Federer, Abadi di Level Elite Dunia

CNN Indonesia | Kamis, 08/08/2019 10:18 WIB
Federer, Abadi di Level Elite Dunia Roger Federer masih bisa tampil di level atas hingga saat ini. (REUTERS/Edgar Su)
Jakarta, CNN Indonesia -- Roger Federer bersiap melakukan servis. Papan skor menunjukkan angka 6-3 pada tie break di set ketiga. Dua set sebelumnya, Federer sukses jadi pemenang dengan skor 7-6(7-5) dan 6-2.

Servis tersebut membuat bola meluncur keras. Mark Philippoussis, petenis non unggulan di partai final tersebut, berusaha mengembalikan bola. Bola ternyata membentur net dan gagal menyeberang ke lapangan Federer. Federer keluar sebagai pemenang dengan skor 7-6(7-5), 6-2, 7-6(7-3).

Federer bersimpuh, merentangkan tangan ke atas, dan kemudian tersenyum. Federer seolah tak percaya baru saja memenangkan sebuah gelar grand slam.

Rasa tak percaya tersebut terus terbawa saat ia harus memberikan pidato kemenangan. Dengan suara yang tertahan, Federer menceritakan kesan-kesannya setelah memenangkan turnamen tersebut. Tangis Federer akhirnya pecah ketika ia mulai berterima kasih kepada seluruh pihak yang mendukung.


"Terima kasih kepada semua orang.." lalu Federer menangis sambil mengangkat trofi juara.

----------------------------------------------------
Federer, Abadi di Level Elite DuniaRoger Federer masih terus mengukir prestasi meski kini usianya sudah 37 tahun. (REUTERS/Andrew Couldridge)
Momen itu adalah momen saat Federer berhasil jadi juara grand slam pertama kali pada Wimbledon edisi 2003. Gelar grand slam perdana untuk petenis berusia 21 tahun.

"Tidak ada aturan tentang bagaimana bersikap dalam momen menang atau kalah. Saya adalah tipe orang yang membiarkan air mata mengalir dan saya rasa air mata itu benar-benar jatuh, terlebih ketika orang-orang menyadari bahwa ini adalah realisasi dari mimpi besar saya."

"Ini adalah pertandingan paling penting dalam karier saya. Dan tentu kalian tak akan tahu apa yang benar-benar harus dilakukan pada momen pertama? Saya hanya tahu bahwa saya harus bersimpuh di lapangan dan menikmati apa yang ada," ucap Federer.

Federer saat itu tentu belum sepenuhnya yakin akan jadi petenis terhebat sepanjang sejarah. Banyak nama-nama besar di masa lalu yang harus dilalui, belum rival-rival kuat yang ada di era itu macam Lleyton Hewitt atau Andy Roddick.

"Saya tentu tak akan sering memenangkan trofi besar. Ketika saya melihat trofi itu dan memegangnya, maka itu adalah sesuatu yang selalu diimpikan."
Federer, Abadi di Level Elite DuniaRoger Federer sudah meraih gelar 102 gelar sepanjang kariernya. (REUTERS/Carl Recine)
"Jadi kemudian saya akan merasa: Apakah saya bermimpi? Apakah ini nyata?" ucap Federer saat itu.

Namun pada akhirnya grand slam Wimbledon 2003 adalah awal dari kejayaan Federer. Di tahun-tahun berikutnya, Federer begitu mudahnya memenangkan gelar grand slam.

Australia Open, Wimbledon, dan US Open adalah grand slam yang sering dimenangkan oleh Federer dari tahun ke tahun. Hingga pengujung 2008, koleksi grand slam Federer sudah melonjak ke angka 13. Hanya dalam rentang waktu empat tahun, Federer sudah dianggap sebagai penantang serius pemecah rekor Pete Sampras.

Air mata Federer bukan hanya tentang kegembiraan. Ada pula air mata yang tumpah di momen kesedihan. Saat kalah dari Nadal di final Australia Open 2009, Federer menangis.

Namun tahun 2009 akhirnya jadi tahun yang menggembirakan untuk FedEx. Ia melengkapi Career Grand Slam dengan menjadi juara French Open untuk pertama kali dalam kariernya. Rekor Sampras akhirnya dilewati dengan kemenangan di Wimbledon 2009.

Federer, Abadi di Level Elite DuniaRoger Federer belum menunjukkan tanda-tanda bakal pensiun. (Geoff Burke-USA TODAY Sports via REUTERS)
Federer seolah kesulitan menambah gelar grand slam ketika trofi grand slam ke-17 dalam kariernya dimenangkan di Wimbledon 2012. Namun ternyata lima tahun berselang, lahir gelar grand slam ke-18, 19, dan 20 Federer.

Hingga tahun ini, Federer bahkan masih sanggup lolos ke final Wimbledon.

Melihat Federer Bermain, Tenis Terasa Mudah

Jika melihat Roger Federer bermain, maka hal yang umum dipikirkan orang awam adalah betapa mudahnya bermain tenis.

Federer bisa dengan mudah mengarahkan bola ke seluruh penjuru lapangan. Padahal, butuh teknik dan kekuatan tangan luar biasa untuk bisa melakukan hal tersebut.

Belum lagi bila melihat kehebatan Federer dalam melakukan blocking dan volley shot dari depan net. Hal-hal itu yang membuat penonton tenis sering berdecak kagum memandangi Federer yang bisa dengan mudahnya mematikan langkah lawan dengan drop shot di depan net.

Dua dekade melihat gaya tenis Federer, petenis asal Swiss itu seolah ditakdirkan memiliki bakat alam besar. Federer seolah menari di lapangan. Ia sangat kuat dalam pukulan dari baseline tetapi bisa tiba-tiba bergerak ke depan dan mematikan langkah lawan di pukulan berikutnya.

Pelatih kebugaran Federer, Pierre Paganini menyatakan petenis berusia 38 tahun ini selalu berjuang keras dalam sesi latihan. Hal itu yang tak berubah dari diri Federer, baik saat ia masih jadi petenis muda, ada di level elite dunia, hingga kini ada di pengujung waktu dalam kariernya.

Federer, Abadi di Level Elite DuniaRoger Federer meraih gelar grand slam pertama di Wimbledon 2003. (REUTERS/Andrew Boyers)
"Ketika kalian melihat orang berdansa, kalian seolah tak melihat usaha fisik keras di belakangnya. Dengan potensi yang dimiliki Federer, ia seolah membuat kita semua lupa ada usaha keras di dalamnya."

"Semua tentu tahu bahwa talenta tanpa usaha tidak akan cukup. Roger sudah menyadari itu sebelum berusia 20 tahun. Dia punya kesadaran yang tinggi sebagai seorang atlet. Ketika berhubungan tentang kekuatan, dia butuh kerja keras untuk memberikan perbedaan pada seluruh aspek," kata Paganini.

Selain latihan disiplin, hal lain yang membuat Federer tetap ada di level elite adalah gairah dan hasrat yang ia miliki terhadap tenis.

"Dia terus berumur panjang di dunia tenis dan terus membuat sejumlah peningkatan pada permainannya. Kemampuan fisiknya masih bagus dan kondisi mental miliknya sama seperti atlet yang baru memulai kariernya."

"Rahasianya? Gairah. Itu adalah sebuah kata yang mudah dan sering digunakan oleh banyak orang," tutur Paganini.

Federer, Abadi di Level Elite Dunia
Namun gairah yang dimiliki Federer adalah gairah alamiah. Paganini menyebut Federer tak perlu bersusah payah mempertahankan hasrat untuk berprestasi di tengah banyaknya gelar juara yang telah ia menangkan.

"Gairah adalah filosofi hidup, setiap hari, yang membuat Federer bisa tetap menjalani kehidupan sebagai petenis saat ia juga menjalani kehidupan biasa."

"Federer sudah menemukan kombinasi tepat dalam dua hal tersebut. Federer tetap sosok yang sama, baik dalam menjalani kehidupan, saat bermain tenis, ataupun saat latihan. Jadi, dia tak butuh untuk berubah [demi mempertahankan hasrat]," ujar Paganini.

Federer telah menghiasi dunia tenis dengan hal-hal hebat dalam dua dekade terakhir. Menginjak usia 38 tahun, Federer tentu makin dikaitkan dengan rencana pensiun. Keputusan Federer pensiun nanti tentu bakal jadi salah satu berita buruk yang bakal ada dalam sejarah tenis dunia.

Selamat ulang tahun, Federer! (ptr/jun)