Menggemari bulutangkis dan mengagumi Roberto Baggio sejak kecil. Pernah bekerja di harian Top Skor dan Jakarta Globe. Kini menjadi penulis di kanal olahraga CNN Indonesia
KOLOM
Simpati untuk Pendukung Liverpool yang Dianggap Menyebalkan
Putra Permata Tegar Idaman | CNN Indonesia
Minggu, 12 Apr 2020 19:10 WIB
Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNNIndonesia.com
Jakarta, CNN Indonesia -- Saya ingat dulu punya teman sewaktu kecil. Seringkali dia pasang plester di hidungnya ketika main sepak bola. Oh, tak lama kemudian saya sadar bahwa dia mengikuti gaya Robbie Fowler, striker tenar Liverpool era 90-an.Ada lagi teman saya yang meng-Owen-kan diri saat bermain sepak bola. Ia bermain dengan mengandalkan lari cepat dan bahagia ketika disebut seperti Michael Owen, striker mungil Liverpool yang punya kecepatan rata-rata.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Robbie Fowler dan Michael Owen adalah dua ikon Liverpool di era 90-an. (AFP/ODD ANDERSEN) |
Para pendukung Liverpool tetap bangga atas tim kesayangan mereka sambil sesekali melontarkan sindiran atau ejekan terhadap kemampuan manajemen 'The Reds' dalam membentuk tim tangguh.
Namun sepertinya hal itu tidak hanya berlaku di Indonesia saja, melainkan seluruh dunia. Pendukung Liverpool seolah memiliki karakter yang serupa.
Dalam situasi sulit dan penuh tekanan seperti itu, pendukung Liverpool masih berani menampakkan diri terang-terangan.
Momen Steven Gerrard terpeleset dan membuat Liverpool gagal juara di Liga Inggris pada 2014 masih sering dijadikan bahan ejekan. (AFP PHOTO / PAUL ELLIS) |
Saya melihat militansi pendukung Liverpool, setidaknya di dunia twitter, tidak bisa diimbangi oleh pendukung tim-tim lain. Penggemar Manchester United yang timnya melempem dalam beberapa tahun terakhir seolah lebih banyak tiarap dan menelan kenyataan pahit. Pun begitu halnya pendukung Arsenal yang dianggap lebih pasrah soal jadi tim yang hanya berburu peringkat keempat.
Pendukung Barcelona yang Lionel Messi-nya kesulitan memimpin Barcelona jadi juara Liga Champions tidak lagi segalak awal-awal dekade 2010-an ketika banyak pendukung Barcelona bermunculan dimana-mana.
Tak Layak Menggugat Liverpool
Kehadiran Jurgen Klopp di Liverpool jadi titik awal kebangkitan tim Merseyside tersebut. Pemilik Liverpool yang sebelumnya terus mendapat kecaman dari suporter karena tidak memiliki kebijakan mempertahankan bintang, tak lagi banyak mendapat serangan.
Manajemen Liverpool menjanjikan kebebasan pembelian pada Klopp dan Klopp menunjukkan pembelian yang bertahap dan punya visi ke depan. Bukan sekadar pembelian jor-joran menghabiskan uang banyak untuk mengharap hasil instan.
Klopp mengumpulkan satu per satu pemain yang dinilai bisa menjalankan filosofi bermain miliknya hingga akhirya terbentuk Liverpool yang ada dalam dua musim terakhir. Melihat skuat Liverpool saat ini seolah melihat tim 'dream team' padahal Liverpool saat ini adalah tim yang dibangun perlahan sehingga memiliki potensi untuk menjadi sebuah dinasti yang punya kekuasaan dalam waktu lama.
Jurgen Klopp sukses membuat Liverpool jadi tim yang punya kekuatan menakutkan. (AP Photo/Rui Vieira) |
Mayoritas pemain di dalamnya berkembang seiring meningkatnya kualitas Liverpool, bukan ala Los Galacticos Real Madrid di era 2000-an yang memang mengumpulkan pemain-pemain terbaik yang ada di muka bumi saat itu.
Dalam dua musim terakhir, Liverpool sudah menunjukkan potensi untuk jadi tim yang bisa berkuasa dalam waktu lama. Namun musim lalu, Liverpool kembali jadi sasaran ejekan karena 97 poin yang mereka kumpulkan hanya mengantar mereka jadi runner up, selisih satu poin dari Manchester City yang keluar jadi juara.
Liverpool dan pendukungnya kembali jadi bahan tertawaan, bahkan oleh pendukung tim lain yang posisinya jauh di bawah 'The Reds'. Namun setidaknya senyum masih menghias pendukung Liverpool karena mereka mampu jadi juara Liga Champions disusul Piala Super Eropa dan Piala Dunia Antarklub beberapa bulan berikutnya.
Tajuk yang ada di dunia sepak bola saat ini seolah 'Liverpool vs The World' karena orang-orang di luar pendukung Liverpool seolah senang bila melihat Liverpool gagal juara, tak peduli kondisi tim kesayangan mereka sendiri.
Liverpool sendiri seolah tidak berjodoh dengan Liga Inggris era Premier League. Mereka belum pernah jadi juara era Premier League dan terakhir kali jadi Raja Inggris pada tahun 1990. Kegagalan itulah yang kemudian masih jadi cemoohan oleh pendukung tim lain. Kegagalan itulah yang kemudian diharapkan pendukung tim lain terus dilestarikan oleh Liverpool.
Dalam kondisi belum juara ini pun, sesumbar-sesumbar pendukung Liverpool sudah terdengar. Mereka tak lagi hanya berharap juara Liga Inggris melainkan 'invincible season' dan treble.
Ketika Liverpool kalah dari Watford, suara-suara anti-Liverpool yang tertahan cukup lama, akhirnya bisa keluar. Kekalahan dari Watford tersebut tak mengganggu jalan Liverpool menuju tangga juara namun setidaknya mereka yang anti-Liverpool tidak sampai harus melihat 'The Reds' juara dengan catatan tak terkalahkan.
Saat Liverpool tersingkir di Piala FA dan Liga Champions dalam waktu berdekatan, sorakan mereka yang anti-Liverpool juga makin nyaring. Mereka seolah bersyukur Liverpool hanya akan mendapat satu gelar musim ini, yaitu Liga Inggris karena mereka tak bisa membayangkan betapa berisiknya pendukung Liverpool bisa berhasil meraih treble.
Keberhasilan Atletico mengalahkan Liverpool membuat gembira mereka yang tak menyukai kesuksesan Liverpool. (AP/Jon Super) |
Ketika Liverpool hanya berjarak enam poin dari gelar juara Liga Inggris, pandemi Corona melanda dunia. Liga Inggris dihentikan sesaat namun hingga kini belum jelas kapan dimulai.
Dari hitungan di atas kertas, hanya Manchester City yang masih sanggup mengejar Liverpool meskipun hal itu sangat sulit. Sedangkan 17 tim lainnya dipastikan tidak mungkin menyusul Liverpool.
Karena itu aneh bila melihat usulan agar kompetisi Liga Inggris musim ini dianggap tidak ada dan dihanguskan, terlebih bila komentar itu muncul dari pihak-pihak yang sudah kalah dalam perang perburuan gelar musim ini.
Tidak adil rasanya untuk Liverpool bila Liga Inggris memutuskan menghanguskan kompetisi musim ini dengan alasan agar kompetisi musim depan bisa bergulir tepat waktu. Penghentian kompetisi baru terasa adil bila FA menobatkan Liverpool sebagai juara dan melakukan penyesuaian lain perihal jatah zona Liga Champions dan sistem promosi-degradasi.
Liverpool di era Klopp punya potensi untuk jadi tim yang dikenang sepanjang sejarah. (AP Photo/Hassan Ammar) |
Sebagai orang yang tak memiliki klub favorit, saya berharap bisa menyaksikan Liverpool jadi juara Liga Inggris musim ini. Saya berharap pandemi Corona segera berakhir sehingga kompetisi Liga Inggris dan agenda olahraga lainnya di dunia bisa kembali bergulir seperti biasa.
Soal nantinya pendukung Liverpool bakal sombong dan menepuk dada ketika melihat tim kesayangan mereka juara, cukuplah menganggap itu sebagai salah satu hal yang membuat dunia olahraga makin berwarna. (har)
[Gambas:Video CNN]
Robbie Fowler dan Michael Owen adalah dua ikon Liverpool di era 90-an. (AFP/ODD ANDERSEN)
Momen Steven Gerrard terpeleset dan membuat Liverpool gagal juara di Liga Inggris pada 2014 masih sering dijadikan bahan ejekan. (AFP PHOTO / PAUL ELLIS)
Jurgen Klopp sukses membuat Liverpool jadi tim yang punya kekuatan menakutkan. (AP Photo/Rui Vieira)
Keberhasilan Atletico mengalahkan Liverpool membuat gembira mereka yang tak menyukai kesuksesan Liverpool. (AP/Jon Super)
Liverpool di era Klopp punya potensi untuk jadi tim yang dikenang sepanjang sejarah. (AP Photo/Hassan Ammar)