Pegawai swasta dari Tangerang, Aji Pramono Putro, mengajak istri dan anak ke Indonesia Open untuk kali pertama. Pada tahun-tahun sebelumnya, Aji tidak pernah kebagian tiket untuk secara langsung mendukung Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu ibu rumah tangga asal Bekasi, Ziza, gagal nonton bulutangkis bersama dua orang anaknya karena kehabisan tiket. Ia tidak beli tiket secara online lantaran memang tidak diniatkan sebelumnya.
Zona bermain bisa usir kebosanan anak di Indonesia Open 2019. (CNN Indonesia/M. Arby Rahmat Putratama H) |
"Riskan juga sih sebenarnya kalau nonton di dalam karena saya bawa anak. Jadi tidak ke dalam, suami saja yang nonton di dalam. Jadi saya ke sini tidak nonton bulutangkis, untungnya ada zona bermain," ucap dia.
Ketua panitia penyelenggara Indonesia Open 2019, Achmad Budiharto mengakui turnamen bulutangkis tahun ini dibuat lebih berwarna. Hal ini dilakukan untuk menarik simpati kaum milenial sesuai dengan target audience yang diinginkan pihak sponsor.
"Kami mengakomodir kid zone [area bermain anak] sebagai salah satu lahan yang cukup menarik di event ini sehingga bisa jadi lahan wisata keluarga. Konsep art dalam ajang ini ditujukan untuk kaum milenial lewat permainan warna dan tatanan yang terkesan modern yang menjadi ciri khas kaum milenial," jelas Budi. (map/jun)
Zona bermain bisa usir kebosanan anak di Indonesia Open 2019. (CNN Indonesia/M. Arby Rahmat Putratama H)