ANALISIS

Mengapa Loyalitas Messi Tak Selalu Dihargai?

Putra Permata Tegar Idaman, CNN Indonesia | Senin, 24/06/2019 20:27 WIB
Mengapa Loyalitas Messi Tak Selalu Dihargai? Lionel Messi terus setia bersama Barcelona meski ia sering dituntut pembuktian di tempat lain. (JOSE JORDAN / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menyebut nama Paolo Maldini, Francesco Totti, hingga Ryan Giggs, yang terbayang kemudian adalah kata loyalitas dan kesetiaan. Namun ketika Lionel Messi memilih untuk terus setia bersama Barcelona, anehnya hal itu justru jadi pertanyaan.

Maldini telah melewati bermacam era di Milan. Maldini sudah ada ketika Milan mengandalkan trio Belanda, Ruud Gullit-Frank Rijkaard-Marco Van Basten dan ia masih ada di sana saat Milan bertumpu pada Andrea Pirlo-Kaka-Gennaro Gatusso.

Francesco Totti adalah simbol kesetiaan AS Roma. Dengan skill yang dimiliki oleh Totti, maka ia pernah jadi incaran klub-klub besar Eropa.


Namun Totti memilih untuk tetap tinggal di Roma, meski itu berarti ia harus pensiun dengan gelar yang minim.

Ryan Giggs juga tak pernah berpikir pindah. Bersama Paul Scholes dan Gary Neville, ia adalah pemain yang terus membela Manchester United dari awal hingga akhir karier. Ketiga pemain tersebut adalah simbol sukses 'Setan Merah' di era Liga Primer Inggris.

Selain nama-nama tersebut, masih ada Rogerio Ceni, Franco Baresi, Carles Puyol, Tony Adams, Ledley King, Jamie Carragher, dan sederet nama lainnya yang dikenal sebagai pemain yang loyal dengan satu klub sepanjang kariernya.

Paolo Maldini hanya membela AC Milan sepanjang kariernya.Paolo Maldini hanya membela AC Milan sepanjang kariernya dan mendapat rasa hormat bukan hanya dari penggemar AC Milan. (AFP PHOTO / FILIPPO MONTEFORTE)
Nama-nama di atas adalah nama-nama yang disegani, bahkan oleh mereka-mereka yang bukan pendukung klub tempat sang pemain bernaung.

Hari ini, Lionel Messi sudah berusia 32 tahun. Messi sudah jadi bintang papan atas dunia sejak usianya masih belasan.

Ia kemudian sudah jadi tulang punggung utama Barcelona ketika umurnya masih di awal 20-an.

Messi seringkali menunjukkan hal-hal di luar akal sehat dalam dunia sepak bola. Untuk ukuran individu, hanya Cristiano Ronaldo yang tidak pucat bila disejajarkan dengan Messi.

Pemain-pemain lainnya? Pasti bakal angkat topi untuk Messi.

Untuk ukuran mesin gol, Messi adalah mesin yang tak pernah menurun kualitasnya. Namun soal Messi bukan hanya sekadar mencetak gol karena ia juga terbiasa mengkreasi serangan dan menciptakan banyak assist untuk rekan-rekannya.

Sejauh ini Messi sudah mencetak 671 gol dan 271 assist. Ia telah mengantongi total 32 trofi juara dalam kariernya. Namun di balik fenomenalnya penampilan Messi, masih banyak gugatan bahwa kualitas Messi masih layak diragukan.

Lionel Messi tetap bersinar meski tanpa Xavi Hernandez.Lionel Messi tetap bersinar meski tanpa Xavi Hernandez. (REUTERS/Gustau Nacarino))
Penyebab utamanya adalah ia tak pernah keluar dari Barcelona. Messi dianggap sudah terlalu nyaman di Barcelona dan tak berani menerima tantangan untuk bermain di luar Catalunya.

Tudingan-tudingan ini kemudian menjadi hal yang aneh karena pada akhirnya Messi mendapat perlakuan berbeda.

Di halaman karier pemain lain, seorang pemain bintang bisa dicap pengkhianat jika dia dengan mudahnya tergiur tawaran dari klub lain.

Namun ketika Messi sejauh ini masih setia pada Barcelona, justru Messi yang dihujani keraguan dan tanda tanya tentang kualitasnya.

Ada beberapa faktor kuat yang akhirnya membuat kesetiaan dan loyalitas Messi kemudian malah tidak selalu berbuah pujian.

Faktor pertama jelas Ronaldo. Messi dan Ronaldo adalah rival. Keduanya selalu dibandingkan karena memang hanya Ronaldo yang bisa disejajarkan dengan Messi.

Dalam kariernya, Ronaldo sudah sering berganti klub. Sporting Lisbon, Manchester United, Real Madrid, dan kini Juventus. Kualitas Ronaldo dianggap lebih hebat lantaran sudah teruji di berbagai kondisi dan kompetisi.

Lionel Messi berutang budi pada Barcelona.Lionel Messi berutang budi pada Barcelona. (REUTERS/Heino Kalis)
Faktor kedua, pemain-pemain yang selama ini setia lebih didominasi oleh pemain bukan striker. Sedangkan seorang pemain depan lebih identik dengan berganti-ganti klub dalam perjalanan kariernya.

Tak ada yang mempertanyakan keputusan Maldini yang memilih bertahan di 'Dream Team' Milan tanpa tergerak mencari tantangan baru untuk pembuktian. Tak ada yang menyoroti pilihan Ryan Giggs tetap setia di Manchester United ketika mereka sudah mendapatkan semuanya di sana.

Totti adalah pemain depan, namun fakta bahwa AS Roma tidak sebesar Barcelona membuat langkah Totti memilih bertahan otomatis dibanjiri pujian.

Padahal Messi sendiri punya alasan kuat untuk terus bertahan di Barcelona. Saat ini, Messi seringkali muncul sebagai penyelamat Barcelona, namun jauh sebelum itu, Barcelona lebih dulu jadi penyelamat Messi.

Messi adalah anak yang lahir dengan kelainan hormon pertumbuhan. Dunia nyaris tak punya kesempatan kenal dengan Messi bila Barcelona tak mengulurkan tangan.

Barcelona mencium bakat Messi dan tanpa ragu membiayai pengobatan Messi. Barcelona kemudian jadi tempat Messi untuk tumbuh dan berkembang. Alasan itu rasanya sudah cukup untuk menjadi alasan Messi masih setia.

Banyak yang menganggap Messi tak mau meninggalkan zona nyaman di Barcelona. Ia terbiasa dimanja oleh umpan-umpan Xavi Hernandez dan Andres Iniesta. Messi dinilai punya kebebasan untuk berekspresi tanpa beban berlebihan seperti saat ia berkostum Argentina.

Mengapa Loyalitas Messi Tak Selalu Dihargai?
Para pengkritik itu seperti lupa bahwa Messi tetap bisa berjaya meski Xavi sudah pergi dari Barcelona sejak 2015 dan kemudian Iniesta telah hengkang di 2018. Messi tetap bisa rutin mencetak lebih dari 40 gol setiap musimnya. Gelar-gelar pun terus dimenangkan Messi untuk Barcelona tiap musimnya.

Para pengkritik harus ingat bahwa Messi hebat bukan hanya karena ia dikelilingi pemain-pemain bintang lainnya di Barcelona. Namun Barcelona bisa memasuki periode keemasan dan tampil hebat karena ada Messi di dalamnya.

Ketika penggemar sepak bola memandang hormat pemain-pemain dengan loyalitas tinggi macam Maldini, Totti, dan Giggs, maka sudah seharusnya Messi mendapat perlakuan serupa ketika ia memutuskan Barcelona hingga akhir kariernya. (jun)