maret.
Ironis, setelah menjadi manajer permanen performa Man United justru jeblok di tangan Solskjaer. Dari enam laga sebagai manajer permanen, Solskjaer hanya bisa mempersembahkan dua kemenangan dan menelan empat kekalahan.
Berikut tiga faktor keterpurukan Man United dikutip dari Sportskeeda:
Man United disebut memiliki lini belakang terburuk dalam satu dekade belakangan. Setelah ditinggal duet Nemanja Vidic dan Rio Ferdinand, Man United belum lagi menemukan duo bek tengah dengan kemampuan tangguh.
Beberapa kali Man United berganti pemain belakang mulai dari Marcos Rojo, Daley Blind, Chris Smalling, Phil Jones, Victor Lindelof, hingga Eric Bailly, tetapi performa pemain itu tidak kunjung konsisten. Posisi bek sayap yang diisi Luke Shaw, Ashley Young, dan Antonio Valencia juga tidak memberikan kepuasan.
Selama ditangani Solskjaer, Man United dianggap lebih banyak bermain dengan semangat ketimbang taktik dan strategi. Karena itu, Solskjaer tidak bisa disejajarkan dengan Pep Guardiola, Juergen Klopp, atau Maurizio Sarri yang lebih banyak meraih kemenangan.
Untuk bisa meraih prestasi, Man United harus memiliki manajer yang tahu cara memenangi setiap posisi di lapangan.
Sektor tengah dan depan jadi salah satu pekerjaan rumah bagi Man United untuk saat ini. Kedua lini itu belum menunjukkan performa maksimal. Di depan, Romelu Lukaku, tidak lagi tampil ganas dan penampilan yang konstan.
Marcus Rashford sempat memberi asa untuk The Red Devils, tapi pemain 21 itu belum siap jadi tumpuan bagi Man United. Di lini tengah, Paul Pogba boleh saja jadi gelandang produktif, tetapi pemain lini tengah lainnya macam Fred, Scott McTominay, hingga Nemanja Matic kerap kesulitan mengimbangi permainan para gelandang tim lawan. (sry/ptr)
Kekalahan dari Everton jadi kedua beruntun bagi Man United. (REUTERS/Andrew Yates)
Solskjaer disebut jadi salah satu faktor keterpurukan Man United. (Reuters/Jason Cairnduff)