Hakan Sukur dan Atlet yang Tinggalkan Turki di Rezim Erdogan

CNN Indonesia | Selasa, 14/01/2020 17:10 WIB
Hakan Sukur dan Atlet yang Tinggalkan Turki di Rezim Erdogan Hakan Sukur (kiri) memilih jadi sopir taksi online di AS karena asetnya di Turki dibekukan Tayyip Erdogan. (VALERY HACHE / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Mantan pesepakbola Liga Italia, Hakan Sukur, meninggalkan Turki di rezim Presiden Recep Tayyip Erdogan. Mantan pemain Parma dan Inter Milan itu memilih tinggal di Amerika Serikat (AS).

Bukan hanya mantan pemain timnas Turki itu yang memutuskan pergi dari Turki. Ada pula atlet basket asal Turki, Enes Kanter, yang menegaskan tak akan kembali ke Turki selama Erdogan masih berkuasa.

Hakan Sukur baru-baru ini mengungkapkan perjuangannya menjadi sopir taksi online di Washington, AS. Dia melakukan itu karena seluruh asetnya di Turki telah dibekukan Erdogan.


"Tak ada lagi yang tersisa, Erdogan mengambil semuanya: kebebasan saya, kebebasan berekspresi, dan hak untuk bekerja."

"Saya merasa tidak melakukan hal yang melawan hukum. Saya bukan pengkhianat atau teroris. Mungkin saya musuh pemerintah, tapi bukan musuh negara Turki," ujar Hakan Sukur kepada Welt am Sonntag dikutip dari Football Italia.

Enes Kanter kerap melontarkan kritikan terhadap pemerintahan Erdogan di Turki. (Enes Kanter kerap melontarkan kritikan terhadap pemerintahan Erdogan di Turki. (Foto: Mike Stobe/Getty Images/AFP)
Setelah pensiun sebagai pesepakbola, mantan kapten timnas Turki itu terjun ke dunia politik praktis.

Dia kemudian masuk dalam barisan oposisi pemerintah di bawah Erdogan. Hakan Sukur memilih menetap di AS setelah kerap mendapatkan perlakuan buruk dari pemerintah Turki.

Sementara itu, Enes Kanter juga mendapat perlakuan yang sama buruknya dengan Hakan Sukur di bawah rezim Erdogan. Pemain klub Liga Basket AS NBA, Boston Celtic itu termasuk pengkritik Erdogan.

Hakan Sukur dan Atlet yang Tinggalkan Turki di Rezim Erdogan
Lantaran kritikan tersebut, dia mengaku kerap mendapatkan ancaman dari para pesuruh Erdogan yang disebutnya pemimpin otoriter. Kanter bahkan mengklaim bahwa dia hampir diculik saat menyambangi Indonesia.

"Pria yang melakukan itu [mencabut paspor Kanter], Anda tahu, Recep Tayyip Erdogan, Presiden Turki. Dia pernah menyerang orang-orang di Washington DC."

"Dia adalah manusia buruk. Dia adalah diktator dan [Adolf] Hitler abad ini," demikian ujar Kanter dalam video yang memberitahukan bahwa dia juga sempat ditahan di Rumania karena masalah paspor. (bac/jal)