ANALISIS

Menutup Celah Kelemahan Usai Kemenangan Indonesia di BATC

Putra Permata Tegar Idaman, CNN Indonesia | Senin, 17/02/2020 11:12 WIB
Menutup Celah Kelemahan Usai Kemenangan Indonesia di BATC Indonesia berhasil jadi juara BATC 2020. (Dok. PBSI)
Jakarta, CNN Indonesia -- Evaluasi saat kalah bakal lebih mudah dibandingkan melakukan perbaikan saat menang. Hal itu jauh lebih sulit, namun itulah yang harus dilakukan oleh Indonesia setelah jadi juara Badminton Asia Team Championship (BATC) 2020 demi mengembalikan Piala Thomas yang telah lama hilang.

Indonesia berhasil jadi juara setelah mengalahkan Malaysia dengan skor 3-1 di babak final. Dalam keberhasilan tersebut, poin-poin kemenangan Indonesia dipersembahkan oleh Anthony Ginting, Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon, dan Mohammad Ahsan/Fajar Alfian.

Sebelum menaklukkan Malaysia, Indonesia juga mengalahkan India dengan skor 3-2, Filipina (3-0), dan Korea Selatan (4-1). Empat negara tersebut adalah deret korban keganasan Indonesia selama berlaga di Filipina.


Mengamati perjalanan Indonesia selama di Filipina, Indonesia bukan hanya menampakkan kekuatan, melainkan juga kelemahan. Kehadiran kelemahan yang mencolok ini justru jadi salah satu hal yang patut disyukuri selain keberhasilan meraih trofi.

Sebelum awal keberangkatan, misi Indonesia selain juara adalah menguji formasi yang bakal diterapkan pada Piala Thomas Mei mendatang.

Kevin/Marcus ganda putra Indonesia nomor satu dunia. Kevin/Marcus ganda putra Indonesia nomor satu dunia. (Dok. PBSI)
Indonesia punya kekuatan nyaris seimbang di sektor ganda sehingga tim pelatih patut melakukan sejumlah uji coba di Badminton Asia Team Championship (BATC) 2020. Sedangkan di nomor tunggal, pencarian tunggal ketiga lebih jadi titik berat karena dua tunggal utama pastilah Anthony Ginting dan Jonatan Christie bila keduanya dalam kondisi baik.

Namun yang kemudian terjadi adalah Jonatan tidak mendapatkan performa terbaik di sepanjang gelaran BATC. Jonatan tampil buruk di tiga laga lawan Korea Selatan, India, dan Malaysia sehingga ia selalu kalah dari lawan.

Jonatan yang tampil di Manila bukanlah Jonatan yang biasa dikenal oleh penggemar bulutangkis Indonesia. Permainan Jonatan sering bisa dibaca lawan plus ia terlalu banyak melakukan kesalahan.

Shesar Hiren Rhustavito yang selalu diberi kepercayaan sebagai tunggal ketiga juga belum sepenuhnya meyakinkan.

Suka atau tidak, nomor tunggal Indonesia akan dianggap sebagai nomor yang lebih lemah dibandingkan nomor ganda. Anggapan tersebut bakal ada di benak negara-negara pesaing Indonesia.

Menutup Celah Kelemahan Usai Kemenangan Indonesia di BATC
Piala Thomas bakal jadi medan perang yang lebih sulit. China bakal hadir di sana, Jepang dengan kekuatan penuh juga ada, termasuk Denmark yang punya keuntungan sebagai tuan rumah.

Siap Hadapi Lawan yang Mengacak Formasi

Sebelum fokus menghadapi tim-tim besar, Indonesia harus bersiap menghadapi sejumlah tim kuda hitam macam India dan Taiwan.

Duel dengan tim kuda hitam macam India dan Taiwan ini yang wajib diwaspadai Indonesia. Tim-tim kuda hitam dengan materi pemain tunggal yang cukup mumpuni bisa mempertaruhkan segalanya di nomor tunggal dan membuang partai ganda.

Mohammad Ahsan dipasangkan dengan Fajar Alfian di BATC 2020. (Mohammad Ahsan dipasangkan dengan Fajar Alfian di BATC 2020. (Dok. PBSI)
Bila Indonesia berhadapan dengan tipe negara macam India, lawan punya kemungkinan merangkap pemain tunggal sehingga mereka bisa memanggungkan tiga laga tunggal di empat partai awal. Terlebih, India dan Taiwan punya satu pemain ganda yang cukup berbahaya sehingga komposisi main seperti itu akan menguntungkan mereka.

Kondisi seperti inilah yang bakal jadi tantangan untuk Indonesia. Pemain-pemain tunggal Indonesia harus bisa menjawab tantangan dari lawan. Bila tunggal-tunggal Indonesia tampil apik dan tak goyah dengan strategi lawan, strategi tersebut justru akan dengan cepat menamatkan perjuangan lawan.

Untuk duel lawan tim besar, kecil kemungkinan mereka mengacak formasi. China, Denmark, dan Jepang punya materi yang cukup dalam di nomor tunggal dan ganda sehingga mereka tetap akan tampil dengan formasi biasa.

Tukar Pasangan Indonesia

Indonesia memamerkan salah satu strategi kejutan di final BATC 2020 dengan menampilkan pasangan Mohammad Ahsan/Fajar Alfian.

Ahsan/Fajar berhasil membuktikan Indonesia punya strategi kejutan yang bisa diandalkan. Ahsan/Fajar bahkan mampu jadi penentu kemenangan Indonesia atas Malaysia.

Namun melihat tren yang ada, pasangan dadakan ini kecil kemungkinannya bakal ditampilkan di Piala Thomas. Hal khusus yang membuat strategi dadakan macam itu tampil hanyalah bila ada cedera yang mengganggu pemain ganda Indonesia.

Kevin/Marcus, Ahsan/Hendra, dan Fajar/Rian adalah ganda papan atas dunia. Mereka punya kualitas yang bisa membuat gentar ganda-ganda lain di dunia.

Komposisi ganda Indonesia nanti bakal didasarkan pada head to head lawan terhadap mereka. Indonesia bisa menurunkan kombinasi ganda 1-2 berupa Kevin/Marcus dan Ahsan/Hendra, Kevin/Marcus dan Fajar/Rian, atau Ahsan/Hendra dan Fajar/Rian.

Di atas kertas, formula Indonesia untuk menang adalah mengamankan dua nomor ganda dan mendapat satu angka dari tiga nomor tunggal.

Namun dengan potensi dan kualitas maksimal yang dimiliki pemain tunggal Indonesia, Ginting, Jonatan, Shesar, dan Firman harus percaya mereka bisa berbagi beban membawa Indonesia menang bersama pemain ganda, dengan sama rata. (bac)