ANALISIS

Neymar Bukan Bintang Besar, Barcelona

Ahmad Bachrain, CNN Indonesia | Kamis, 15/08/2019 07:28 WIB
Neymar Bukan Bintang Besar, Barcelona Neymar tak akan bisa menjadi bintang besar seperti Messi dan Ronaldo. (FRANCK FIFE / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Neymar mungkin pulang ke Barcelona. Spekulasi itu semakin berembus kencang setelah penyerang Paris Saint Germain (PSG) itu dikabarkan bakal tes medis bersama Blaugrana pada Jumat (16/8).

PSG kemungkinan mulai melunak untuk menerima tawaran Blaugrana. Tim raksasa Eropa asal Catalunya tersebut hanya mau mengeluarkan uang sebesar 100 juta euro.
Angka itu plus tambahan dua pemain Barcelona yaitu Philippe Coutinho dan Ivan Rakitic. Pemilik PSG, Nasser Al Khelaifi, sempat menolak penawaran Barca.

Neymar pun mengancam mogok main jika PSG tetap menahannya. Pasalnya, penyerang timnas Brasil itu bersikeras ingin segera ke luar dari Les Parisiens. Tujuan utamanya adalah kembali ke Barcelona.

Kemungkinan PSG bakal mengabulkan keinginan sang pemainnya untuk hengkang. Rugi 122 juta lantaran membeli pemain itu sebesar 222 juta, Les Parisiens tambahan dua pemain Barca tersebut dirasa cukup bagi mereka.


Neymar tinggalkan Barcelona ke PSG dengan nilai transfer 222 juta euro. (Neymar tinggalkan Barcelona ke PSG dengan nilai transfer 222 juta euro. (REUTERS/Christian Hartmann)
Apakah 'Si Anak Nakal' itu masih pantas berstatus bintang besar yang layak direkrut kembali Barcelona?

Penawaran Barca yang harus melepas Coutinho dan Rakitic plus 100 juta euro untuk Neymar pun agaknya tetap berlebihan.

Cukup PSG yang melakukan kesalahan membeli Neymar dengan harga gila setara Rp3,5 triliun. Nyatanya, kualitas penyerang 27 pemain itu tak sepadan dengan harganya.

Neymar Bukan Bintang Besar, Barcelona
Status Neymar sebagai pemain paling mahal di dunia justru menimbulkan kecemburuan di antara para pemain lainnya. Situasi makin tidak kondusif lantaran sikap si pemain yang disebut-sebut tidak simpatik.

Musim pertama di PSG pada 2017/2018, Neymar sudah terlibat perseteruan dengan striker lainnya, Edinson Cavani. Konflik saat itu dipicu rebutan dua pemain itu untuk menendang penalti ke gawang lawan.

Neymar dan Cavani pernah berebut jadi eksekutor penalti ke gawang Lyon. (Neymar dan Cavani pernah berebut jadi eksekutor penalti ke gawang Lyon. (Foto: AFP PHOTO / CHRISTOPHE SIMON)
Neymar memang pernah bersinar di Blaugrana. Namanya pernah tersemat dengan dua bintang lainnya yakni Luis Suarez dan Lionel Messi. Mereka menjadi trio MSN di Barcelona yang paling ditakuti kala itu.

Selama di Barcelona, dia pernah meraih trofi Liga Champions pada 2014/2015. Neymar juga pernah meraih dua trofi La Liga Spanyol pada 2014/2015 dan 2015/2016. Gelar paling banyak yang pernah dicicipi di Barca adalah Copa del Rey sebanyak tiga kali pada 2015, 2016, dan 2017.

Dengan deretan koleksi tersebut, Neymar memutuskan hengkang setelah empat musim memperkuat Barcelona. Nama besar Messi disebut-sebut menjadi alasan baginya untuk meninggalkan Barca dan menerima pigangan PSG saat itu.

Neymar tak mau jadi yang kedua. Neymar ingin menjadi bintang besar.

Kepergiannya juga sempat bermasalah. Barca ogah membayar bonus dan hak citranya lantaran pemain itu memilih pergi.

Di PSG, Neymar malah merasa nelangsa. Ambisinya untuk mengatrol Les Parisiens terutama di Liga Champions, jauh dari ambisinya.

Neymar gagal membawa PSG, bahkan ke semifinal Liga Champions dalam dua musim belakangan.
[Gambas:Video CNN]
Skill Neymar yang luar biasa sempat membuat dirinya digadang-gadang bakal menggantikan Cristiano Ronaldo dan Messi sebagai bintang besar bersinar terang.

Kepercayaan diri sang pemain juga sempat membuat dirinya digadang-gadang menjadi bintang. Dia selalu tak ambil pusing dengan kritikan sejumlah pihak soal segudang gaya rambutnya dan aksi-aksi diving di lapangan.

Namun di usianya yang kini 27 tahun, rasanya naif jika mengatakan Neymar sejajar dengan Ronaldo dan Messi. Ya, dia tak akan berpendar seterang dua bintang tersebut.

Sikapnya dalam merespons setiap krisis yang pernah menimpanya menunjukkan dia bukan bintang.

Ketiadaannya dalam satu tim juga jadi indikasi bahwa dia bukan bintang. Tengok saja ketika timnas Brasil melakoni Copa America 2019.

Neymar tidak ikut karena cedera. Tanpa penyerang tersebut, Brasil tak kedodoran di turnamen itu. Selecao malah mampu menyabet gelar juara di rumah sendiri.

Pemain kelahiran Mogi das Cruzes, Brasil, tersebut juga tak menghargai talenta dan tubuhnya sendiri sebagai aset penting. Beda dengan Ronaldo dan Messi, mereka selalu sangat berhati-hati mengasah dan menjaga dua hal itu.

Neymar bukan Messi dan Ronaldo yang selalu peduli menjaga diri sebagai aset terpenting mereka. (Neymar bukan Messi dan Ronaldo yang selalu peduli menjaga diri sebagai aset terpenting mereka. (Foto: AFP PHOTO / OLIVIER MORIN)
Predikat bintang tak membuat keduanya terlena. Ronaldo dan Messi tidak cedera kebetulan saat sang adik ulang tahun.

Neymar juga disebut terlalu banyak hura-hura. Saat masa-masa sibuk bursa transer musim ini, dia dikabarkan berpesta pora di Amerika Serikat. Padahal, dia sempat berlatih bersama rekan-rekannya di PSG jelang Ligue 1 dimulai.

Sang pemain bahkan tak tampil pada laga perdana Les Parisiens saat menghajar Nimes 3-0 di Ligue 1. Pada laga tersebut, para fan mengekspresikan kekesalan mereka dengan spanduk dan teriakan berupa caci maki kepada Neymar.

Alasan lainnya sang pemain bukan bintang besar adalah para fan. Neymar nyaris tak memiliki penggemar fanatik seperti Messi dan Ronaldo. Coba saja media usil dengan dua pemain tersebut, para fan mereka pasti mengamuk.

Kembalinya 'Si Anak Nakal' ke Barcelona juga rawan membuat situasi tak kondusif terutama di lini belakang. Kehadiran Neymar memang bisa menambah sengit persaingan sehingga mereka harus bekerja keras.

Meski demikian, persaingan untuk memperebutkan posisi starter bisa berubah menjadi konflik. Bayangkan saja, sudah ada tiga pemain bintang di Blaugrana yaitu Messi, Suarez, dan Antoine Griezmann.
Jika Neymar masuk, ada empat pemain yang tentu punya ego kebintangan. Di satu sisi, sangat sulit bagi sang pelatih untuk memainkan keempatnya di lini depan. Harus ada nama yang tersingkir dalam perebutan starter di lini depan.

Kendati demikian, upaya mengembalikan Neymar sepertinya menjadi solusi bagi Barcelona dan PSG.

Les Parisiens sadar betul bahwa tak mungkin memaksakan Neymar bermain sementara hatinya sudah tidak di sana. Barcelona juga merasa mentok dengan penampilan Coutinho dan Rakitic yang dianggap melempem.

Dengan demikian, pertukaran tersebut cukup impas. (har)