Tanuri Bersaudara, Kunci Geliat Bali United Menuju IPO

CNN Indonesia | Minggu, 23/06/2019 10:30 WIB
Tanuri Bersaudara, Kunci Geliat Bali United Menuju IPO Yabes Tanuri punya peran penting di balik mencuatnya Bali United dalam empat tahun terakhir. (CNN Indonesia/Aulia Bintang Pratama)
Jakarta, CNN Indonesia -- Geliat Bali United hingga bisa melantai di bursa saham tidak lepas dari peran Pieter Tanuri dan Yabes Tanuri. Dua bersaudara ini berhasil mengubah citra Bali United sebagai klub 'ingusan' jadi salah satu klub terkemuka di Indonesia.

Pieter dan Yabes terhitung muka baru di sepak bola Indonesia. Keduanya benar-benar muncul enam tahun setelah dana Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) untuk klub sepak bola disetop pada 2009 lalu.

Pieter jadi yang pertama berkecimpung dalam bisnis sepak bola lokal. Ia masuk jajaran petinggi Persib sekitar delapan tahun lalu.

Ia berada dalam gerbong petinggi Maung Bandung seiring masuknya Glenn Sugita sebagai Direktur Utama Persib pada 2010. Namun, Pieter lebih banyak berada di balik layar tim Perserikatan sebagai salah satu anggota konsorsium PT Persib Bandung Bermartabat.


Tergolong anak baru di sepak bola lokal, Pieter lebih dulu menancapkan kukunya di bidang bisnis. Ia memegang jabatan penting di beberapa perusahaan terkemuka tanah air.

Pieter Tanuri mengajak sang adik, Yabes, untuk membangun Bali United.Pieter Tanuri mengajak sang adik, Yabes, untuk membangun Bali United. (CNN Indonesia/Andito Gilang Pratama)
Pieter merupakan salah satu pendiri perusahaan sekuritas, Tri Megah Securities Tbk. Saat ini pria yang juga menjabat sebagai Anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI itu menduduki jabatan Presiden

Pieter juga menjabat komisaris PT Buana Capital Sekuritas, PT Philadel Terra Lestari, dan Presiden Direktur PT Multistrada Arah Sarana Tbk yang jadi produsen ban Corsa/Achiles.

Nama Pieter akhirnya ke permukaan pada 2015 lalu. Ketika itu, Pieter tertarik untuk terlibat langsung dengan mengelola sebuah klub profesional di Indonesia.

Ia menjajaki kemungkinan tersebut dengan mengakusisi Putra Samrinda. Kebetulan pemilik Pusam, Harbiansyah Hanafiah, sedang kesulitan menjalankan roda ekonomi klub seiring kehadiran Pusamania Borneo FC.

Dalam proses negosiasi dengan Harbiansyah, Pieter melibatkan Yabes yang notabene adik kandungnya. Sejak kemunculan pertamanya, Yabes yang awalnya tidak pernah bersentuhan dengan sepak bola lokal rutin muncul di berbagai kesempatan.

Sama seperti Pieter, Yabes punya latar belakang sebagai pebisnis yang sangat kental. Yabes memegang lisensi perantara pedagang efek, penjamin emisi efek, sekaligus manajer investasi.

Bali United klub pertama Indonesia dan Asia Tenggara yang melakukan IPO.Bali United klub pertama Indonesia dan Asia Tenggara yang melakukan IPO. (ANTARA FOTO/Fikri Yusuf)
Setelah proses akuisisi beres, Pieter menempati posisi sebagai komisaris PT. Bali Bintang Sejahtera, pengelola Bali United. Sementara Yabes menempati posisi sebagai Chief Executive Officer (CEO) Serdadu Tridatu yang setiap harinya terlibat dalam urusan operasional klub.

"Terus terang awalnya seperti itu [diajak Pieter]. Ditelepon dan diajak mau tidak mengurus bola. Dijelaskan ada soal pemasaran, event dan saya rasa menarik juga bikin event organizer karena tidak selalu di balik meja," ujar Yabes dalam wawancara dengan CNNIndonesia.com di Wisma Achiles, Rabu (19/6).

Tanuri Bersaudara, Kunci Geliat Bali United
"Beberapa hari kemudian saya baru dikasih tahu klub yang mau dibeli itu dari Samarinda. Saya bilang, boleh bilang 'tidak' [tidak jadi berkecimpung di bola]? Lalu Pak Pieter bilang nanti kita pindahkan ke Bali. Ya kalau Bali tentu boleh," katanya lagi seraya tertawa.

Dalam perjalanan PT Bali Bintang Sejahtera melebarkan sayap bisnis dengan membentuk beberapa entitas usaha. Dalam dokumen prospektus ada empat anak perusahaan yaitu PT Kreasi Karya Bangsa, PT Radio Swara Bukit Indah, PT Bali Boga Sejahtera, dan PT IOG Indonesia Sejahtera.

Salah satu entitas usaha tersebut yaitu PT Kreasi Karya Bangsa (KKB) yang bergerak di bidang event organizer bahkan turut membantu finansial klub Liga 1 dan Liga 2.

PT KKB ini 90 persen saham dimiliki PT Bali Bintang dan sisanya 10 persen dimiliki Yabes, yang merupakan pendiri Bali United. PT KKB merupakan klub yang membantu Arema FC, PSIS Semarang, PSS Sleman, Semen Padang, hingga dua klub Liga 2 PSMS Medan dan Celebes FC untuk mencari iklan. (jal/har)