Saya anak kedua dari lima bersaudara. Kami hidup dalam serba keterbatasan. Tetapi orang tua terus berjuang menghidupi kami. Kakak saya berhenti sekolah dan kemudian membantu bapak saya bekerja untuk menghidupi kami berempat untuk bersekolah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Entah itu satu lawan satu atau tawuran. Hal itu saya anggap sebagai sebuah kenakalan remaja karena sebab perkelahian bisa apa saja.
Ongen Saknosiwi sulit jajan semasa sekolah karena tidak memiliki uang. (CNN Indonesia/ Hesti Rika) |
Saat sekolah SMA di Ambon, hanya beberapa kali saya menerima uang kiriman orang tua. Saya juga berpikir bahwa di kampung masih ada adik-adik saya dan saya tidak ingin membebani orang tua.
Untuk bisa memiliki uang, saya bekerja serabutan. Saya kadang ikut bantu-bantu jadi kuli bangunan. Saya sekolah di pagi hari dan kemudian bekerja sore.
Ongen Saknosiwi mengenal tinju sejak SMA. (dok. Mahkota Boxing Series) |
Mulai Berlatih Tinju
Saat saya kelas tiga, saya datang ke gimnasium dan bertemu pelatih tinju bernama Pak Simon Nahumury. Saya bilang bahwa saya ingin ikut latihan tinju. Pak Simon langsung meminta saya datang esok harinya.
Sejak itu, saya bergabung latihan tinju setiap pulang sekolah. Saya mulai berlatih tinju karena hobi dan ingin berprestasi.
Ketika pertama kali berlatih tinju, saya sama sekali tidak merasa berat dan kelelahan. Mungkin karena sejak kecil saya sudah sering ke kebun, sering kerja keras. Jadi latihan tinju tidak terlalu berat untuk dijalani.
Tiga bulan berlatih tinju, saya ikut kejuaraan. Pertama kali naik ring untuk bertanding, saya merasa gugup. Saya tegang, keluar keringat tetapi merasa udara dingin. Saya demam panggung.
[Gambas:Video CNN]
Tetapi saya langsung jadi juara di turnamen itu. Saya tiga kali main untuk jadi juara. Jadi, tiga bulan turnamen, saya langsung juara.
Setelah menang, saya langsung dapat beasiswa dari sekolah hingga lulus.
Seiring saya aktif mengikuti berbagai turnamen tinju, ada tawaran dari Pak AKP Wim Sapulete [mantan petinju yang juga berprofesi sebagai polisi] untuk melanjutkan karier tinju di Tangerang setelah saya lulus SMA di tahun 2011.
Saat itu, saya hanya modal nekat saja menerima tawaran itu. Setelah saya dibelikan tiket, saya pergi ke Jakarta hanya dengan modal uang Rp5.000 di kantong.
Setelah tiba di Tangerang, saya berlatih di sasana milik Pak Wim. Saya berutang budi pada beliau dan keluarganya karena mereka yang menampung saya selama di Tangerang.
Ongen Saknosiwi sulit jajan semasa sekolah karena tidak memiliki uang. (CNN Indonesia/ Hesti Rika)
Ongen Saknosiwi mengenal tinju sejak SMA. (dok. Mahkota Boxing Series)
Ongen Saknosiwi berhasil jadi prajurit TNI AU dan tetap bisa menekuni dunia tinju. (CNN Indonesia/ Hesti Rika)
Bergabung dengan Mahkota membuat Ongen Saknosiwi bisa punya jalan bagus menuju pertarungan perebutan gelar juara dunia. (dok. Mahkota Boxing Series)
Ongen menilai perjalanannya di dunia tinju masih panjang. (dok. Mahkota Boxing Series)