Kompetisi sepak bola Indonesia yang baru saja dimulai pada 29 Februari mendapat tekel keras dari pandemi virus corona. Liga 1 dan Liga 2 tak dapat lagi berlanjut, atau setidaknya istirahat sampai setidaknya dua pekan mendatang.
Lihat juga:Berewok Messi Hilang di Masa Isolasi Corona |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jika pandemi virus corona tak mereda, sangat mungkin kompetisi sepak bola di Indonesia akan diliburkan demi semangat keselamatan khalayak, termasuk pesepakbola, fan, dan berbagai pihak lain yang turut ambil bagian dalam penyelenggaraan sebuah pertandingan.
Liga 1 2020 baru berjalan tiga pekan. (ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra) |
Terkait pemasukan atau gaji pemain dalam situasi tidak normal seperti saat ini, klub dan pemain tentu bakal melakukan negosiasi.
Pemain yang membela kesebelasan berduit mungkin hanya kehilangan sedikit dari haknya. Bisa saja si pemain tidak mendapat bonus main atau bonus kemenangan karena memang tidak ada pertandingan yang dilakoni, namun hak dasar pemain seperti gaji tetap dibayar.
![]() |
Tak dipungkiri, tanpa laga berarti cash flow klub terganggu. Uang pemasukan dari penonton di tribune mungkin jumlahnya tak seberapa, tetapi klub jelas bakal merasakan kehilangan lembar-lembar rupiah yang biasanya rutin didapat pada tiap pekan pertandingan.
[Gambas:Video CNN]
Lain uang tiket, beda urusan dengan sponsor. Pemilik merek-merek yang terpampang di kostum pemain atau di papan iklan pinggir lapangan tentu ingin mendapat sorotan yang berimbas pada kesadaran masyarakat untuk membeli produk yang ditampilkan.
Tanpa pertandingan berlangsung secara reguler, berarti segala macam mi instan, batu baterai, kopi, ban, atau produk apapun yang jadi sponsor tak mendapat exposure. Tentu hal ini bakal mengusik si empunya uang. Boleh jadi sponsor bakal menarik uang, namun semua tergantung dari kontrak awal dengan klub.
Jika memang sponsor menarik uang dan klub tak memiliki dana cadangan, situasi jelas kian runyam bagi mereka yang namanya kerap dielu-elukan penonton dari tribune.
Nasib pemain pun kembali terkatung-katung. Seandainya di waktu normal bisa ada tarkam yang menjadi sumber dana cadangan, di kala seperti ini pertandingan antar kampung atau tarikan kampung alias tarkam pun kemungkinan lesu lantaran izin keramaian yang sulit didapat di berbagai daerah.
Isu gaji di tengah masa tak menentu ini bisa kembali ramai, apalagi ada problem penunggakan gaji di Liga 2 yang muncul hampir bertepatan dengan masalah corona yang menyeruak.
Lihat juga:Dua Pemain LA Lakers Positif Corona |
Untuk menjadi besar memang banyak ujian yang harus ditempuh. bisa jadi permasalahan gaji ini menjadi salah satu tes utama kompetisi di Indonesia untuk benar-benar besar dan terkemuka layaknya liga-liga top Asia yang lebih dulu masyhur. (har)
Liga 1 2020 baru berjalan tiga pekan. (ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra)
