Aksi Praveen yang tak disiplin dengan membolos latihan sebelum tur Eropa diganjar Surat Peringatan 2 (SP2). Kepala pelatih ganda campuran Richard Mainaky bereaksi keras dan mengancam memberikan sejumlah hukuman untuk Praveen, termasuk tak bisa ikut turnamen badminton level Super 750 di Eropa: Denmark dan French Open.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Praveen/Melati mampu memberikan pembuktian lewat dua gelar di dua turnamen Eropa, Denmark dan Prancis. (dok. PBSI) |
Bukan hanya Praveen. Ini juga ajang pembuktian bagi Melati. Sebagai generasi junior tepat di bawah Liliyana Natsir, Melati membawa tekanan besar untuk bisa meneruskan prestasi sang legenda yang akrab disapa Butet itu.
[Gambas:Video CNN]
Menyandang status gelar juara dunia junior 2012, permainan Melati di tingkat senior tak kunjung berkembang. Di turnamen sekelas Super Series, Melati sering kali tertahan di babak pertama dan kedua.
Barulah saat dipasangkan dengan Praveen yang ditinggal pensiun Debby Susanto, Melati mulai bertaji. Mereka kali pertama dipasangkan pada awal 2018 di Malaysia Masters. Setahun kemudian, Praveen/Melati mulai merangsek ke jajaran papan atas atas dan baru saja dua kali naik podium juara.
Dua gelar juara dalam dua minggu berturut-turut ini tak diraih dengan mudah. Mereka mesti bertarung melawan ganda nomor satu dunia plus juara dunia, Zheng Siwei/Huang Yaqiong.
Praveen/Melati meraih juara dengan mengalahkan Zheng Siwei/Huang Yaqiong, yaitu di semifinal Denmark Open dan final French Open. (dok. PBSI) |
Di Prancis, Praveen/Melati menggagalkan unggulan kedua dan juga ganda nomor tiga dunia dari Thailand Dechapol Puavaranukroh/Sapsiree Taerattanachai di babak perempat final. Mereka kembali mengalahkan Siwei/Yaqiong lewat permainan apik di partai puncak 22-24, 21-16, dan 21-12.
Sepanjang 2019 sebelum turnamen Eropa, Praveen/Melati sempat empat kali masuk final. Namun keberuntungan belum berpihak pada Praveen/Melati di India Open, New Zealand Open, Australia Open, dan Japan Open. Pertandingan di final itu selalu berakhir dengan kekalahan dan mereka harus puas berdiri di podium runner up.
Sebelum memetik dua sukses beruntun, Praveen/Melati sering gagal di partai final. ( Dok. PBSI) |
Kegagalan yang berulang juga sempat jadi mimpi buruk yang menakutkan plus menyakitkan. Mimpi buruk itu akhirnya berhasil dienyahkan di Denmark dan sukses kemudian mulai menjelma jadi rutinitas ketika mereka berlaga di Prancis sepekan berselang.
Setelah memutus dahaga juara, Praveen/Melati bakal dituntut untuk membuktikan konsistensi mereka di setiap turnamen elite. Dua juara dalam dua pekan ini cukup untuk membuat Praveen/Melati ditakuti lawan di turnamen berikutnya. Praveen/Melati harus bisa memanfaatkan momentum ini untuk membuat mereka tampil lebih percaya diri.
Dalam waktu dekat mereka akan tampil di Fuzhou China Open Super 750 dan Hong Kong Super 500. Di pengujung tahun, Praveen/Melati juga berlaga di SEA Games 2019 dan World Tour Finals di Guangzhou, China.
Tahun depan tantangan besar juga menanti untuk dapat merebut gelar juara yang lebih prestisius seperti Olimpiade 2020. Terlebih nomor ganda campuran juga memiliki beban mempertahankan emas milik Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir di Olimpiade 2016.
Sukses Praveen/Melati tentu diharapkan bisa jadi pemantik semangat dan cambuk motivasi bagi ganda campuran lainnya. Hafiz/Gloria yang ada di peringkat kesembilan dunia juga harus membuktikan bisa konsisten bersaing dengan ganda top dunia dan merebut gelar juara.
Selain itu, Tontowi juga harus membuktikan bisa membimbing pemain yang lebih junior seperti Winny Oktavina Kandow. Rinov Rivaldy/Pitha Haningtyas Mentari juga harus berusaha untuk bisa masuk dan naik kelas ke jajaran ganda campuran top dunia.
Karena untuk jadi juara, teguran tak harus selalu lebih dulu dikeluarkan, bukan? (har)
Praveen/Melati mampu memberikan pembuktian lewat dua gelar di dua turnamen Eropa, Denmark dan Prancis. (dok. PBSI)
Praveen/Melati meraih juara dengan mengalahkan Zheng Siwei/Huang Yaqiong, yaitu di semifinal Denmark Open dan final French Open. (dok. PBSI)
Sebelum memetik dua sukses beruntun, Praveen/Melati sering gagal di partai final. ( Dok. PBSI)