Solskjaer dikenal sebagai pelatih yang menganut sepak bola menyerang. Pelatih yang berhasil memberikan dua gelar kompetisi domestik untuk Molde itu fanatik dengan formasi 4-2-3-1.
Solskjaer terkadang mengubah skema menjadi 4-1-4-1 saat bertahan. Ia memadukan formasi 4-2-3-1 dengan gaya counter-pressing dan permainan menyerang yang cair.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Man United bahkan tidak terkalahkan dalam 11 laga beruntun di semua ajang hingga akhirnya takluk 0-2 dari Paris Saint-Germain di leg pertama 16 besar Liga Champions, Februari lalu.
Dengan pendekatan seperti itu, Solskjaer berharap pemain belakang lawan kesulitan memberikan bola ke sektor tengah untuk membangun serangan. Strategi ini membuat pemain belakang lawan minim opsi saat ingin memberikan umpan. Hanya saja strategi ini cukup berisiko jika tim lawan bisa keluar dari pressing tinggi para pemain Man United.
Manchester United akan mengandalkanr racikan taktik Ole Gunnar Solskjaer untuk mengalahkan Manchester City. (Action Images via Reuters/Jason Cairnduff) |
Belakangan, strategi itu mengalami perubahan seiring masalah cedera pemain yang menerpa skuatnya. Alhasil, Solskjaer harus beradaptasi dengan pemain yang ada termasuk mengganti formasi menjadi 4-4-2 dengan mengandalkan Romelu Lukaku dan Marcus Rashford di lini depan.
Satu yang paling mencolok dari racikan strategi Solskjaer adalah ia bisa memaksimalkan peran dua pemain yang hampir terlupakan di era Mourinho, yakni Rashford dan Paul Pogba. Keputusan Solskjaer mengubah posisi Rashford dari penyerang sayap ke striker membuatnya lebih produktif dan kini sudah mencetak 13 gol di semua ajang.
Sedangkan Pogba dimainkan sebagai gelandang serang oleh Solskjaer. Di luar performa mengecewakan saat Man United kalah dari Everton, Pogba sedang menjalani salah satu musim terbaiknya dari segi produktivitas dengan torehan 16 gol.
Paul Pogba bermain lebih baik saat Manchester United ditukangi Ole Gunnar Solskjaer. (REUTERS/Andrew Yates) |
Perbedaannya, Guardiola memainkan sepak bola menyerang dengan mengandalkan permainan bola pendek atau yang tersohor dengan sebutan 'tiki-taka'. Gaya bermain ini membuat Guardiola mendominasi kompetisi domestik bersama Barcelona, Bayern Munchen, dan Manchester City.
Guardiola pun tergolong inovatif soal taktik bermain timnya. Meski menggunakan formasi standar 4-3-3, pelatih berkepala plontos ini bisa mengubah strategi permainan saat laga berjalan.
Dalam perjalanan kariernya, Guardiola bahkan pernah mengubah skema 4-3-3 menjadi skema sangat ofensif 3-2-5. Biasanya, ia akan menggunakan bek 'palsu' untuk mendukung formasi ini.
Taktik itu pernah diterapkan Guardiola saat Man City bertemu Arsenal pada musim ini. Fernandinho yang diplot sebagai bek tengah bisa berubah peran sebagai gelandang saat The Citizens menguasai bola.
Sergio Aguero tidak lagi menjadi mesin gol utama Manchester City musim ini. (REUTERS/Phil Noble) |
Kepintaran Guardiola ini pula yang membuat Man City selalu bisa mendominasi permainan, entah itu menghadapi tim papan bawah, papan tengah, hingga papan atas di kompetisi domestik.
Manajer berusia 48 tahun ini pun bisa menyulap Man City menjadi tim yang tidak bergantung kepada satu pemain pun musim ini. Sering absennya Kevin De Bruyne karena bolak-balik cedera bisa digantikan dengan baik oleh Bernardo Silva.
Guardiola juga membuat Raheem Sterling menjadi tumpuan untuk mencetak gol selain Aguero. Meski berperan sebagai penyerang sayap, pemain asal Inggris itu telah mencetak 23 gol atau hanya terpaut tujuh gol dari jumlah gol Aguero musim ini. (jal/jun)
Manchester United akan mengandalkanr racikan taktik Ole Gunnar Solskjaer untuk mengalahkan Manchester City. (Action Images via Reuters/Jason Cairnduff)
Paul Pogba bermain lebih baik saat Manchester United ditukangi Ole Gunnar Solskjaer. (REUTERS/Andrew Yates)
Sergio Aguero tidak lagi menjadi mesin gol utama Manchester City musim ini. (REUTERS/Phil Noble)