Keputusan Wawan memberikan dua kartu merah kepada kiper Persela Dwi Kuswanto dan gelandang Borneo Wahyudi Hamisi menuai protes. Apalagi, setelah dia memberikan penalti kepada Borneo yang menyebabkan laga berakhir imbang dengan skor 2-2.
Lihat juga:BOPI Ancam Setop Liga 1 2019 |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Malah kalau pelatihnya macam-macam, bisa dikasih kartu kuning dan merah," katanya menambahkan.
Pertandingan Persela Lamongan vs Borneo FC berakhir dengan kontroversi. (ANTARA FOTO/Syaiful Arif) |
"Ini termasuk kesalahan fatal karena pertandingan berhenti 26 menit dan ditonton jutaan mata. Ini seperti sepak bola dagelan. Memangnya sepak bola kita wayang-wayangan? Tidak," tegas dia.
"Kami tidak mau dianggap seperti itu. Mendatang, kami selalu ada penyegaran dan memberikan penjelasan mengenai law of the game kepada para wasit," ucapnya melanjutkan.
Mengenai keputusan wasit, Juni menilai Wawan salah dalam memberikan kartu merah namun tidak dalam hal keputusan tendangan penalti.
Bentrok Persela Lamongan melawan Borneo FC berakhir imbang 2-2. (ANTARA FOTO/Syaiful Arif) |
"Sebelum insiden penandukkan terjadi ada provokasi lebih dulu. Tapi, provokasi itu tidak menyentuh badan kiper. Atas provokasi tersebut, pemain boleh diberikan kartu kuning pertama atau kartu merah jika pemain tersebut sempat mendapat kartu kuning sebelumnya," ujarnya kembali.
"Wahyudi itu belum dapat kartu, jadi wajarnya mendapat kartu kuning. Tapi wasit jangan berikan kartu dulu kepada pemain Borneo, harusnya yang menyundul dulu yang diberikan kartu. Wasit tidak perlu ke pinggir lapangan apalagi bicara ke pelatih Persela [Nilmaizar]," tutur dia.
Pertandingan Persela Lamongan vs Borneo FC berakhir dengan kontroversi. (ANTARA FOTO/Syaiful Arif)
Bentrok Persela Lamongan melawan Borneo FC berakhir imbang 2-2. (ANTARA FOTO/Syaiful Arif)