LeBron James, Michael Jordan, dan Kematian George Floyd

CNN Indonesia | Jumat, 29/05/2020 10:47 WIB
CHARLOTTE, NC - APRIL 28: LeBron James #6 of the Miami Heat hugs Michael Jordan after defeating the Charlotte Bobcats 109-98 in Game Four of the Eastern Conference Quarterfinals during the 2014 NBA Playoffs at Time Warner Cable Arena on April 28, 2014 in Charlotte, North Carolina. NOTE TO USER: User expressly acknowledges and agrees that, by downloading and or using this photograph, User is consenting to the terms and conditions of the Getty Images License Agreement.   Streeter Lecka/Getty Images/AFP LeBron James dan Michael Jordan. (AFP/STREETER LECKA)
Jakarta, CNN Indonesia -- LeBron James kembali bersuara dengan mengecam polisi terkait kematian pria kulit hitam bernama George Floyd di Minneapolis, Amerika Serikat.

LeBron lewat unggahan di Instagram dua kali mengkritik kepolisian di Minneapolis terkait kematian Floyd.

Unggahan pertama pemain Los Angeles Lakers itu menampilkan foto anggota polisi yang menginjak leher Floyd menggunakan lutut, berdampingan dengan foto mantan pemain NFL Colin Kaepernick sedang berlutut yang sempat viral beberapa tahun lalu.


"Ini...sebabnya. Apakah kalian sekarang mengerti? Atau masih tetap samar di pikiran kalian? #StayWoke," tulis LeBron dalam caption foto.

[Gambas:Instagram]
Dikutip dari CNN, foto tersebut memiliki arti LeBron ingin masyarakat AS mengerti apa yang diperjuangkan Kaepernick pada NFL musim 2016. Ketika itu Kaepernick yang masih memperkuat San Francisco 49ers memilih berlutut saat lagu kebangsaan Amerika Serikat berkumandang.

Kaepernick berlutut sebagai bentuk protes kekerasan terhadap masyarakat kulit hitam di AS. Sejak saat itu tidak ada klub NFL yang mau merekrut Kaepernick.

Unggahan kedua LeBron adalah fotonya dirinya mengenakan kaus dengan tulisan 'I Can't Breath' atau 'Saya tidak bisa bernapas' saat pemanasan pertandingan NBA. Kaus itu digunakan LeBron pada 2014 sebagai bentuk protes kematian pria kulit hitam Eric Garner di tangan anggota polisi Daniel Pantaleo. Ketika itu Garner meninggal setelah dicekik Pantaleo hingga tidak bisa bernapas.

Suara LeBron

LeBron konsisten mengeluarkan suara kritikan terhadap polisi dan pemerintah AS. Mantan pemain Miami Heat dan Cleveland Cavaliers itu tidak takut mengomentari isu sosial.

Sebelumnya, LeBron memberi komentar terkait penembakan pemuda kulit hitam Trayvon Martin dan Michael Brown, serta Garner yang meninggal karena tercekik Pantaleo saat ingin ditahan pada Juli 2014.

[Gambas:Video CNN]
Sebelum kematian Floyd, LeBron mengomentari penembakan pemuda kulit hitam Ahmaud Arbery hingga meninggal saat sedang melakukan jogging di Brunswick, Georgia, Februari 2020. LeBron menuntut keadilan untuk keluarga Arbery.

Sikap LeBron ini membuatnya dianggap sebagai atlet yang lebih hebat daripada Michael Jordan, setidaknya dari isu sosial, terutama ketidakadilan terhadap masyarakat kulit hitam. LeBron tidak khawatir mendapat kritikan dari masyarakat, penggemar, atau kehilangan sponsor karena sikapnya.

Jordan, yang dianggap sebagai atlet bola basket terhebat sepanjang sejarah, sempat mendapat kritikan karena sikap politik. Pada 1990, Jordan menolak memberi dukungan untuk Harvey Gantt yang bersaing dengan politikus kulit putih Partai Republik Jesse Helms untuk menjadi Senator North Carolina.

Gantt yang merupakan politikus kulit hitam Partai Demokrat, meminta Jordan untuk memberinya dukungan. Namun, Jordan menolak meski sudah diminta langsung oleh sang ibu, Deloris. Jordan menolak memberi dukungan kepada Gantt karena tidak ingin kerja sama dengan Nike rusak.

"Orang-orang pendukung Partai Republik juga membeli sepatu [Nike]," ujar Jordan ketika itu.

Tindakan Jordan membuat mantan pemain Chicago Bulls itu mendapat kecaman. Jordan dianggap tidak peduli dengan kekerasan terhadap masyarakat kulit hitam, terutama Helms dikenal sebagai sosok rasial.

Dalam dokumenter 'The Last Dance', Jordan mengakui pernah mengatakan "Orang-orang pendukung Partai Republik juga membeli sepatu" dan tidak mau mengkoreksi ucapannya. Jordan, sebagai atlet, mengatakan tidak mau terlibat dalam masalah politik. (har/har)