Analisis

Liverpool Rasa Mourinho

Juprianto Alexander, CNN Indonesia | Minggu, 02/06/2019 07:04 WIB
Liverpool Rasa Mourinho Liverpool juara Liga Champions lewat permainan pragmatis. (REUTERS/Susana Vera)
Jakarta, CNN Indonesia -- Liverpool berhasil meraih trofi keenam mereka di Liga Champions setelah mengalahkan Tottenham Hotspur 2-0 pada final Liga Champions di Stadion Wanda Metropolitano, Madrid, Sabtu (1/6) waktu setempat.

Liverpool meraih gelar juara Liga Champions dengan cara yang tidak biasa. Manajer Juergen Klopp tidak memainkan gaya 'heavy metal' yang begitu identik dengan gaya kepelatihannya selama menukangi The Reds.

Liverpool unggul cepat atas Tottenham di pertandingan ini. Tim kota pelabuhan hanya butuh waktu dua menit untuk membobol gawang Hugo Lloris melalui penalti Mohamed Salah.


Penalti itu diberikan wasit asal Slovenia, Damir Skomina, karena gelandang Tottenham, Mohamed Sissoko, menghalau bola umpan Sadio Mane menggunakan lengan.

Skomina menunjuk titik putih dan Salah dengan tenang melepaskan tendangan keras yang menggetarkan gawang Lloris.

Liverpool Rasa Mourinho Saat Juara Liga ChampionsMohamed Salah mencetak satu gol di final Liga Champions. (REUTERS/Susana Vera)
Setelah gol cepat itu, arah permainan berubah. Tottenham menguasai permainan sementara Liverpool hanya sesekali melakukan serangan balik untuk menambah keunggulan.

Taktik 'gegenpressing' yang akrab dengan Liverpool hanya sesekali terlihat sepanjang babak pertama. Salah dkk malah lebih banyak turun ke daerah pertahanan untuk membatasi pergerakan pemain depan Tottenham.

Pendekatan taktik yang lebih pragmatis itu terbukti efektif meredam serangan Tottenham. Praktis, hanya aksi individu Son Heung-min yang kerap merepotkan pertahanan Liverpool meski tidak berujung ancaman berarti ke gawang Alisson.

Liverpool Rasa Mourinho Saat Juara Liga ChampionsLiverpool meraih gelar Liga Champions keenam mereka. (REUTERS/Carl Recine)
Jika mengacu statistik di babak pertama, Liverpool hanya memiliki penguasaan bola sebanyak 36 persen. Sisanya jadi milik Tottenham yang di luar dugaan malah dominan dengan penguasaan bola 64 persen.

Pendekatan gaya bermain Klopp yang lebih mirip mantan manajer Manchester United, Jose Mourinho, tidak berubah di babak kedua. Manajer asal Jerman itu tetap membiarkan Tottenham menguasai bola dan para pemain Liverpool lebih banyak menunggu untuk melakukan serangan balik.

Taktik itu hampir saja jadi bumerang karena di babak kedua serangan The Lilywhites kian bergelombang. Masuknya Lucas Moura menggantikan Harry Winks di babak kedua turut meningkatkan intensitas serangan tim London Utara.

Beruntung Liverpool punya kiper sekelas Alisson Becker di bawah mistar gawang. Kiper asal Brasil itu membuat Moura, Son, hingga Christian Eriksen, kehabisan akal untuk membobol gawangnya. Di sisi lain, Harry Kane yang baru sembuh dari cedera engkel tidak bisa berbuat banyak di laga ini.

Alisson mengagalkan tiga peluang emas dari delapan tembakan tepat sasaran yang didapat Tottenham sepanjang pertandingan. Jumlah peluang ini hampir tiga kali lebih banyak dari Liverpool yang hanya melepaskan tiga tembakan tepat sasaran.

Liverpool Rasa Mourinho Saat Juara Liga ChampionsDivock Origi mencetak gol yang membuat Liverpool di ambang gelar juara Liga Champions. (REUTERS/Kai Pfaffenbach)
Dalam situasi tertekan, Liverpool tanpa diduga sukses menggandakan kedudukan jadi 2-0. Gol yang tercipta pun tidak datang dari skema permainan cepat yang kerap berawal dari pergerakan Sadio Mane maupun Mohamed Salah.

Gol Liverpool datang dari situasi sepak pojok yang dieksekusi James Milner. Bola liar hasil tendangannya mampir ke kaki Divock Origi. Striker yang masuk di babak kedua itu melepaskan tendangan kaki kiri yang bersarang ke pojok gawang Lloris.

Liverpool Rasa Mourinho Saat Juara Liga Champions
Liverpool pun berpesta di stadion milik Atletico Madrid. Namun dari sisi statistik terlihat jelas Liverpool juara tidak lewat permainan menyerang dan dominasi permainan.

Liverpool hanya melakukan tiga tembakan tepat sasaran berbanding delapan milik Tottenham. Selain itu, penguasaan bola Liverpool kalah jauh dari Tottenham dengan 35 persen berbanding 65 persen.

Terakhir, Liverpool sepanjang pertandingan hanya melakukan 272 umpan. Catatan itu kalah jauh dari Tottenham yang melakukan 510 umpan meski akhirnya dominasi dan permainan menyerang anak asuh Mauricio Pochettino tak berujung kemenangan.

Dilansir Opta, rata-rata umpan Liverpool hanya 35,4 persen sekaligus jadi tim pertama yang juara Liga Champions meski penguasaan bola kalah dari tim lawan. Tim terakhir yang punya persentase umpan rendah tetapi jadi juara adalah Inter Milan asuhan Mourinho yang mengalahkan Bayern Munchen tahun 2010.

(nva)