Liga Inggris Krisis, Seperti Istana Pasir Disapu Ombak Corona

CNN Indonesia | Kamis, 26/03/2020 13:48 WIB
Liga Inggris Krisis, Seperti Istana Pasir Disapu Ombak Corona Laga Liga Inggris antara Newcastle United vs Bournemouth. (Owen Humphreys/PA via AP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Industri sepak bola termasuk di Eropa mulai mengalami titik nadir. Ambil contoh di Liga Inggris yang konon paling glamor dan kuat secara keuangan, tak luput dari badai pandemi virus corona di dunia.

Industri sepak bola di Liga Inggris bahkan bisa dibilang salah satu yang paling terpukul. Geliat industri itu rupanya begitu rapuh ibarat istana pasir yang disapu ombak pandemi virus corona.

Dampaknya begitu terasa bagi seluruh pelaku sepak bola. Mulai yang paling bawah yaitu level pekerja sektor sampingan di kompetisi itu maupun klub, para pemain, pelatih, ofisial, hingga para investor klub itu sendiri.


Belum lagi usaha-usaha yang biasa bersimbiosis dengan hiruk-pikuk kompetisi macam katering dan laundri, ikut merasakan krisis di industri sepak bola.

Seperti dilaporkan Guardian, klub mulai mengajukan pemotongan gaji para pemain mereka. Klub kasta kedua Liga Inggris Championship, Birmingham City, jadi yang pertama berencana memotong gaji seluruh pemainnya.

Pemain yang mengantongi gaji 6.000 poundsterling atau setara Rp115 juta per pekan, harus rela mendapat pemotongan gaji hingga 50 persen di klub itu.

Laga antara MU vs Tranmere di Piala FA. (Laga antara MU vs Tranmere di Piala FA. (Simon Cooper/PA via AP)
Klub menjanjikan para pemain akan mendapat sisa gaji yang dipotong apabila kompetisi kembali bergulir.

Seperti efek bola salju, kebijakan klub Birmingham itu juga akan diikuti klub-klub lain, tak terkecuali di Premier League.

Mirror melaporkan, Asosiasi Pesepakbola Profesional (PFA) bahkan segera melakukan pertemuan darurat terkait keinginan klub untuk memotong gaji para pemainnya. Pertemuan sebagai tindak lanjut menanggapi aspirasi para pemain yang cemas jika klub-klub berniat memangkas gaji mereka secara besar-besaran.

Pasalnya, klub-klub dari semua kasta Liga Inggris benar-benar terbelit krisis keuangan lantaran kompetisi mati suri.

Liga Inggris Krisis, Seperti Istana Pasir Disapu Ombak Corona
Klub-klub di kasta ketiga Liga Inggris, League One, seperti Gillingham, Peterborough, dan Tranmere, bahkan di ambang kepailitan. Mereka amat kesulitan membayar gaji para pemainnya.

Presiden Peterborough, Darragh McAnthony, sampai berharap klub-klub Liga Inggris memberikan bantuan kepada klub-klub di liga kasta di bawah mereka.

PFA yang melakukan pertemuan dengan pihak Premier League dan Championship pada Senin (23/3), seolah tak bisa berbuat banyak terkait solusi pemotongan hingga penangguhan gaji para pesepakbola. Sumber dari Mirror menyebutkan mereka meminta bantuan dari pendanaan darurat untuk mengatasi krisis tersebut.

Liga Inggris Krisis, Seperti Istana Pasir Disapu Ombak Corona
"Sebagai industri, krisis Covid-19 saat ini berdampak besar terhadap keuangan di pertandingan. Sejumlah klub sudah melobi para pemain agar gaji mereka ditangguhkan terlebih dahulu," demikian pernyataan resmi dari PFA.

Klub-klub Premier League yang awalnya diperkirakan imun, rupanya menghadapi ancaman kerugian besar lantaran kompetisi berhenti.

Dilansir dari Daily Mail, klub-klub bakal kehilangan pemasukan lebih dari 70 juta poundsterling (Rp1,3 triliun) dari sumber hak siar.

Pasalnya, pemegang hak siar seperti Sky Sport juga mengalami kerugian besar. Perusahaan penyiaran olahraga itu bahkan mulai menawarkan para pelanggannya menghentikan sementara opsi berlangganan. Itu membuat pendapatan mereka dari iklan terjun bebas.

Kerugian cukup besar juga bisa dialami klub-klub Premier League dari sumber tiket penonton. Contohnya klub raksasa Manchester United.


Dilansir dari Mirror, potensi kerugian Setan Merah bisa mencapai 6 juta poundsterling (Rp115 miliar) dari tiket terusan jika laga-laga sisa Liga Inggris musim ini dibatalkan atau digelar tanpa penonton. Klub harus mengembalikan uang tiket tersebut kepada para fan yang sudah membayar tiket terusan selama satu musim.

Sejumlah klub di Premier League bahkan dilaporkan Telegraph berencana mengajukan pemangkasan hingga penangguhan gaji kepada para pemain. Besaran pemotongan pun bisa mencapai 50 persen.

Sialnya, tak ada yang tahu pasti badai pandemi corona bakal berakhir. (bac/bac)