Manchester United bakal bertandang ke markas Manchester City dalam kondisi yang tidak pas. (AP/Peter Powell).
Jakarta, CNN Indonesia --
Manchester City vs Manchester United jadi tajuk besar Liga Inggris pekan ke-28 akhir pekan ini. Tapi Setan Merah bukan ujian berat buat The Citizens yang lagi gila-gilanya.
Derby Manchester tersaji di Stadion Etihad, Minggu (7/3) malam. Big match kali ini terasa jomplang. Apalagi kalau bukan masalah perbedaan performa kedua rival di musim ini.
Duo Manchester ini memang berada di jajaran top klasemen Liga Inggris. Manchester biru di puncak, sedangkan saudaranya di posisi kedua.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tapi perbedaan poin kedua tim sangat mencolok. Anak asuh Pep Guardiola punya 65 poin, sedangkan Red Devils 51 poin. Artinya ada gap 14 angka memisahkan keduanya.
Performa apik Man City tak lepas dari perubahan taktik yang diusung Pep. Tak ada lagi main bola-bola pendek dan menguasai penguasaan bola, tapi tak mampu efektif di muka gawang lawan.
Pep tak lagi sering mengandalkan striker murni di depan. Eks pelatih Barcelona dan Bayern Munchen itu kini mulai sering memakai false nine.
Alasannya simpel, pemain-pemain seperti Phil Foden ataupun Ilkay Gundogan yang jadi 'striker palsu' itu bisa bebas bergerak dan memancing bek lawan mengikuti pergerakannya yang membuka ruang atau celah di pertahanan musuh.
Sementara dua penyerang sayap dan para gelandangnya akan turut agresif bergerak tanpa bola di lini kedua pertahanan musuh untuk memecah fokus pemain-pemain bertahan lawan.
Pun di lini pertahanan, Pep juga mengubah pendekatan taktiknya. Tak ada lagi cerita lini belakang mereka keropos di seperti musim lalu. Pep sadar kemenangan bisa didapat jika mereka juga tak mudah kebobolan.
Pep pun mulai menekankan keseimbangan antara depan, tengah, dan belakang yang bisa bertransformasi sesuai kebutuhan.
Turun dengan formasi dasar 4-3-3, anak asuhnya kemudian bertransformasi menjadi 3-2-2-3 atau 3-4-3 ketika menyerang.
Pep Guardiola berhasil melakukan perubahan taktik pada Manchester City. (Martin Rickett/Pool via AP).
Kemudian ketika bertahan, Man City kembali ke formasi dasar 4-3-3. Dimana empat bek mereka akan mendapat bantuan tiga pemain dari lini tengah. Sementara tiga pemain depannya juga aktif turun ke lini kedua untuk menjadi pelindung pertama dari serangan musuh.
Perubahan taktik ini yang membawa efektivitas Man City di musim ini. Sejak kalah dari Tottenham Hotspur pada 21 November tahun lalu, Man City sudah 28 laga tak pernah kalah di semua kompetisi, 21 di antaranya merupakan kemenangan beruntun.
Sementara di Liga Inggris, mereka cuma dua kali bermain seri sejak kalah dari Spurs itu, dan selalu meraih tiga poin dalam 17 laga lainnya (15 di antaranya kemenangan beruntun).
Tentu saja semua itu jadi modal sangat buat Man City menghadapi laga Derby Man United. Jika berkaca dari situ, rasanya Man Utd bukan ujian berat buat Raheem Sterling cs kali ini.
Di sisi lain, Man Utd tengah inkonsisten lagi. Mereka seperti kepayahan dalam persaingan menuju juara.
Setan Merah bahkan dalam delapan laga Liga Inggris terakhir cuma menang dua kali dan sekali kalah. Lima laga lainnya berakhir seri.
Sekali kalah dan lima seri itu jelas saja membuat gap poin dengan Man City makin lebar. Kini mereka tertinggal 14 angka di belakang Man City.
Salah satu faktor menurunnya performa Harry Maguire cs itu karena taktik Ole Gunnar Solskjaer yang mulai usang. Penerapan taktik Solskjaer belakangan mulai bisa diantisipasi tim-tim lawan.
Manchester City bisa memangsa empuk Manchester United akhir pekan ini jika menilik performa kedua tim. (AP/Peter Powell).
Sebabnya, Solskjaer tak mengubah pendekatan taktiknya seperti yang dilakukan Pep. Pakem 4-2-3-1 selama ini terlalu kaku dan monoton.
Selama ini Solskjaer selalu mengandalkan serangan balik saat mendapat kesempatan. Dalam prosesnya, upaya serangan balik itu bisa diantisipasi jika mematikan pergerakan Marcus Rashford atau Mason Greenwood yang punya kecepatan.
Musuh juga bisa mematikan Bruno Fernandes yang selama ini menjadi pengalir bola ke depan.
Ketidakmampuan Solskjaer dalam mengembangkan fleksibilitas taktik itu jelas berdampak minor pada hasil-hasil yang didapat.
Parahnya lagi, ruang ganti Man Utd kini diterpa isu perpecahan. Kapten Maguire dilaporkan bersitegang dengan Rashford di laga terakhir mereka.
Saat ditahan imbang Crystal Palace, Kamis (4/3) dini hari WIB, keduanya terlibat cekcok mulut. Rashford tak terima disemprot Maguire.
Maguire kedapatan melontarkan umpatan karena Rashford yang tetap menyundul bola dalam posisi offside saat Man Utd tengah berupaya mencitpakan peluang.
Jelas cekcok kedua pemain inti Man Utd itu mengganggu keharmonisan tim jelang lawan Man City. Perdebatan itu juga menjadi gambaran bagaimana Man Udt frustasi untuk mencari kemenangan demi memangkas gap poin dengan Man City.
Di tengah situasi ini, seperti yang sudah disinggung sebelumnya, sulit bagi Man Utd menjadi batu sandungan buat Man City. Bahkan bukan tak mungkin, Man Utd jadi korban The Citizens yang ke-22.
Jakarta, CNN Indonesia --
Manchester City vs Manchester United jadi tajuk besar Liga Inggris pekan ke-28 akhir pekan ini. Tapi Setan Merah bukan ujian berat buat The Citizens yang lagi gila-gilanya.
Derby Manchester tersaji di Stadion Etihad, Minggu (7/3) malam. Big match kali ini terasa jomplang. Apalagi kalau bukan masalah perbedaan performa kedua rival di musim ini.
Duo Manchester ini memang berada di jajaran top klasemen Liga Inggris. Manchester biru di puncak, sedangkan saudaranya di posisi kedua.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tapi perbedaan poin kedua tim sangat mencolok. Anak asuh Pep Guardiola punya 65 poin, sedangkan Red Devils 51 poin. Artinya ada gap 14 angka memisahkan keduanya.
Performa apik Man City tak lepas dari perubahan taktik yang diusung Pep. Tak ada lagi main bola-bola pendek dan menguasai penguasaan bola, tapi tak mampu efektif di muka gawang lawan.
Pep tak lagi sering mengandalkan striker murni di depan. Eks pelatih Barcelona dan Bayern Munchen itu kini mulai sering memakai false nine.
Alasannya simpel, pemain-pemain seperti Phil Foden ataupun Ilkay Gundogan yang jadi 'striker palsu' itu bisa bebas bergerak dan memancing bek lawan mengikuti pergerakannya yang membuka ruang atau celah di pertahanan musuh.
Sementara dua penyerang sayap dan para gelandangnya akan turut agresif bergerak tanpa bola di lini kedua pertahanan musuh untuk memecah fokus pemain-pemain bertahan lawan.
Pun di lini pertahanan, Pep juga mengubah pendekatan taktiknya. Tak ada lagi cerita lini belakang mereka keropos di seperti musim lalu. Pep sadar kemenangan bisa didapat jika mereka juga tak mudah kebobolan.
Pep pun mulai menekankan keseimbangan antara depan, tengah, dan belakang yang bisa bertransformasi sesuai kebutuhan.
Turun dengan formasi dasar 4-3-3, anak asuhnya kemudian bertransformasi menjadi 3-2-2-3 atau 3-4-3 ketika menyerang.
Pep Guardiola berhasil melakukan perubahan taktik pada Manchester City. (Martin Rickett/Pool via AP).
Kemudian ketika bertahan, Man City kembali ke formasi dasar 4-3-3. Dimana empat bek mereka akan mendapat bantuan tiga pemain dari lini tengah. Sementara tiga pemain depannya juga aktif turun ke lini kedua untuk menjadi pelindung pertama dari serangan musuh.
Perubahan taktik ini yang membawa efektivitas Man City di musim ini. Sejak kalah dari Tottenham Hotspur pada 21 November tahun lalu, Man City sudah 28 laga tak pernah kalah di semua kompetisi, 21 di antaranya merupakan kemenangan beruntun.
Sementara di Liga Inggris, mereka cuma dua kali bermain seri sejak kalah dari Spurs itu, dan selalu meraih tiga poin dalam 17 laga lainnya (15 di antaranya kemenangan beruntun).
Tentu saja semua itu jadi modal sangat buat Man City menghadapi laga Derby Man United. Jika berkaca dari situ, rasanya Man Utd bukan ujian berat buat Raheem Sterling cs kali ini.
Taktik Usang Ole
Taktik Ole Gunnar Solskjaer mulai terbaca lawan. (AP/Peter Powell).
Di sisi lain, Man Utd tengah inkonsisten lagi. Mereka seperti kepayahan dalam persaingan menuju juara.
Setan Merah bahkan dalam delapan laga Liga Inggris terakhir cuma menang dua kali dan sekali kalah. Lima laga lainnya berakhir seri.
Sekali kalah dan lima seri itu jelas saja membuat gap poin dengan Man City makin lebar. Kini mereka tertinggal 14 angka di belakang Man City.
Salah satu faktor menurunnya performa Harry Maguire cs itu karena taktik Ole Gunnar Solskjaer yang mulai usang. Penerapan taktik Solskjaer belakangan mulai bisa diantisipasi tim-tim lawan.
Manchester City bisa memangsa empuk Manchester United akhir pekan ini jika menilik performa kedua tim. (AP/Peter Powell).
Sebabnya, Solskjaer tak mengubah pendekatan taktiknya seperti yang dilakukan Pep. Pakem 4-2-3-1 selama ini terlalu kaku dan monoton.
Selama ini Solskjaer selalu mengandalkan serangan balik saat mendapat kesempatan. Dalam prosesnya, upaya serangan balik itu bisa diantisipasi jika mematikan pergerakan Marcus Rashford atau Mason Greenwood yang punya kecepatan.
Musuh juga bisa mematikan Bruno Fernandes yang selama ini menjadi pengalir bola ke depan.
Ketidakmampuan Solskjaer dalam mengembangkan fleksibilitas taktik itu jelas berdampak minor pada hasil-hasil yang didapat.
Parahnya lagi, ruang ganti Man Utd kini diterpa isu perpecahan. Kapten Maguire dilaporkan bersitegang dengan Rashford di laga terakhir mereka.
Saat ditahan imbang Crystal Palace, Kamis (4/3) dini hari WIB, keduanya terlibat cekcok mulut. Rashford tak terima disemprot Maguire.
Maguire kedapatan melontarkan umpatan karena Rashford yang tetap menyundul bola dalam posisi offside saat Man Utd tengah berupaya mencitpakan peluang.
Jelas cekcok kedua pemain inti Man Utd itu mengganggu keharmonisan tim jelang lawan Man City. Perdebatan itu juga menjadi gambaran bagaimana Man Udt frustasi untuk mencari kemenangan demi memangkas gap poin dengan Man City.
Di tengah situasi ini, seperti yang sudah disinggung sebelumnya, sulit bagi Man Utd menjadi batu sandungan buat Man City. Bahkan bukan tak mungkin, Man Utd jadi korban The Citizens yang ke-22.