Salah satu yang kini banting setir dari profesi pesepakbola adalah Muhammad Tahir. Gelandang klub Persipura Jayapura itu mengaku memilih kembali melaut menjadi nelayan agar dapur tetap mengepul.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tahir merasa beruntung memiliki beberapa pilihan aktivitas. Selain bisa mencari ikan, ia juga dapat menjaga toko suvenir orang tuanya yang menjual berbagai barang khas Papua, mulai dari koteka, tas noken, tifa, gelang dan banyak ada baju khas Papua.
"Tapi omset sekarang menurun soalnya kan tidak ada tamu. Biasanya ada tamu dari luar [negeri], ada yang pesan banyak juga. Sekarang karena lockdown jadi tidak ramai seperti kemarin, sepi," ungkap Tahir.
Muhammad Tahir merasa bersyukur meski mendapat pemotongan gaji karena corona. (ANTARA FOTO/Saiful Bahri) |
Karena itu, jauh-jauh hari ia sudah berkomunikasi dan memberikan pengertian kepada sang istri, Ayu Dwi Ariyani, supaya lebih berhemat dalam menggunakan uang di masa sulit seperti ini.
"Sebelum PSSI bilang kompetisi vakum, saya sudah ada pikiran. Jadi saya komunikasi sama istri supaya uang tabungan yang ada diatur bagaimana baiknya. Pemasukan utama saya dari gaji sebagai pemain, jadi vakum ini bermasalah banget karena pemasukan tergantung sama sepak bola," ucap Tahir.
[Gambas:Video CNN]
Sebagai pemain, Tahir juga harus menerima keputusan pemotongan gaji yang dikeluarkan PSSI. Namun, dibanding memikirkan dirinya sendiri, Tahir justru memikirkan nasib teman-teman sesama pemain lain yang mungkin tidak seberuntung dirinya.
"Kalau 'atas' maunya begitu [maksimal 25 persen gaji dari nilai kontrak] mau enggak mau harus terima. Kasihan kalau teman-teman yang gajinya rendah, terima 25 persen mereka mau bertahan hidup bagaimana," tutur Tahir.
Tahir mengaku saat ini rasa jenuh sudah mulai menghampirinya. Terkadang, rasa rindu bisa berlatih dan bercanda dengan teman satu tim dan seniornya di Persipura juga sering melanda.
![]() |
Aparat kepolisian juga terus berpatroli setiap malam memantau supaya tidak ada masyarakat yang berkumpul demi menyetop penyebaran virus corona di ujung timur Indonesia itu.
"Rindu latihan, rindu bercanda sama senior. Lokasinya jauh-jauh, yang dekat sama Valdo [Osvaldo Haay], sering ketemu tapi tetap jaga jarak dan ikut aturan," ujar Tahir.
"Penyebaran virus ini bisa berhenti tergantung kita. Kalau tidak mau virus ini lama, ya kita dulu harus berbuat. Taati aturan, stay at home. Di rumah saja tidak usah berkeliaran. Jaga diri, jaga kondisi," tuturnya. (ttf/jun)
Muhammad Tahir merasa bersyukur meski mendapat pemotongan gaji karena corona. (ANTARA FOTO/Saiful Bahri)
