Kevin/Marcus layak jadi pemain yang paling kecewa di Kejuaraan Dunia 2019. Berstatus sebagai unggulan nomor satu dunia, Kevin/Marcus justru harus terjungkal di pertandingan pertama.
Kekecewaan makin terasa karena ini adalah kali ketiga Kevin/Marcus gagal jadi juara dunia. Bahkan untuk sekadar meraih medali, Kevin/Marcus tak mampu mendapatkannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kevin/Marcus mengalami kekalahan menyakitkan di Kejuaraan Dunia 2019. (Dok. Humas PBSI) |
Menilik laga-laga tersebut, duel lawan Choi/Seo adalah pertandingan terberat yang dijalani oleh Kevin/Marcus di China.
Kevin/Marcus dua kali berada di ambang maut. Choi/Seo meraih match point pada angka 20-19 dan 21-20. Tetapi dua momen tersebut bisa digagalkan oleh Kevin/Marcus.
Minions mampu tampil dingin dan tidak terbawa oleh psywar Choi/Seo, baik saat momen mereka melakukan servis atau momen ketika meminta lapangan dibersihkan untuk mengganggu ritme permainan Kevin/Marcus.
Kevin/Marcus telah meraih lima gelar di tahun ini. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono) |
Minions melewati tiga laga berikutnya dengan sangat baik. Gelar China Open pun berhasil mereka dekap di akhir turnamen.
[Gambas:Video CNN]
Minions Tak Jatuh Terpuruk
Kevin/Marcus telah dua tahun jadi pebulutangkis nomor satu dunia. Posisi mereka tidak bisa digoyahkan oleh ganda-ganda lain.
Tiap turnamen digelar, maka kalimat 'Minions adalah favorit juara' akan selalu keluar.
Meski bermain dengan tekanan hebat seperti itu, Minions mampu membuktikan bahwa mereka adalah ganda yang kuat menghadapi tekanan. Pada tahun ini, Kevin/Marcus mampu memenangkan lima gelar juara dan jumlah itu masih bisa bertambah hingga akhir tahun nanti.
Kevin/Marcus merebut dua gelar Super 1000, Indonesia Open dan China Open. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono) |
Di luar kehebatan Kevin/Marcus, kata terpuruk dialamatkan pada mereka karena mereka gagal juara dunia. Dalam kaca mata orang banyak, Kevin/Marcus memang wajib jadi juara dunia karena mereka sangat layak.
Sial bagi Kevin/Marcus, fase turun yang wajar terjadi bagi tiap pebulutangkis, justru selalu mereka alami ketika tampil di Kejuaraan Dunia.
Situasi yang dihadapi Minions memang penuh dilema. Bila menunjuk mental sebagai alasan kegagalan di kejuaraan dunia, Minions sudah membuktikan dalam banyak pertandingan mereka merupakan ganda dengan kepercayaan diri yang di atas rata-rata.
Tekanan dalam diri sendiri adalah alasan paling tepat yang bisa ditunjuk sebagai sebab kegagalan Minions di Kejuaraan Dunia. Tekanan berupa anggapan bahwa Kevin/Marcus jadi juara dunia dianggap sebagai hal yang sudah semestinya.
Lihat juga:Nasib Persiwa Wamena Kini |
Situasi yang dialami Minions berbeda Zheng Siwei/Huang Yaqiong. Siwei/Yaqiong juga dominan dalam seri BWF Tour tetapi mampu merebut gelar juara dunia.
Kevin/Marcus terus berhadapan dengan tekanan besar. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono) |
Sementara itu Kevin/Marcus dominan di tengah persaingan ketat ganda putra. Dari segi kekuatan, ganda putra sejatinya punya pemain-pemain dengan kualitas merata. Musuh berat Kevin/Marcus bukan hanya pemain-pemain papan atas, bahkan juga hingga mereka yang ada di jajaran 20 besar dunia.
"Setelah kami turun podium, kami bukan lagi pemain juara. Kami harus berusaha lagi."
Kalimat itu pernah diucapkan Kevin dan Marcus dalam kesempatan wawancara. Lewat semangat seperti itu, Kevin/Marcus bakal terus berjalan melewati turnamen-turnamen yang ada di depan mata.
Sambil menyimpan luka karena belum memenangkan kejuaraan dunia, Kevin/Marcus bakal terus berusaha meningkatkan kualitas agar mereka bisa tampil dominan di persaingan nomor ganda putra. Bukan sekadar dari segi perolehan juara, melainkan pula dari segi penampilan dan kualitas di arena. (bac)
Kevin/Marcus mengalami kekalahan menyakitkan di Kejuaraan Dunia 2019. (Dok. Humas PBSI)
Kevin/Marcus telah meraih lima gelar di tahun ini. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Kevin/Marcus merebut dua gelar Super 1000, Indonesia Open dan China Open. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Kevin/Marcus terus berhadapan dengan tekanan besar. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)