Rossi memulai musim 2019 dengan hasil cukup bagus yaitu finis di posisi kelima di MotoGP Qatar lalu jadi runner up di dua seri beruntun, yaitu di MotoGP Argentina dan MotoGP Amerika Serikat. Rossi pun masuk bursa juara.
Lihat juga:Marquez 'The One Man Show' |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bila Rossi tampil menggila di paruh kedua, maka tiga kali gagal finis tersebut yang bakal jadi kambing hitam kegagalan Rossi jadi juara dunia. Nyatanya, Rossi tidak pernah menunjukkan penampilan sensasional. Finis terbaik Rossi setelah paruh musim adalah di posisi keempat yang didapat di MotoGP Austria, MotoGP Inggris, MotoGP San Marino, dan MotoGP Malaysia.
Valentino Rossi meraih hasil buruk di MotoGP 2019. (Bradley Collyer/PA via AP) |
Tiap seri dilalui Rossi dengan komentar yang hampir sama. Motor YZR-M1 miliknya tak bergerak sesuai keinginan dan tidak cukup kompetitif untuk bersaing di baris depan.
Lihat juga:Jadwal Semifinal Hong Kong Open 2019 |
Fabio Quartararo yang juga menunggangi Yamaha bahkan beberapa kali merebut pole position dan jadi musuh utama Marc Marquez dalam sejumlah seri.
Valentino Rossi jarang bersaing di baris depan. (Marco Bertorello / AFP) |
The Doctor lebih sering berkutat di papan tengah, bersusah-payah berebut posisi di tengah kepadatan pebalap-pebalap lain. Hal tersebut sering terjadi karena posisi start Rossi yang tidak bagus.
Di saat Rossi bersusah-payah di kepadatan pebalap, Marquez dan kawan-kawan terus melesat di rombongan depan sehingga mustahil bisa dikejar Rossi ketika ia sudah keluar dari kerumunan pebalap lain.
Rossi mengakhiri MotoGP 2019 dengan hasil terburuk bila dibandingkan musim-musim lainnya bersama Yamaha.
[Gambas:Video CNN]
Motor yang belum kompetitif dan konsisten patut diakui sebagai salah satu faktor penghambat Rossi. Namun faktor Rossi yang juga sudah mulai kehilangan taring di MotoGP juga tidak bisa dikesampingkan.
Dengan usia 40, Rossi harus bertarung menghadapi jadwal padat yang menguras fokus dan stamina. Ia harus beradu dengan pebalap-pebalap yang belasan tahun lebih muda dan memiliki keunggulan dalam dua faktor tersebut.
Menatap MotoGP 2020
Rossi sudah mulai memikirkan musim MotoGP 2020 dengan melakukan sejumlah uji coba pada motor. Seperti musim lalu, Rossi merasa motor Yamaha YZR M1 tidak cukup menggigit meski ia mengakui Quartararo dan Vinales bisa mengendalikan motor dengan lebih baik.
Rossi juga sudah melakukan pergantian kepala mekanik sebagai persiapan menyambut musim depan. Hal tersebut diyakini sebagai jurus terakhir The Doctor untuk mengubah peruntungan di musim depan.
Valentino Rossi tinggal punya sisa kontrak satu musim di Yamaha. (AP Photo/Petr David Josek) |
Yamaha tidak akan rugi bila memilih mempertahankan Rossi selepas MotoGP 2020 karena The Doctor masih punya nilai jual tinggi di MotoGP.
Namun tekad Rossi juga jadi penentu penting dalam pengambilan keputusan. Bila Rossi menerima ia mulai jadi sekadar penggembira, ia akan sukarela bertahan di Yamaha meski kembali meraih hasil buruk di MotoGP 2020.
Tetapi bila mental juara dan harga diri Rossi dominan, pebalap Italia itu bakal memilih mundur karena tak lagi sanggup mengikuti ritme pebalap-pebalap lain.
Hasil bagus MotoGP 2020 tentu bakal jadi jalan tengah yang diinginkan Rossi dan Yamaha. Jika Rossi bisa berprestasi di MotoGP 2020, peluang untuk tetap balapan di musim berikutnya terasa lebih memungkinkan, baik dari sudut pandang Yamaha maupun The Doctor.
Tanpa itu, Rossi bakal kembali jadi 'ompong' di tahun depan, seperti yang ia tunjukkan musim ini. (bac)
Valentino Rossi meraih hasil buruk di MotoGP 2019. (Bradley Collyer/PA via AP)
Valentino Rossi jarang bersaing di baris depan. (Marco Bertorello / AFP)
Valentino Rossi tinggal punya sisa kontrak satu musim di Yamaha. (AP Photo/Petr David Josek)