Industri sepak bola di Liga Inggris bahkan bisa dibilang salah satu yang paling terpukul. Geliat industri itu rupanya begitu rapuh ibarat istana pasir yang disapu ombak pandemi virus corona.
Dampaknya begitu terasa bagi seluruh pelaku sepak bola. Mulai yang paling bawah yaitu level pekerja sektor sampingan di kompetisi itu maupun klub, para pemain, pelatih, ofisial, hingga para investor klub itu sendiri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Laga antara MU vs Tranmere di Piala FA. (Simon Cooper/PA via AP) |
Seperti efek bola salju, kebijakan klub Birmingham itu juga akan diikuti klub-klub lain, tak terkecuali di Premier League.
Pasalnya, klub-klub dari semua kasta Liga Inggris benar-benar terbelit krisis keuangan lantaran kompetisi mati suri.
![]() |
Presiden Peterborough, Darragh McAnthony, sampai berharap klub-klub Liga Inggris memberikan bantuan kepada klub-klub di liga kasta di bawah mereka.
PFA yang melakukan pertemuan dengan pihak Premier League dan Championship pada Senin (23/3), seolah tak bisa berbuat banyak terkait solusi pemotongan hingga penangguhan gaji para pesepakbola. Sumber dari Mirror menyebutkan mereka meminta bantuan dari pendanaan darurat untuk mengatasi krisis tersebut.
Klub-klub Premier League yang awalnya diperkirakan imun, rupanya menghadapi ancaman kerugian besar lantaran kompetisi berhenti.
Dilansir dari Daily Mail, klub-klub bakal kehilangan pemasukan lebih dari 70 juta poundsterling (Rp1,3 triliun) dari sumber hak siar.
Pasalnya, pemegang hak siar seperti Sky Sport juga mengalami kerugian besar. Perusahaan penyiaran olahraga itu bahkan mulai menawarkan para pelanggannya menghentikan sementara opsi berlangganan. Itu membuat pendapatan mereka dari iklan terjun bebas.
Kerugian cukup besar juga bisa dialami klub-klub Premier League dari sumber tiket penonton. Contohnya klub raksasa Manchester United.
Dilansir dari Mirror, potensi kerugian Setan Merah bisa mencapai 6 juta poundsterling (Rp115 miliar) dari tiket terusan jika laga-laga sisa Liga Inggris musim ini dibatalkan atau digelar tanpa penonton. Klub harus mengembalikan uang tiket tersebut kepada para fan yang sudah membayar tiket terusan selama satu musim.
Sejumlah klub di Premier League bahkan dilaporkan Telegraph berencana mengajukan pemangkasan hingga penangguhan gaji kepada para pemain. Besaran pemotongan pun bisa mencapai 50 persen.
Sialnya, tak ada yang tahu pasti badai pandemi corona bakal berakhir. (bac/bac/bac)
Laga antara MU vs Tranmere di Piala FA. (Simon Cooper/PA via AP)
