Tertinggal 0-3 dari Barcelona di leg pertama membuat sejumlah pihak mengatakan Liverpool membutuhkan Keajaiban Istanbul untuk bisa melangkah ke final Liga Champions untuk kali kedua beruntun. Ketika itu di Stadion Ataturk, Istanbul, 25 Mei 2005, Liverpool berhasil menjadi juara Liga Champions setelah sempat tertinggal 0-3 dari AC Milan di babak pertama.
Tempo permainan tinggi, permainan terbuka, gol cepat, dan banyak peluang emas. Itu adalah sejumlah syarat yang dibutuhkan untuk mendapatkan pertandingan sepak bola yang menghibur. Keempat syarat itu tampak di leg kedua semifinal Liga Champions antara Liverpool vs Barcelona.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Divock Origi bermain gemilang saat Liverpool mengalahkan Barcelona 4-0. (REUTERS/Phil Noble) |
Gol Origi membuat Barcelona untuk kali pertama tertinggal di Liga Champions musim ini. Menarik untuk mengetahui bagaimana Barcelona bereaksi, karena bukan tugas mudah untuk bangkit dari ketinggalan melawan Liverpool di depan puluhan ribu pendukung The Reds di Stadion Anfield. Namun, ternyata Barcelona mampu menunjukkan mental juara.
Liverpool melangkah ke final Liga Champions setelah menyingkirkan Barcelona. (REUTERS/Phil Noble) |
Absennya Mohamed Salah dan Roberto Firmino juga tidak mengurangi ketajaman Liverpool. Xherdan Shaqiri mampu menjawab kepercayaan Juergen Klopp di babak pertama dengan merepotkan Alba dan Origi membuktikan diri dengan mencetak gol cepat.
Liverpool juga patut bersyukur mampu mengakhiri babak pertama dengan keunggulan 1-0, karena Messi terlihat kehilangan sentuhan dalam melakukan penyelesaian akhir. Dua kali La Pulga melepaskan tendangan dan hanya berakhir tipis di sisi kiri gawang Becker. Liverpool juga pantas terima kasih kepada Becker yang melakukan blok penting ketika menggagalkan peluang Alba di injury time babak pertama.
Lionel Messi tidak berhasil memberikan perbedaan di laga Liverpool melawan Barcelona. (REUTERS/Phil Noble) |
Magis Messi Hilang
Di awal babak kedua kiper dari dua tim yang menjadi cerita. Marc-Andre ter Stegen berhasil memblok sontekan Van Dijk di mulut gawang pada menit ke-51 dan beberapa detik kemudian giliran Becker yang menepis tendangan mendatar Luis Suarez.
Cedera yang dialami Andrew Robertson membuat Klopp memasukkan Georginio Wijnaldum dan menarik James Milner sebagai bek kiri. Keputusan itu sedikit mengkhawatirkan pendukung Liverpool karena dengan demikian serangan The Reds dari sisi kiri bisa berkurang. Namun, kekhawatiran itu berubah menjadi sorakan gembira.
Wijnaldum justru berhasil mencetak dua gol untuk Liverpool pada menit ke-54 dan 56. Alba kembali melakukan blunder dengan kehilangan bola di sisi kiri untuk gol pertama Wijnaldum. Trent Alexander-Arnold berhasil merebut bola dan mengirim umpan silang ke Wijnaldum. Sementara gol kedua gelandang asal Belanda itu tercipta setelah memenangi duel udara melawan Gerard Pique dan Clement Lenglet.
Kecerdikan Alexander-Arnold dalam mengambil sepak pojok dengan cepat di saat para pemain Barcelona sedang mengatur lini pertahanan membuat Origi dengan mudah membobol gawang Barcelona. Tiga gol dalam dua laga terakhir, Origi sukses menjawab kepercayaan yang diberikan Klopp.
Kalah 0-4 dan gagal ke final Liga Champions, Barcelona hanya bisa menyalahkan diri sendiri. Tim asuhan Ernesto Valverde itu melakukan kesalahan yang dilakukan Liverpool di leg pertama: payah dalam penyelesaian akhir! (jal)
Divock Origi bermain gemilang saat Liverpool mengalahkan Barcelona 4-0. (REUTERS/Phil Noble)
Liverpool melangkah ke final Liga Champions setelah menyingkirkan Barcelona. (REUTERS/Phil Noble)
Lionel Messi tidak berhasil memberikan perbedaan di laga Liverpool melawan Barcelona. (REUTERS/Phil Noble)