Demikian diungkapkan Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi (Kabid Binpres) PP PBSI, Susi Susanty, saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (28/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kevin/Marcus sudah dipastikan lolos ke Olimpiade 2020. (CNN Indonesia/Andry Novelino) |
Salah satu ketentuan yang dibuat yakni pemberian poin buat pemain China dan Hong Kong yang batal tampil di kejuaraan Badminton Asia Team Championships 2020 (BATC) di Manila, Filipina, pada Februari lalu akibat peraturan pembatasan perjalanan akibat Covid-19 dari pemerintah tuan rumah.
[Gambas:Video CNN]
Jika tim Tiongkok dan Hong Kong mendapatkan poin dari BAMTC 2021, mereka juga akan mendapat poin untuk pemain ganda campuran. Sedangkan mereka yang bertanding di BATC 2020 tidak mendapat poin ini karena nomor ganda campuran tidak dimainkan di BATC 2020 mengingat format yang berlaku adalah format Piala Thomas dan Uber.
"Kalau pemberian poin untuk tim Tiongkok dan Hong Kong karena tidak ikut BATC 2020 itu tidak masalah, yang jadi perhatian adalah mereka akan dapat poin dari BAMTC 2021 yang ada nomor ganda campurannya. Ini menjadi tidak fair untuk negara-negara lain," kata Bambang Roedyanto, Kasubid Hubungan Internasional PP PBSI.
"Kami telah minta penjelasan dari BWF mengenai hal ini, dari keterangan BWF tidak dijelaskan apakah poin ganda campurannya dihitung atau tidak, hanya ada statement akan mendapat poin dari BAMTC 2021 yang di dalamnya ada nomor ganda campuran. Makanya kami tidak mau ada salah pengertian dan masih menunggu jawaban dari BWF," tutur Rudy.
Posisi Tang/Tse berada satu tingkat di bawah wakil Indonesia, Hafiz/Gloria yang harus mempertahankan posisinya setidaknya di delapan besar agar bisa merebut tiket Olimpiade.
Hingga kini PBSI bersifat proaktif untuk memastikan jadwal baru dan ketentuan kualifikasi Olimpiade 2020 dari BWF (Badminton World Federation). Sedikitnya ada dua poin yang belum rinci dijelaskan BWF.
Sebagai contoh, Turnamen India yang dijadwalkan digelar 11-16 Agustus mendatang. Sementara kasus Covid-19 di India belum selesai hingga saat ini.
"Apakah ada jaminan kesehatan dan keamanan buat peserta yang datang jangan sampai terjadi apa-apa. Siap tidak tuan rumah, jangan sampai nanti di menit-menit akhir dibatalkan, jadi kacau balau. Banyak yang harus dipertimbangkan," ucapnya.
Pembatalan di menit akhir bakal merugikan semua pihak terutama kontestan yang sudah mempersiapkan diri dari jauh hari. Pembuatan visa, akomodasi penginapan, tiket pesawat, dan lainnya bakal jadi beban.
"Kalau dibatalkan mendadak, maka tiket dan lainnya tidak bisa di-refund dan hangus. Siapa yang akan bertanggung jawab? Diyakinkan dulu, tuan rumah penyelenggara, siap tidak? Apalagi kita [Indonesia] tidak bisa masuk ke 63 negara yang tidak menerima kita, harus fair juga. Banyak hal yang harus didiskusikan, makanya kami pro aktif," jelasnya. (ttf/jun)
Kevin/Marcus sudah dipastikan lolos ke Olimpiade 2020. (CNN Indonesia/Andry Novelino)